Mulai memasarkan Batik Sukabumi buatannya sejak 2011, tiga tahun kemudian (2014) dirinya akhirnya mantap membuat workshop-nya sendiri di Jalan Kadudampit, Cisaat, Kabupaten Sukabumi.

Dirinya mengenal batik ketika masih bekerja pada Ingrid Kansil kala menjabat di Komisi 8 DPR RI dan suami dari Ingrid Kansil, Syarif Hasan menjabat Menteri Perekonomian RI. Nur Halimatusa’diah atau disapa Diah mendapat fasilitas di program pemberdayaan perempuan.
Kegiatan yang diikutinya di pemberdayaan perempuan adalah menjahit dan membatik. Pengembangan keahliannya membatik pun didapat dari Komarudin Kudiya, sosok pembatik ternama asal Jawa Barat.
Dari Batik Komar di Cigadung, Diah dibukakan wawasan dan motivasinya untuk menetapkan diri berkiprah di Batik Sukabumi. “Kebetulan saya juga memang sedang menjual batik-batik luar, misalkan seperti Batik Tasikmalaya. Ingin tahu dulu sejauh mana Sukabumi kenal tentang batik tradisionalnya.”
Tantangannya tak ringan. Lazimnya pada kebanyakan orang yang belum mengenal batik sebenarnya, batik yang dijual di toko sudah dianggap batik. Padahal menurutnya yang dijual itu kebanyakan adalah batik printing. Selain dijual murah, untuk mengedukasi batik asli dengan harga yang lebih mahal daripada batik printing juga harus disiasati.
“Saya berusaha sebelumnya ke teman-teman mamah, yang memang di sekitaran rumah, ibu-ibu pengajian. Bu, ini tuh batik, batik itu caranya dicap, dicanting, dan pewarnaannya juga manual, gini-gini.”

Dari sosialisasi dan edukasi sederhana seperti itu ke orang-orang terdekatnya, membuahkan hasil mulai ada pemesanan. Dari pasar yang responsif tersebut, Diah pun bercita-cita ingin punya workshop sendiri.
“Mimpi saya memang di 2011, cita-citanya ke depannya kalau memang pasar di Sukabumi terbuka, saya ingin membuat workshop di rumah sendiri gitu. Nggak akan di mana-mana, saya di rumah sendiri. Dan Alhamdulillah di 2014 terwujudlah workshop di sini gitu ya. Kita ngebangun tempat warna, kita ngebangun tempat ngelorod, terus tempat ngecap dan sebagainya.
Berhenti Jadi Karyawan
Mengantungi ijazah S1 Ekonomi dari Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Sukabumi, Bekerja sebagai karyawan di tim Ingrid Kansil membuka wawasannya tentang entrepreneurship. Dari mulai ikut pemberdayaan perempuan di instansi pemerintahan, ada mimpi untuk punya usaha sendiri.

“Sewaktu belajar di Yayasan Batik Jawa Barat, kita banyak belajar dari Pak Komar (Komarudin Kudiya), dan tiba-tiba kepinginan membuka usaha batik. Saya minta resign sama Ibu Ingrid Kansil dengan izinnya menikah waktu itu. Saya menikah, kebetulan keluarga suami saya adalah keluarga pembatik. Mama mertua dan ayah mertua itu, pembatik 3 generasi. Mereka orang Tasikmalaya. Jadi saya belajar dari Pak Komar, ditambah lagi punya keluarga mertua pembatik, saya dapet ilmu banyak dari mereka. Sampai mereka meninggal pun, Alhamdulillah ilmunya sampai sekarang bermanfaat.”
Kabupaten Sukabumi terkenal dengan kawasan industri. Berbagai perusahaan besar ada di situ. Sumberdaya manusianya banyak bekerja di pabrik-pabrik garmen raksasa. Hal tersebutlah yang membuat sulit mendapatkan sumberdaya pembatik di Kabupaten Sukabumi.
“Makanya kenapa orang memilih kerja di garmen dibanding ke UMKM, contohnya batik sendiri, karena mereka bersaingnya dengan gajinya UMR di garmen-garmen. Kalau di batik kan kita menyesuaikan dengan PO order yang kita dapat. Sekalipun memang makan dan lain-lainnya dijamin oleh kita, tapi berbeda dengan kos yang mereka dapat di garmen.”
Sempat Putus Asa
Perajin Batik Sukabumi saat itu masih banyak yang menghasilkan batik berkualitas rendah. Hal tersebut yang memunculkan keraguan di kalangan masyarakat kalau batik buatan lokal kurang bagus.

“Dan saya membuktikan bahwa ilmu yang saya dapat itu, batik Sukabumi itu citranya bisa diperkuat lagi, bikin orang-orang percaya bisa bersaing dengan batik-batik yang lainnya. Dan saya tuh nyobain, di tes oleh Dekranasda Kabupaten Sukabumi, membawa air, terus bawa kain yang udah jadi, dicelup-celup sampai biar kelihatan di lantai putih, oh ini luntur apa enggak, gitu.
Diah merasakan kondisi penjualan Batik Sukabumi buatannya melesat sejak 2014. Hingga pandemi Covid-19 berlangsung, usahanya nyaris tutup.

“Kita sempat merasakan naik-naiknya Batik Sukabumi itu di 2018 sampai 2020 itu. Di tahun 2020 khan COVID, langsung turun drastis. Nah, kita tuh mulai survive lagi di 2022.
Sebagai UMKM, pandemi Covid-19 nyaris meluluhlantakkan bisnisnya. Utamanya terjadi di tahun 2021 di masa pandemi mulai mereda namun ekonomi masih sangat lesu.
“2021 itu kan udah mau selesai ya Covid. Tapi kan itu lagi buruk-buruknya penjualan. Ekonomi lagi buruk-buruknya itu. Saya sempat bilang ke anak ingin menyudahi usaha. Saya langsung diplototin sama mereka. Hah? Kok ngomong kayak gitu? Lihat coba ke belakang. Apa yang emak (panggilan karyawannya terhadap dirinya) dapetin di hidup emak dulu? Emak bisa dikenal orang banyak dari mana? Meskipun kita lagi terpuruk kayak gini, siapa tahu Allah itu lagi nyiapin apa yang memang kita tuh nggak pernah tahu kebahagiaan kita di depannya seperti apa. Hayuk kita jalan bareng-bareng. Ketika kamu jatuh, aku yang akan bangunin kamu.”
Diah akhirnya melanjutkan usahanya setelah teguran dari karyawannya.
“Anak-anak itu gitu. Mereka yang nguatin aku dari situ. It’s okay. Aku harus nyari jalan kemana. Cuma aku selalu berdoa sama Allah. Ya Allah, kalau memang usaha ini akan membawa berkah buat kehidupan aku, tolong kasih aku jalan. Dan Allah tuh baik banget gitu. Nggak nunggu satu hari, doa itu dijawab. Saya tiba-tiba dapat telepon dari BPN Kabupaten Sukabumi yang tiba-tiba mengajak jadi pendamping mitra binaan Ikawati BPN.
Rekrut Karyawan Putus Sekolah
Di wilayah yang notabene minim produksi batik, Pondok Batik Sukabumi pun merasa kesulitan dalam merekrut tenaga pembatik. Bahkan tenaga yang direkrut datang dari kalangan buta pembatikan.

“Kebanyakan dari mereka adalah anak putus sekolah dan buta batik. Proses training mereka paling cepat 2 minggu dan paling lambat 3 bulan. Tapi rata-rata kalau untuk yang tahun ini mereka cepat semua. Ada yang seminggu juga sudah mampu.
Untuk mengantisipasi orderan tinggi, Diah pun siap merekrut pembatik berpengalaman.
Karena memang kapasitas yang buta batik ini, kerjanya lama, Pak, kalau ada order banyak. Jadi kalau seandainya pekerjaannya banyak, ya sudah ditarik yang profesional. Tapi sekarang mereka sudah hampir satu tahun bekerja, kemarin di tes 500 pieces 20 hari selesai.”

Tentang omzet yang diperoleh Pondok Batik Sukabumi, Diah mengaku bisa menghasilkan puluhan bahkan ratusan juta perbulan.
“Omset rata-rata di 20-30 juta per bulan. Kalau terbesar pernah diangka 300 juta sebulan. Untuk laba dari omzet tersebut bisa berkisar 30-40 persen. Di zaman pertama saya membatik, di 2014 omzet dan laba berbanding 50:50. Kalau sekarang nggak bisa karena bahan baku mahal.”
Diah juga memaparkan penetapak harga batik yang dibuatnya.
“Pasar saya inginnya harganya murah, mulai dari Rp 100.000 (batik cap). Untuk harga tertinggi ya di batik tulis, mulai dari Rp 800.000, Rp 1.500.000 hingga Rp 3.000.000.”
Keberlangsungan Pondok Batik Sukabumi akan diperjuangkan Diah ke depannya.
“Makanya saya selalu berusaha survive, apapun yang saya hadapi, untuk mencarikan pekerjaan, kalau di batik itu PO dan ordernya, untuk mereka. Jadi sebaik-baiknya hidup, saya harus hidup itu untuk bermanfaat untuk orang banyak. Tapi terlebih, saya juga dikuatkan, digenggamkan sama tangan-tangan mereka yang butuh saya.”
“Makanya dari situ, mau gimana lagi, kita harus survive. Pertama, memperkenalkan batik ini, biar orang bisa mau menerima. Kedua, ada orang-orang juga yang memang membutuhkan saya, dalam segi pekerjaan.”
Foto: Kuncoro Widyo Rumpoko

