in

Mereguk Sejarah Batik Di Segelas Kopi Tahlil (3)

Setelah semua tenang pak Zahir melanjutkan penjelasannya tentang sejarah batik. “ Motif Jlamprang itu motif pakem yang sudah ada jauh sebelum Mataram Islam. Kalau dalam motif ragam hias Jlamprang itu ada simbolik Siwais memang itu menunjukkan adanya pengaruh Hindu, trus orang bilang itu mirip dengan kain Potala, tapi bukan berarti itu mesti dari India. Itu bisa ditemukan buktinya pada motif Arca yang ada di candi Singasari.”

Pak Zahir menambahkan, motif Jlamprang ini jaman dahulu di Kraton termasuk dalam Pakem Batik larangan, bersama dengan motif Lereng, Ceplok, dan Kawung. Artinya tidak semua orang boleh menggunakan kain Batik yang masuk dalam kategori motif larangan tersebut.”

Cikgu Sapuan menyambung, ”Motif Jlamprang berasal dari kata Jilamprang, atau Jlamprong yang berarti bulu merak. Sehingga Motif Medalion bulat tersebut merupakan representasi motif yang terdapat di dalam bulu merak. Dengan alasan orang dahulu dalam membuat sebuah motif, melihat secara langsung dari model-model motif yang ada di sekitarnya.

Seperti Motif Kawung, selama ini kita memahami motif itu berasal dari woh kolang-kaling, ada yang mengatakan itu uang ringgit.

Tapi menurut Pak Suwardhana, Kawung itu sebenarnya adalah sebutan untuk buah kapuk Randu yang sudah merekah. Orang- orang di pedesaan Jawa Timur masih menyebut dengan itu sampai sekarang. Jadi ketika buah kapuk randu merekah terbelah menjadi empat secara alami. Dan itu oleh orang desa bisa dilihat secara langsung, tidak perlu ditafsirkan lagi.

Pak Zahir melanjutkan, ”Disini sebenarnya kita bisa amati bahwa ragam hias Motif Batik yang dihasilkan merupakan tanda dan penanda. Motif Batik kuno biasanya dihasilkan dari sebuah proses kontemplasi, melibatkan unsur Adikodrati yang bersifat Ilahiah. Ini sudah masuk dalam ranah spiritual, paranormal, adikodrati yang sudah tidak bisa dijangkau oleh rasional. Ini bukan sembarang gambar tanpa makna. Maka untuk memahaminya pun kita harus bisa berdialog dengan Motif Batiknya tersebut.”

Salah satu sahabat batik yang duduk di seberang pak Zahir menyambung, “Para pembatik Rifaiyyah Batang, katanya sampai sekarang masih sering melakukan puasa dulu sebelum membatik.”

Langsung ditanggapi oleh Pak Zahir, “Nah ..ini ! Menurut saya, sampai saat ini memang para pembatik Rifaiyyah yang masih konsisten dengan perilaku Batik. Perlu diingat, hasil karya Batik sangat ditentukan oleh perilaku pembatiknya. Dan hasil karya Batik bisa menunjukkan perilaku pembatiknya.

Karena di dalam Batik sendiri ada ilmu Pengetahuan. Dimana seperti saya katakan tadi, Ilmu Pengetahuan Batik tersebut, jaman dahulu didapat dari proses kontempelasi yang berhubungan dengan unsur Adikodrati. Karena membuat Batik tidak hanya masalah teknis, tapi disana ada tanda dan penanda yang menuntun kita untuk memahami hal-hal yang ada dibalik selembar kain batik tersebut. Maka bila perilaku pembatiknya tidak sesuai dengan Ilmu Pengetahuan yang ada di dalam batik tersebut, tentu saja hasilnya tidak akan baik.”

Sahabat batik yang tadi bertanya menyambung, “Kalau kita semua pelaku batik harus melakukan praktek seperti itu, apa mungkin pak ? Untuk menghadapi `Yaumil Hizab` tiap kamis saja sering kali kita sudah kerepotan. ”

Seketika meledaklah tawa di Pranggok itu. “Yaumil Hizab” merupakan term khas dunia batik pesisiran, dimana hari Kamis adalah saat hari perhitungan untuk upah buruh, istilah lokalnya pocokan.

Gus Eko memberikan tanggapannya, “Batik merupakan sebuah karya persembahan, sehingga dalam melakukannya perlu didasari niatan karena ibadah. Berbagai kesulitan yang dihadapi itu merupakan bagian dari proses penyempurna ibadah. Disana akan datang pertolongan dan jalan keluar, ketika kita sudah sampai pada batas peribadatan yang mampu kita lakukan.”

Melihat gelagat Sahabat Batik yang bertanya belum menemukan pengertiannya, Begawan Batik Zahir Widadi kembali bersabda, ”Begini mas..kita sering membuat batik tapi tidak pernah mengajak dialog dengan Batik. Sehingga kita tidak tahu apa yang dimaui oleh Batik. Kita hanya perhatian pada apa yang kita mau. Lha batiknya ini kadang yang tidak mau dipaksa. Dia ada hidup yang mengikuti keadaannya.”

“Sebagai contoh, saya ada pengalaman di sebuah toko. Pada waktu itu ada orang mau jual batik kepada pemilik toko itu, tapi ternyata Batiknya masih setengah jadi. Si Pemilik Toko spontan langsung menolak untuk membelinya. Buat apa beli batik setengah jadi, pikirnya. Tapi saya lihat ada tanda dan penanda dari batik. Lalu Saya beli batik itu dari orang tersebut. Tentu saja harga lebih murah daripada Batik jadi tho.”

“Sampai di rumah saya tanya kain batiknya, maunya diapain dia. Setelah saya menemukan keadaannya, lalu saya garap dengan sepenuh hati. Dan hasilnya ternyata cepat laku dan mendapat harga yang lebih baik dari biasanya.”

Sejenak Sahabat batik tadi seperti sedang berusaha mencerna apa yang disampaikan Sang Begawan. Pak Zahir mendekat ke Saya berbisik sambil tersenyum, “ Sepertinya masih ada yang mengganjal dia.“

Sesaat kemudian saya pun melanjut mengisi ruang, “ Yah mungkin untuk saat ini bentuk Pusaka Ampuh mengatasi masalah para pembatik itu berbentuk Ballpoin, karena itu bisa untuk menulis cek atau Giro untuk dicairkan, jadi selesai semua masalah. Yen kepepet ya dilisitke dhisik…ha..ha,” seloroh saya disambut gelak tawa hadirin. “ Wah pengalaman pribadi kalau itu.” Sahut dari seberang sana. Tawa pun makin membahana. Sruput sik Kopi Tahlile.

Setelah pak Zahir menyelesaikan kunyahan buah jeruk di mulutnya, saya melanjutkan pertanyaan, “Lalu bagaimana caranya agar kita bisa membaca tanda dan penanda di dalam Batik Pak seperti Motif Jlamprang ini misalnya ?”

“Kita tidak akan bisa membaca tanda dan penanda dalam Batik. Tapi Batiklah yang akan mengajari kita bagaimana agar kita bisa membaca tanda dan penanda darinya. Yang perlu kita lakukan adalah menyiapkan diri kita agar bisa menerima Ilmu Pengetahuan Batik itu. Inilah makanya perilaku seseorang kepada Batik sangat menentukan hasil karya Batiknya. Karena sedari awal Batik diciptakan dari Sumber Adi Kodrati. Maka pendekatan kita untuk memahami Batik tidak cukup hanya teknisnya saja. Tapi kita perlu memahami perilaku Batik dan berperilaku sesuai dengan Batik. Sehingga kita memiliki kelayakan dan kesiapan untuk menerima Ilmu Pengetahuan dari Batik.”

Pak Zahir dan Gus Eko sependapat bahwa Motif Jlamprang ini berasal dari jaman Hindu Kuno (Syiwais). Motif Jlamrang tersebut merupakan repersentatif bunga Padma senjata Dewa Syiwa.

Saya setuju dengan pengertian motif itu sebagai Bunga Padma. Mengingat dalam literasi hindu ditemukan konsep NAWA DEWATA SANGHA (Kedudukan Sembilan Dewata) yang merupakan aspek manifestasi Syiwa di 8 penjuru mata angin (berturut-turut searah jarum jam dari utara: Wisnu, Sambu, Iswara, Maheswara, Brahma, Rudra, Mahadewa, Sangkara) dengan Syiwa sebagai Penguasa tengah yang bersenjata Padma.

Konsep Nawa Dewata ini, kalau digambarkan akan membentuk sebuah motif cakra (roda) yang terbagi oleh jari-jarinya menjadi 8 bagian dengan ujung setiap jari-jarinya yang keluar dari roda. Pola simetris 8 Penjuru arah mata angin ini bila distilasi berupa bunga Padma dengan kelopak bunga mengarah 8 penjuru, akan terlihat seperti motif medalion dalam Batik Jlamprang.

Yang menjadi tanda tanya besar adalah bagaimana motif Jlamprang itu bisa ada ke Pekalongan ?

Menurut Pak Zahir itu sudah ada di sejak jaman Kerajaan Hindu Kuno. Gus Eko bahkan menambahkan sudah ada sejak jaman Sriwijaya.

Kalau sudah ada sejak jaman Kerajaan Hindu Kuno ditanah Jawa, berarti sekitar periode Dinasti Sanjaya M berkuasa di Mataran Kuno ( Hindu) sekitar abad ke 7-9 M. Kalau jaman Sriwijaya, ini berarti lebih tua lagi yaitu sekitar abad 5M-9M. Namun Kerajaan Sriwijaya sendiri lebih terkenal sebagai pusat pengajaran Budha daripada sebagai kerajaan Hindu Syiwais.

Pertanyannya, apakah pada masa Kerajaan Hindu kuno di Jawa maupun di jaman Sriwijaya sudah ada wilayah di Jawa yang disebut dengan Pekalongan?

Sik…sik sirahku semada gliyeng kiye,…sruput kopi tahlil dulu, slekethep.

Saya sepertinya perlu tanggap ing sasmita dalam menerima informasi dari para Sesepuh, tidak bisa ditelan mentah, perlu diolah lebih lanjut.

Tidak terasa pagi sudah mulai menjelang, jam sudah menunjukkan pukul 03.00. Meski suasana semakin kontemplatif, namun apa dikata boyok sudah mulai pegel dan beberapa mata sudah kelihatan bergelayutan. Bahkan ada sebagian yang memperdengarkan alunan suara dengkur yang halus. Maka seperti kompak pak Zahir, Gus Eko, dan saya mohon ijin kepada Cikgu Sapuan untuk pamit pulang ke rumah masing-masing. (Selesai)

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading…

sejarah batik Pekalongan

Mereguk Sejarah Batik Di Segelas Kopi Tahlil (2)

Fotonik Batik

Fotonik Batik: Batik Tradisional Pun Butuh Teknologi