in

Mereguk Sejarah Batik Di Segelas Kopi Tahlil (1)

Sejak sore beberapa tempat di Pekalongan telah diguyur hujan, termasuk daerah saya di Kesesi, Pekalongan. Menjelang Isya hujan sudah mulai reda, menyisakan titik-titik air. Walaupun harus melewati jalan pating gronjal dan licin berlumpur efek pembangunan Jalan Tol Pemalang – Batang, pesan via WA Cikgu Sapuan yang mengabarkan bahwa Begawan Bathik Zahir Widadi akan hadir mengurai sejarah batik, memperkuat tekad saya semakin makantar-kantar.

Sekitar jam 21.00 saya sudah tiba di Pranggok Bathik Sapuan di Tunjungsari-Bojong, Pekalongan. Ada Mas Wahab, Krapyak yang didapuk CikGu Sapuan sebagai Abdi Dalem Gandarasan bersama Mas Sugi. Sederetan minuman kopi tahlil, makanan ringan, kripik pohong, kripik gedang, dan Kripik Ameriki (embuh makanan apa itu nama aslinya, tapi itu nama yang diberi Cikgu) , buah jeruk, gedang dan kacang godok, telah berjajar rapi membentuk satu garis meridian.

Hadir kemudian teman seperguruan Cikgu Sapuan, Mas Tomy. Cikgu sering cerita tentang dia. Maka walau baru pertama ini saya bertemu mas Tomy, Kami langsung segera akrab.

Mas Tomy bercerita tentang awal mulanya menggeluti Bathik. Dia berasal dari keluarga besar yang sudah mapan sebagai pengusaha kain tenun. Makanya dia mendapat tantangan keras dari keluarganya ketika hendak masuk ke dunia bathik. Apalagi pintu masuknya berawal dari sebuah “Kecelakaan” adanya order kain sutra yang dibatalkan. “Kapan sugihe kowe arep mbathik ? ” Begitu kira-kira respon keluarga besarnya atas keputusan mas Tomy bergerak di dunia bathik.

Cikgu Sapuan dengan gaya khasnya “Gas Pol-sliding tackle”, memotivasi Mas Tomi dengan perkataan, “Disitu Bathik mengujimu!”

Cikgu Sapuan menceritakan beberapa pengalaman para sahabat bathik lain di Jogya dengan segala bentuk ujian bathik yang sedang dihadapinya. Seperti kerasukan virus bathik kronis, mas Tomy sepertinya sulit untuk “disembuhkan“, dia tetap ngeyel berada dijalur Bathik sampai saat ini.

Cikgu Sapuan pun kembali usil dengan isitilahnya bahwa dia sudah termasuk “orang yang terkutuk” Bathik. Sebuah ungkapan low Profile dari umat pilihan yang tergerak hatinya untuk menekuni Bathik.

Datang kemudian sahabat bathik lainnya, Faturrokhim dan Yanto dari Bathik Rumpaka Wiradesa, Mac Hoed dari Bathik Jawa Anggun Wiradesa dan Mas Sony temannya, Tomi Ardianto Bathik dari Sapugarut Pekajangan, Suryo Sukarno wartawan RCTI, Saiful dari Dinas Pariwisata Kab. Pekalongan, Gus Eko Ahmadi bersama beberapa teman dari Lesbumi Kab. Pekalongan.

Dengan hadirnya Kyai Gondrong asal Banyuwangi yang punya militansi atas Budaya Nusantara ini, malam semakin hangat. Meski tanpa ceremonial susunan acara, pembicaraan mengalir begitu saja.

Saya melontarkan materi yang agak menukik tentang bathik. Sering kita memahami Bathik sebagai warisan budaya seperti halnya pusaka. Berkaitan dengan pusaka ini, muncul pengertian dalam tradisi jawa, bahwa sesuatu disebut pusaka bila memiliki empat karakter dasar: 1. Makna; 2. Guna; 3. Tanda; 4. Sarana

Cikgu Sapuan bergegas masuk ke dalam kamarnya mengambil buku-buku tentang bathik. Setelah keluar, Cikgu Sapuan memberikan keterangan bahwa pengertian Bathik selama ini, dalam peristilahannya belum ada pembakuan. Bahkan cenderung berasal dari hasil otak-atik gathuk dari kata Ba dan Tik. Ada bahkan yang memaknai ngebat titik, rambataning titik titik, bahkan ada yang melansir hadis nabi berkaitan dengan huruf Ba dengan titik di bawahnya.

Kemudian Cikgu Sapuan mengeluarkan Buku karangan KRT.DR (JH) Kalinggo Honggopuro yang berjudul “Bathik Sebagai Busana dalam Tatanan dan Tutunan.” Dalam buku tersebut, putra Canggah R. Ng. Ranggawarsita Pujangga Kraton Surakarta ini, menyatakan bahwa

“Para penulis buku tentang bathik terdahulu, banyak yang menuliskan kata ‘bathik” dengan “batik” atau huruf yang seharus “tha” ditulis dengan “ta”. Dimana bathik menurut penulis bathik-bathik terdahulu diartikan menurut “jarwadhosok” yaitu “ ngembat titik” atau “rambataning titik-titik”. Dimana dari “Jarwadhosok” tersebut dimaksudkan bahwa bathik merupakan rangkaian dari titik-titik.

Namun demikian, pemaknaan bathik seperti itu penulis anggap tidak tepat atau bahkan dapat dikatakan salah. Karena jika dilihat dari huruf Jawa yang dipergunakan dalam menuliskan bathik adalah (Huruf Jawa Tha bukannya Ta, angel nulise neng komuterku) yang menggunakan huruf ta. Sehingga kalau mengacu pada penulisan tersebut bathik kalau di “jarwadhosok” kan akan menjadi ngembat “thithik” atau rambataning “Thithik-thithiki”. Dilihat dari hal itu arti bathik secara “jarwadhosok tidaklah tepat, hanya sekedar “dolanan tambung” (bermain kata-kata ) saja.

Dalam budaya Jawa bathik tidak dapat diartikan hanya dengan satu dua kata ataupun padanan kata tanpa penjelasan lanjut. Karena bathik merupakan suatu hasil dari proses yang panjang mulai dari melukis motif hingga pada tahap akhir proses “Babaran”. Yang menjadi ciri utama dari bathik adalah di dalam proses tersebut dipergunakan bahan utama berupa mori, malam (lilin) dan pewarna…”

Dari keterangan di atas muncul kesimpulan saya bahwa Bathik adalah sebuah kata dasar bukan hasil dari gabungan suku kata yang berasal dari jarwadhosok dalam bahasa jawa. Kalau dalam tata bahasa Arab ini jenis isim Alam (kata yang memang begitu dari asalnya).

Gus Eko seorang kyai yang ahli dalam bahasa Arab mengiyakan pernyataan saya tersebut. Dia menambahkan bahwa kata berasal dari sebuah bunyi yang berikutnya melahirkan suara yang membentuk sebuah pengertian. Sehingga keberadaan dan pengertiannya bisa dirunut dari proses pendengaran. Suatu kata akan menjadi pengertian biasanya dimulai dari cara penangkapan indera pendengaran pertama kalinya.

Disini saya menyambung dengan pengertian kata AOM dalam tradisi Hindustani. Dimana dalam beberapa keterangannya yang saya dapatkan bahwa kata “AOM” konon berasal dari suara tangis bayi. Jadi AOM adalah kata yang pertama kali diucapkan manusia. Oleh karena itu bagi masyarakat di lembah sungai Hindustan, kata AOM ini dipercaya menjadi sesuatu kata yang suci dan sakral, sehingga selalu digunakan sebagai Kata utama di setiap doa mereka.

Berikutnya Cikgu Sapuan menambahkan, menurut Pak Suwardhana seorang ahli bahasa dan tulisan Sansekerta – Jawa Kuno dari Malang, Beliau menyatakan bahwa di jaman kerajaan Hindu-Budha berkembang di Nusantara belum ada sebutan Bathik, yang ada berupa Kaen dan Wedihan. Kaen untuk laki-laki, dan Wedihan untuk perempuan. Dan ini mengingatkan Cikgu Sapuan pada Keterangan mas Abdul Syukur yang menyatakan bahwa sebutan pakaian di abad ke 7 adalah Wedihan.

Gus Eko pun menyatakan bahwa dia tidak setuju bila kata Bathik dikaitkan dengan pengertian dalam hadis dari kata Ba dengan titik dibawah. Meskipun itu terkesan bernilai Islami, tapi kita perlu menggali akarnya dari khasanah di tanah Jawa sendiri. Mengingat Bathik lahirnya dari Jawa.

Sampai disini definisi Bathik sebagai kata dasar yang memuat seluruh pengertian tentang bathik, menurut penangkapan saya, belum mendapat pengertian korelasinya dari diskusi “Uni” (bunyi) menjadi “Ucap” (kata) yang terjadi pada malam itu. Selain karena pembicaraan disajikan secara santai tanpa protokoler, Cikgu Sapuan sering melontarkan joke untuk memecah perhatian, dan membuat suasana supaya tidak terlalu tegang. Sehingga tema pembicaraan kadang berbelok dengan liar tapi mengasyikkan.

Seperti ketika Cikgu Sapuan pura-pura memprotes pernyataan Gus Eko yang seolah jawa sentris, “kiye Nyonge makili wong kalimantan keprimen Gus yen kabeh kok Jawa.”

Batinku, “Wong Kalimantan kok ngomonge pakai Nyonge..dasar Cikgu.”

“Yang dimaksud Jawa disini mestinya ya bukan masalah jawa secara geografis, tapi jawa dipahami sebagai kesadaran diri (njawani). Jadi Kalo orang Kalimantan sudah sadar atas jati diri dan keberadaannya ya sebut saja dengan Ngalimantani,” sambung saya.

Setelah suasana hening sejenak, terdengar Mas Fathurokhim dari Batik Rumpaka-Wiradesa menanyakan kembali poin tentang kriteria benda bernilai pusaka yang pada awal saya sajikan. Mengingat Bathik sebagai warisan Budaya leluhur Nusantara sering kali diidentikan sebagai karya Pusaka. Lalu bagaimana dengan Kain Bathik sebagai hasil dari proses membathik bisa termasuk benda pusaka? (Bersambung)

 

Penulis: Agus Sulistyo, seorang pemerhati dan peneliti sejarah batik Pekalongan.

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading…

Sertifikasi Halal Untuk Batik Halal? Ini Penjelasan APPBI!

sejarah batik Pekalongan

Mereguk Sejarah Batik Di Segelas Kopi Tahlil (2)