in

Mereguk Sejarah Batik Di Segelas Kopi Tahlil (2)

SEJARAH batik di Pekalongan saat ini, meski tidak semuanya, tapi sebagian besar motifnya ekspresif, naturalis.

Meski ditemukan stilasi gambar disana-sini tapi tidak mengandung unsur gambar yang sengaja membentuk simbol dari sebuah pengertian yang bersifat maknawi ilahiah.

Secara keseluruhan, motif yang dihasilkan kadang tidak mengandung makna yang jelas. Hal ini terjadi tidak terlepas dari pandangan bahwa kain Bathik adalah sebuah komoditas, sehingga perlu mengikuti selera pasar.

Jenis kain motif bathik ini, biasanya banyak ditemukan dalam idiom lokal berupa “motif Temu”. Yaitu kain bathik dengan beberapa motif ragam hias yang diambil dari sana-sini, lalu dipertemukan supaya kelihatan indah dan “kemedol” (mudah laku), tanpa mempertimbangkan makna simbolik bersifat Ilahiah yang membari nilai sakral dari sebuah karya.

Pada jenis kain Bathik seperti ini, saya menyimpulkan belum bisa dikatakan sebagai jenis kain bathik pusaka.

Kondisi ini sedikit banyak menjadikan Batik Pekalongan seperti kehilangan Pakemnya.

Kalau dirunut sejarahnya, wilayah Pesisiran Kulon Mataram (Kendal, Batang, Pekalongan, Pemalang, Tegal, Brebes) diserahkan kepada Kolonial Belanda oleh PB I (Surakarta) setelah Belanda membantu pihaknya pada tahun 1705 M memenangkan perang dan merebut tahta melawan Amangkurat III (Kartasura).

Sejak saat itu peran kontrol dan kekuasaan Raja Surakarta sudah lemah dihadapan Kolonial Belanda untuk wilayah Pesisiran Kilen termasuk Pekalongan.

ADALAH Tan Kwie Djan (Jayadiningrat I) seorang peranakan Cina pertama di era Kolonial ini yang diangkat menjadi Bupati Pekalongan. Dia  dikenal sebagai enterpreneur sejati yang mendapat jabatan tersebut dengan cara membeli dari Belanda yang mendapat hak atas kontrol wilayah Pesisiran dari Raja Surakarta.

Bapaknya adalah seorang pengusaha yang menguasai Tol Semarang – Kartrasura kala itu. Saudaranya yang lain Puspanegara menjadi Penguasa Batang dan Sedayu. Sedang Anaknya Tirtanata menjadi Penguasa Tegal, yang menguasai jalur Tol menuju Batavia. (Luc Nategaal: Riding The Dutch Tiger)

Padahal sebelumnya, pada tahun 1703, dia mengabdi kepada Raja Amangkurat III, dan dipercaya memegang pasukan sebagai Panglima Perang dengan pangkat Tumenggung dan bergelar Jayadiningrat. Tapi ketika terjadi konflik antara Amangkurat III dan Pamannya Pangeran Puger dalam berebut Tahta Mataram, dia melihat peluang kemenangan berada dipihak P. Puger karena mendapat dukungan dari Belanda.

Maka sebelum tembakan pertama diletuskan- begitu kata Luc Nagtegaal, sejarawan Belanda yang menuliskan sejarah ini, Jayadiningrat mengalihkan dukungannya kepada PB I dan merapat ke VOC Belanda. Karena dia dijanjikan akan mendapat sebuah wilayah kabupaten penting di Pesisir utara.

Akhirnya Amangkurat III berhasil dikalahkan oleh P. Puger yang berikutnya mengangkat dirinya sebagai raja dengan gelar PB I. Sedang Jayadiningrat mendapatkan imbalannya berupa kekuasaan sebagai Bupati  Pekalongan, dengan jabatan sebagai Bupati Wedana Pesisiran Kilen setelah mau membayar kepada Belanda sebesar 3.000 real.

Oleh karena itu, Batik yang dikala dinasti Mataram Islam sudah memiliki pakem sebagai Pranata Sosial-Budaya dan diatur sedemikian ketat dalam penggunaannya, tidak tertutup kemungkinan setelah kontrol raja atas wilayah itu melemah, maka Bathik di wilayah Pesisiran pun memungkinan menjadi lebih bebas dalam menentukan nasib dan bentuknya tidak harus mengikuti pakem Kraton lagi.

Apalagi dibawah penguasa dengan latarbelakang Keluarga Besar Pengusaha (trah Jayadiningrat), tentu perkembangan Batik di wilayah Pesisiran pada umumnya dan Pekalongan pada khususnya sejak saat itu akan lebih banyak berorientasi kepada Perdagangan.

Dengan berjalannya waktu, semakin lemahnya kekuasaan Kraton dan semakin kuatnya Kolonial Belanda dan Pedagang Cina di pesisir,  tak ayal Pakem Batik Pekalongan  yang dulunya mungkin berkiblat ke kraton juga semakin hilang berganti menjadi Pakem Perdagangan.

Maka peran Batik sebagai karya Pusaka dalam pranata sosial, secara perlahan sudah berubah menjadi produk perdagangan.

Menyambung tentang sarana Pusaka ini, Gus Eko menjelaskan bahwa pada dasarnya apapun bisa menjadi pusaka. Media pusaka ini bisa mengambil beragam bentuk. Kaos sekalipun bila di dalamnya diberi gambar simbolis yang bermakna Ilahiah juga bisa menjadi Kaos pusaka yang memiliki guna, tanda, dan sarana untuk mendapatkan sesuatu.

Disini Gus Eko, sebagai kyai praktisi spiritual mencontohkan sebuah gambar simbol berupa “Surya Kamulan Majapahit” yang rencananya akan dia Sablon dan “dikiswak” (ditiupkan doa), supaya memiliki daya kekuatan seperti pusaka bagi yang mengenakan kaos tersebut nantinya.

Lebih lanjut menurut Kyai muda asal Banyuwangi ini, konon pak Jokowi mengenakan pakaian dengan Lambang tersebut saat berkunjung ke Afganistan tempo hari. Sehingga tidak perlu mengenakan baju anti peluru. Wallahu a`lam bi showab

Cikgu Sapuan nggak mau kehilangan momentum, Gus Eko langsung di `Sliding Tackle“, “ Wah..Pusaka kok Sablonan, mengko  Batik printing sisan wae dadekne pusaka..ciloko ! “  Geer..semua tertawa, sruput dulu Kopi Tahlil. Mas Wahab, dan Mas Sugi mulai mengedarkan piring-piring penuh gorengan mendoan. Sebuah pesan agar mendo (reda) sejenak dari diskusi yang hampir memuncak.

Sepengunyah kripik pisang kemudian saya menyambung, bahwa pada era awal Majapahit, ketika R. Wijaya mengusir tentara Ku Bilai Khan, dia memberi seluruh pasukan elitnya dengan kain bermotif Gringsing. Disini kain motif Gringsing memiliki makna, guna, tanda dan sarana sebagai tolak bala. Dan kelak digunakan sebagai salah satu pataka Majapahit berupa Kain Cibno Gringsing lohbeng luewih Laka. Kain motif Gringsing dengan buah Maja di tengahnya.

Cikgu Sapuan meminta Abdi dalem Cantrik Sugi untuk menjemput Begawan Bathik Zahir Widadi yang malam itu masih rapat di Balai Kota Pekalongan. Sedianya akan datang juga para sejarawan Pekalongan, Mas Arif Dirhamsyah dan Mas Ribut Achwandi yang sedang dalam satu acara dengan Sang Begawan Bathik. Namun sepertinya kedua sejarawan tersebut tidak bisa hadir karena masih ada keperluan lainnya.

Menjelang tengah malam, terdengar deru Kereta “Kyai Mobilio Seta” memasuki “plataran wingking” Pranggok Batik Sapuan. Turunlah dari Kereta peminum Pertamax itu, Sang Begawan Bathik Zahir Widadi dengan wajah bersinar bagai bulan purnama memasuki pranggok dan uluk salam.

Mbata rubuh para hadirin menjawab salamnya. Malam berpadu dengan Kopi Tahlil, gedang kepok,dkk menyambut hangat Sang Begawan Bathik yang sedang tidak mengenakan Baju Bathik pada malam itu.

Sebagai Begawan yang qa`naah, pak Zahir yang duduk disebelah kanan saya hanya meraih hidangan tersaji yang sampai dengan jangkauan tangannya. ” Yah.. rejeki yang terjangkau pisang rebus, ya ini dulu yang dinikmati,” seloroh pak Zahir sambil meraih Pisang rebus di depannya. Semua hadirin tertawa dan sahabat bathik di sebelah kiri saya segera buru-buru  mengumpulkan beberapa jenis makanan lain dan semua didekatkan ke pak Zahir, semua kembali tertawa.

Sepengunyah pisang rebus kemudian, untuk membuka wedaran sabda pandita dari Begawan Zahir Widadi, saya memulai dengan sebuah pertanyaan,” Pak Zahir, setelah perjanjian Giyanti 1755, Kraton Mataram dibagi menjadi Solo dan Yogya, dalam pembagian warisan Kerajaan, sepertinya untuk Busana jatuh ke Kraton Yogya.

Dengan demikian untuk motif batik Solo tidak lebih tua dari pakem batik Yogya, karena Solo harus melakukan pembaharuan dalam hal busana. Gimana menurut pak Zahir ?”

Diluar dugaan, seperti `ngerti sak durunge winarah` pak Zahir menjawab pertanyaan saya sekaligus menjelaskan tentang bahasan yang sudah kita diskusikan sebelumnya. “ Bicara tentang Pakem batik yang lebih tua, orang bilang Pekalongan tidak punya Pakem Batik, motifnya hanya untuk konsumsi perdagangan, itu pernyataan dari orang yang nggak ngerti sejarah Batik, ” papar Pak Zahir dengan tenang dan mengalir.

Cikgu Sapuan sudah gatal mau segera keluarkan jurus “Sliding Tackle”-nya tapi Begawan yang waskita ini sudah tahu gelagat tersebut.

Maka ketika Cikgu mulai mau membuka serangan, dengan menunjukkan motif-motif Batik dari buku yang dipegangnya, pak Zahir sambil tersenyum segera melanjutkan, “ Jangan perhatikan ! Nanti ketarik kesana kita magnetnya, perhatikan kesini saja, saya sudah hapal kelakuannya,” ujar pak Zahir dengan kalem sambil menunjuk Cikgu Sapuan.

Semua yang hadir geer serempak. Mac Hoed dari Batik Jawa Anggun yang ada di ujung, segera menyahut penasaran, “ Lanjutkan pak..lanjutkan..!” (Bersambung)

Penulis: Agus Sulistyo, seorang pemerhati dan peneliti sejarah batik Pekalongan.

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading…

Sejarah Batik

Mereguk Sejarah Batik Di Segelas Kopi Tahlil (1)

Sejarah Batik

Mereguk Sejarah Batik Di Segelas Kopi Tahlil (3)