Di tengah derasnya arus modernisasi, Payung Geulis tetap tegak sebagai ikon budaya Tasikmalaya. Lebih dari sekadar pelindung dari panas, ia adalah simbol estetika, filosofi hidup, sekaligus identitas masyarakat Sunda.
Sejarah yang Menawan
Payung Geulis lahir pada awal abad ke-20, dipopulerkan oleh H. Muhyi dari Panyingkiran. Pada masa jayanya di tahun 1950–1960-an, payung ini menjadi aksesori wajib mojang Sunda berbusana kebaya, sekaligus cenderamata favorit hingga ke tangan noni Belanda. Namun, kejayaannya meredup pada era 1970–1980-an akibat masuknya payung pabrikan dan produk impor.
Keindahan dalam Kerajinan Tangan
Berbeda dengan payung biasa, rangkanya dibuat dari kayu dan bambu, sedangkan tudungnya berasal dari kertas semen atau kain yang dilapisi kanji. Seluruh hiasan dilukis tangan oleh perajin, sering tanpa sketsa, menghadirkan motif bunga, kupu-kupu, burung, hingga pola geometris. Proses ini sepenuhnya mengandalkan keterampilan turun-temurun.
Filosofi dan Nilai Simbolik
Motif pada Payung Geulis sarat makna: melati untuk kesucian, kupu-kupu sebagai simbol transformasi, burung untuk kebebasan. Payung ini juga hadir dalam tari tradisional, dekorasi pernikahan, hingga hiasan rumah dan hotel. Ia tidak hanya benda fungsional, tapi juga representasi identitas budaya Sunda.
Tantangan dan Harapan
Kini, jumlah pengrajin semakin sedikit. Generasi muda kurang tertarik meneruskan tradisi, sementara persaingan dengan produk modern masih kuat. Meski begitu, Payung Geulis tetap mendapat tempat lewat festival budaya, pameran, hingga promosi di pasar internasional. Pemerintah dan komunitas lokal juga mendorong penggunaannya di ruang publik, hotel, dan restoran.
Menjaga Warisan
Payung Geulis bukan sekadar payung, melainkan kisah perjuangan budaya. Ia mengajarkan tentang kreativitas, ketekunan, dan identitas yang tak lekang dimakan zaman. Upaya bersama dalam pelestarian menjadi kunci agar Payung Geulis terus menjadi kebanggaan Tasikmalaya sekaligus warisan Indonesia untuk dunia.

