Oleh: Komarudin Kudiya
Kondisi batik Indonesia hari ini terus menghadapi tekanan besar dari maraknya kain printing impor bercorak batik yang membanjiri pasar nasional. Muncul sebuah gagasan kuat dari perajin pesisir Pekalongan, Suprapto atau akrab disapa Mas Oot. Gagasan itu dikenal sebagai Gerakan 321, sebuah ajakan sederhana namun berdampak besar bagi kelangsungan batik asli Nusantara.

Gerakan 321 lahir dari keprihatinan. Banyak masyarakat merasa sudah “berbatik” hanya dengan menggunakan kain bermotif batik, padahal tidak ada sentuhan proses batik di dalamnya. Padahal batik bukan sekadar motif, melainkan proses panjang yang melibatkan malam, canting, cap tembaga, pewarnaan, dan tangan-tangan perajin yang bekerja dengan ketelatenan. Melalui Gerakan 321, masyarakat diajak kembali menyadari esensi tersebut.
Angka pertama, 3, mengajak masyarakat menghentikan pembelian kain printing bercorak batik jika sudah memiliki tiga helai di rumah. Bukan untuk melarang, tetapi untuk mengembalikan ruang budaya yang saat ini terdesak oleh produksi massal.
Angka kedua, 2, mengimbau agar masyarakat tidak terus menambah koleksi batik cap jika telah memiliki dua potong. Batik cap adalah karya asli yang memerlukan keterampilan, namun gerakan ini ingin mengalihkan fokus pada teknik yang lebih mendalam.
Angka terakhir, 1, adalah inti gerakan: membeli satu helai batik tulis sebagai langkah awal mendukung keberlanjutan batik sejati. Satu helai saja, namun itu adalah tindakan budaya yang berpengaruh besar bagi kesejahteraan perajin.
Gerakan sederhana ini menjadi sangat penting karena batik tulis sedang menghadapi ancaman nyata. Di tengah derasnya fast fashion, posisi perajin makin terpojok, pendapatan tidak stabil, dan generasi muda enggan melanjutkan tradisi. Jika pola konsumsi tidak berubah, maka bukan hanya produk yang hilang, tetapi juga pengetahuan, filosofi, serta keterampilan turun-temurun.
Gerakan 321 hadir sebagai strategi kultural untuk membalikkan arus tersebut. Ketika seseorang membeli batik tulis, ia tidak hanya membeli kain, tetapi juga masa depan sebuah tradisi.
Tema besar Sewindu APPBI, “Asli Perajinnya, Asli Batiknya, Asli Harganya”, menjadi landasan yang memperkuat Gerakan 321. Asli perajinnya berarti menempatkan perajin sebagai pusat produksi budaya. Asli batiknya menekankan pentingnya menjaga proses batik tulis dan cap sebagai identitas teknik. Asli harganya menegaskan bahwa harga batik tulis mencerminkan kejujuran tenaga dan waktu yang dicurahkan perajin.
Gerakan 321 sejalan sepenuhnya dengan prinsip tersebut. Ia mendidik masyarakat untuk kembali mengutamakan karya tangan, menghargai proses, dan membangun konsumsi yang sadar budaya. Jika gerakan ini dilakukan secara nasional, dampaknya akan sangat besar: meningkatnya kesejahteraan perajin, hidupnya kembali sanggar-sanggar batik, serta tumbuhnya regenerasi di berbagai daerah penghasil batik.
Melalui Gerakan 321, kita diajak memulai dari langkah kecil di rumah masing-masing: melihat lemari, menghitung kembali, dan memutuskan untuk menjaga warisan bangsa. Karena keberlanjutan batik ada di tangan kita semua.

