in

Fotonik Batik: Batik Tradisional Pun Butuh Teknologi

Istilah fotonik batik mungkin belum akrab dikenal di kalangan pembatik sekalipun. Namun ini adalah perkembangan teknologi pembatikan yang masih mempertahankan pattern batik.

Oleh : Dr. Komarudin Kudiya S.IP, M.Ds

Fotonik Batik

Ketika hadir dalam pertemuan dengan komunitas para perajin batik tradisional asal Yogyakarta, terjadi phobia dengan hadirnya desain-desain batik fractal. Ada yang beranggapan bahwa hadirnya batik fractal akan merusak tatanan batik tradisional dan menghilangkan budaya membatik secara tradisional.

Setelah dijabarkan bahwa lahirnya batik fractal bukan merusak batik tradisional, karena proses pembuatannya hanya sebatas pembuatan desain saja yang memanfaatkan teknologi komputer. Selebihnya tetap menggunakan teknik tradisional batik.

Mereka semua menjadi sadar dan tidak ada lagi keraguan dan kekhawatiran akan merusak kelanggengan batik tradisional yang selama ini menghidupi sebagian besar para perajin batik tradisional.

Kita harus menyadari bahwa dalam perjalanan dari mulai lahir dan tumbuh kembangnya batik tradisional tidak lepas dari dukungan dan pemanfaatan teknologi.

Teknologi Dan Kehidupan Manusia

Penggunaan teknologi oleh manusia diawali dengan hadirnya alat-alat sederhana seperti kapak batu persegi, kapak batu lonjong, kapak logam, hingga pada cedrasa logam, nekara dan moko yang digunakan untuk alat-alat upacara jaman manusia purba.

Teknologi sendiri adalah keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang yang diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia.

Dalam kerajinan batik Indonesia kita tidak boleh takut dengan kata teknologi. Karena sesungguhnya alat-alat yang digunakan oleh para kriawan dan seniman batik tradisional telah banyak menggunakan produk teknologi meski sederhana, yakni: canting, bleber, klowo, kompor, gawangan kayu, dan lain-lain.

Penggunaan istilah teknologi (bahasa Inggris: technology) telah berubah secara signifikan dan marak lebih dari 200 tahun terakhir. Sebelum abad ke-20, istilah teknologi ini tidaklah lazim dalam bahasa Inggris, dan biasanya merujuk pada penggambaran atau pengkajian seni terapan.

Istilah ini seringkali dihubungkan dengan pendidikan teknik, seperti di Institut Teknologi Massachusetts (didirikan pada tahun 1861). Istilah technology mulai menonjol pada abad ke-20 seiring dengan bergulirnya Revolusi Industri Kedua.

Pengertian technology berubah pada permulaan abad ke-20 ketika para ilmuwan sosial Amerika, dimulai oleh Thorstein Veblen, menerjemahkan gagasan-gagasan dari konsep Jerman, Technik, menjadi technology.

Pada dasawarsa 1930-an, technology tidak hanya merujuk pada ‘pengkajian’ seni-seni industri, tetapi juga pada seni-seni industri itu sendiri. Pada tahun 1937, seorang sosiolog Amerika, Read Bain, menulis bahwa technology “teknologi meliputi semua alat, mesin, aparat, perkakas, senjata, perumahan, pakaian, peranti pengangkut/pemindah dan pengomunikasi, dan keterampilan yang memungkinkan kita menghasilkan semua itu”.

Perkembangan teknologi dan inovasi terbaru akan melahirkan kreativitas masyarakat perajin batik di berbagai daerah. Namun kita juga sebagai masyarakat batik tradisional perlu membatasi dan menjaga pelestarian batik ini dari seluruh kreatifitas manusia yang cenderung untuk mengganti dari proses-proses batik secara tradisional dan dijadikan secara mekanisasi.

Berbeda dengan kreatifitas dan inovasi yang dihasilkan oleh sekelompok manusia yang telah menciptakan alat-alat yang justru bisa membantu kesulitan bagi perajin batik ketika ada kendala yang tidak bisa dihadirkan atau didapatkan secara gratis dari sumber daya alam yang tersedia, misalkan ketersediaan sinar matahari dan panas matahari yang digunakan untuk proses produksi batik.

Teknologi telah mempengaruhi masyarakat dan sekelilingnya dalam banyak cara. Namun banyak pula proses pemanfaatan teknologi ini menghasilkan produk sampingan yang tidak dikehendaki oleh sebagian masyarakat atau komunitas tertentu, yang disebut pencemar, dan menguras sumber daya alam, merugikan, dan merusak bumi dan lingkungannya.

Berbagai macam penerapan teknologi telah memengaruhi nilai suatu masyarakat, dan teknologi baru seringkali mencuatkan pertanyaan-pertanyaan permasalahan baru. Sebagai contoh, meluasnya pemanfaatan teknologi textile printing machine dalam konteks produktivitas manusia, suatu istilah yang pada awalnya hanya menyangkut permesinan tekstil, kini menjadi sebuah tantangan norma-norma batik tradisional.

Pemanfaatan Teknologi Di Kerajinan Batik

Dalam dasawarsa belakangan ini kita bisa menyaksikan ditemukannya alat-alat baru yang dapat dipergunakan dalam melengkapi sejarah batik tradisional Indonesia.

Dan kita tidak bisa menghindari dari tumbuhnya kreatifitas sekelompok manusia yang telah menciptakan teknologi-teknologi baru yang justru menambah dan melengkapi bagian dari pelestarian tradisi batik tradisional Indonesia.

Berdasarkan pendapat dari A.W. Widjaja (1986) mengartikan pelestarian sebagai kegiatan atau yang dilakukan secara terus menerus, terarah dan terpadu guna mewujudkan tujuan tertentu yang mencerminkan adanya sesuatu yang tetap dan abadi, bersifat dinamis, luwes, dan selektif.

Ditambahkan oleh Jacobus Ranjabar tentang pelestarian budaya lokal, mengemukakan bahwa pelestarian norma lama bangsa (budaya lokal) adalah mempertahankan nilai-nilai seni budaya, nilai tradisional dengan mengembangkan perwujudan yang bersifat dinamis, serta menyesuaikan dengan situasi dan kondisi yang selalu berubah dan berkembang.

Bila kita inventarisasi alat-alat serta teknik yang ditemukan oleh generasi baru dalam teknologi batik diantaranya adalah canting listrik, kompor listrik, alat mencanting mesin, mesin pengering, mesin digitalisasi ragam hias batik, teknologi software pembuatan desain batik fraktal, teknologi malam dingin batik, teknologi alat-alat pewarna batik (spray gun), batik fisika, hingga pada mesin Fotonik Batik.

Temuan-temuan teknologi dalam dunia batik seperti tersebut di atas justru akan memperkaya baik dari segi teknik dalam membuat batik maupun dari segi kompetensi tenaga manusianya itu sendiri.

Antipasti atau phobia dengan hadirnya teknologi tersebut seharusnya tidak perlu ada. Yang diperlukan adalah membatasi hal-hal yang akan merusak keabsahan dari proses batik itu sendiri.

Mengacu pada konsensus para budayawan, balai besar batik dan pecinta batik tradisional bahwa dalam proses batik mutlak harus menggunakan malam dingin dan menggunakan canting sebagai alat yang digunakan pada proses pelilinan. Hal tersebut harus kita jaga serta pertahankan bersama, jangan sampai dalam proses pelilinan tidak lagi menggunakan alat-alat tradisional dan menggunakan lilin/malam panas.

Selain itu kita harus sepakat bahwa istilah batik merupakan budaya luhur bangsa Indonesia yang didalamnya berisikan tentang adanya ajaran serta falsafah hidup manusia, ada lantunan do’a dan harapan, ada cerita kehidupan serta berisi perlambangan yang mewarnai kehidupan manusia masa lalu dan masa mendatang.

Teknologi Fotonik Batik

Berawal dari sebuah kebutuhan mendesak produksi Batik Komar memenuhi pesanan dari Maiyet New York USA tahun 2015, kualitas dan kuantitas produksi harus on time dalam sebuah line schedule yang ketat. Dan hal ini harus berhadapan dengan kendala alam, dimana anomali musim penghujan tengah merudung khususnya di wilayah Indonesia pada umumnya.

Pada proses produksi batik, khususnya dalam proses pewarnaan batik sebagian menggunakan sinar matahari untuk mengaktivasi warna dan pengering. Tahap aktivasi warna sebenarnya tidak membutuhkan waktu lama, namun sinar matahari harus benar-benar terik agar reaksi kimia berlangsung sempurna dan terjadi warna yang cemerlang seperti yang kita kehendaki.

Di Indonesia, ketersediaan sinar matahari sangat terpengaruh oleh musim. Pada musim kemarau, sinar matahari sangat berlimpah. Akan tetapi ketika datang musim hujan sinar matahari yang terik maupun lama sangat langka.

Para perajin batik tradisional selama musim hujan 3-4 bulan, proses produksi batik dengan jenis cat pewarna indigosol mengalami penurunan hingga setengah dari total kapasitas produksinya dalam setahun. Untuk mengatasi hal tersebut perlu dilakukan inovasi dalam pembuatan alat kerja yang bisa meningkatkan kapasitas produksi batik yang bisa berdampak pada peningkatan pendapat para perajin Batik secara umum.

Timbul gagasan kemudian untuk menciptakan alat bantu yang bisa menghasilkan sinar ultra violet (UV) buatan yang bisa menggantikan fungsi matahari tersebut untuk membantu proses pewarnaan batik.

Atas kerjasama dengan Dr. Eko Mursito Budi dosen Fisika Teknik ITB lahirlah ide atau gagasan untuk membuat mesin Fotonik Batik yang pada waktu itu sekaligus sebagai temuan alat baru untuk melengkapi penyelesaian studi doktoral Komarudin Kudiya di FSRD-ITB.

Riset dimulai dari awal tahun 2015 dan dihasilkan alat fotonik batik generasi pertama yang sangat manual sekali. Riset pertama ini berhasil dengan baik dan telah bisa membantu dalam proses mengaktivasi foton dan menghasilkan warna yang sesuai dengan yang diharapkan.

Proses selanjutnya dalam mengembangkan mesin Fotonik Batik ini didanai oleh Kemenristek Dikti dan menghasilkan mesin Fotonik Batik yang semi otomatis dan telah menggunakan sistem komputerisasi.

Untuk melengkapi dari cara kerja mesin fotonik batik ini kita memerlukan data panjang gelombang yang dibutuhkan untuk tiap-tiap pewarna serta kebutuhan dari energi listrik yang dibutuhkan untuk mengaktivasi fotonnya. Dengan demikian kita gunakan lightmeter untuk mengumpulkan data-data tersebut.


Gambar : Mesin Fotonik Batik generasi pertama

Mesin Fotonik Batik ini telah didaftarkan secara resmi ke Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual, Kementrian Hukum dan HAM RI untuk mendapatkan pengakuan Patent Industri.

Proses selanjutnya dalam mengembangkan mesin Fotonik Batik ini didanai oleh Kemenristek Dikti dan menghasilkan mesin Fotonik Batik yang semi otomatis dan telah menggunakan sistem komputerisasi.

Untuk melengkapi dari cara kerja mesin fotonik batik ini kita memerlukan data panjang gelombang yang dibutuhkan untuk tiap-tiap pewarna serta kebutuhan dari energi listrik yang dibutuhkan untuk mengaktivasi fotonnya. Dengan demikian kita gunakan lightmeter untuk mengumpulkan data-data tersebut.


Cara kerja mesin fotonik batik ini adalah sinar ultra violet dan energi listrik yang dihasilkan ini dapat mengaktivasi foton yang ada didalam larutan zat pewarna indigosol, sehingga ketika kain yang teraktivasi tersebut dan dimasukkan kedalam larutan oksidator (asam sulfat) tersebut warna akan teraktivasi dan munculah warna-warna yang kita kehendaki tanpa membutuhkan penyinaran dari matahari.

Dengan menggunakan mesin Fotonik Batik generasi yang terbaru, kita bisa mengatur dengan mudah kebutuhan UV serta energi listrik yang dibutuhkan untuk tiap-tiap jenis pewarna indigosol. Untuk mengaktivasi foton yang ada pada lembaran kain dengan panjang 2,5 meter ini dibutuhkan waktu maksimal 10 menit.

Pada pengembangan mesin Fotonik dimasa mendatang, sedang diupayakan rekayasa konstruksi ukuran, meminimalisasi biaya produksi, fungsi dan model yang lebih sederhana, namun memiliki kemampuan yang melebihi dari generasi sebelumnya, sehingga alat mesin Fotonik Batik ini bisa diserap oleh para perajin batik kecil yang sekiranya sangat membutuhkan fungsi dari alat tersebut.

Peningkatan Produksi Batik dengan Fotonik Batik

Waktu efektif untuk produksi batik tradisional, khususnya untuk penggunaan zat warna indigosol dalam sehari adalah enam jam. Kemudian jumlah hari efektif dalam setahun kurang lebih 191 hari, hal ini dikarenakan dipotong musim hujan dan hari-hari libur nasional dan libur hari raya lebaran. Sehingga total jam kerja dalam setahun adalah 1.146 jam.

Sedangkan kapasitas produksi per jam dengan asumsi satu orang pekerja bagian pewarnaan akan mengerjakan sebanyak lima potong kain dengan ukuran standar dua meter. Sehingga total kapasitas produksi dalam setahun bisa mengerjakan sebanyak 5.730 potong. Bila harga kain Batik dengan zat warna indigosol Rp 300.000,-/panel maka jumlah total omzet Rp. 1.719.000.000,-.

Adapun perkiraan produksi batik dengan menggunakan alat batik fotonik sebagai berikut: waktu kerja normal dalam sehari enam jam, kemudian dikarenakan musim hujan (tiga bulan) bisa tetap produksi, maka jumlah jam akan bertambah sebanyak 100 jam, sehingga ada tambahan waktu kerja sebanyak 600 jam dalam setahun.

Bila ditambah dengan jam lembur dalam sehari delapan jam, alat ini masih bisa digunakan saat malam hari dengan catatan ada sumber daya listrik. Maka total hari kerja dalam setahun bisa bertambah menjadi 291 hari/tahun atau setara dengan 2.928 jam/tahun.

Dengan asumsi bisa mengerjakan lima potong kain dengan ukuran dua meter, total produksinya bisa mencapai 14.640 potong/tahun. Bila harga kain batik dengan zat warna indigosol Rp 300.000,-/panel maka jumlah total omzet Rp. 4.392.000.000,-.

Perhitungan sbb:
Total kenaikan = (Rp. 4.392.000.000 – Rp. 1.719.000.000)
___________ X 100%
Rp. 4.392.000.000
= 155.5 % ditambah dengan produksi sebelumnya 100%
= 255.5 persen (adanya kenaikan dalam produksi dan omset)

Penambahan prosentase yang sangat signifikan tersebut akan berdampak pada keuntungan para perajin Batik tradisional maupun peluang yang sangat menjanjikan untuk pengembangan industri kerajinan batik tradisional di berbagai daerah.

Pangsa Pasar Batik Indonesia

Jumlah perajin batik tradisional yang kini tersebar hampir ke seluruh pelosok nusantara berdasarkan data dari Yayasan Batik Indonesia sudah mencapai 8.000, dan jumlah perajin batiknya 400.000 orang (sumber : Yayasan Batik Indonesia).

Penduduk Indonesia di tahun 2017 berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Indonesia telah mencapai 262 juta jiwa. Dengan jumlah total populasi tersebut, penduduk Indonesia adalah negara berpenduduk terpadat nomor empat di dunia dan merupakan tujuan pasar terbesar untuk pemasaran produk batik.

Peraturan pemerintah tentang pemakaian busana kerja Batik minimal satu kali dalam seminggu, merupakan peluang yang sangat besar bagi pasar Batik khususnya dalam negeri, belum lagi melihat peluang pasar di luar Indonesia.

Bila kita asumsikan setengah dari penduduk Indonesia merupakan pengguna kain-kain Batik, maka peluang pasar yang tersedia sudah mencapai 131.000.000 orang, ini memberikan arti yang besar bagi aktifitas ekonomi kerakyatan. Industri kerajinan Batik di Indonesia pada umumnya bergerak pada level usaha kecil menengah.

Pemakaian busana batik, kini sudah semakin bervariasi tidak hanya terbatas sebagai kain penutup anggota tubuh, namun juga sudah digunakan pada kebutuhan asesoris fashion dan pelengkap interior rumah atau sebagai elemen estetis.

Batik sebagai busana kini telah digunakan dari mulai usia dini, remaja, dewasa hingga usia yang sudah lanjut. Sehingga dengan adanya kendala curah hujan yang cukup besar di Indonesia maka layak untuk dicarikan solusi berupa ketersediaan alat bantu hasil upaya inovasi dengan teknologi yang tepat, harga alat yang bisa terjangkau serta mudah dalam pengoperasiannya sehingga perajin batik terus dapat berproduksi sekaligus bisa meningkatkan kapasitas produksi batik tradisional tersebut dalam segala cuaca.

Kesimpulan

Mesin Fotonik Batik sudah terbukti dapat memberikan manfaat yang sangat besar bagi produsen Batik tradisional yang menggunakan cat warna Indigosol khususnya pada saat musim hujan. Selanjutnya alat ini dapat meningkatkan jumlah kapasitas produksi, karena alat ini bisa digunakan pada waktu malam hari asalkan ada sumber energi listrik yang cukup. Selain itu dapat memberikan tingkat konsistensi pada warna yang dihasilkan lebih merata.

Adapun kekurangan dari alat Mesin Batik Fotonik untuk sementara harga unit produksi masih relatif cukup mahal, berikutnya jangka waktu pewarnaan relatif lebih lama dengan perbedaan waktu kurang lebih 5 hingga 10 menit untuk menghasilkan warna pada kain batik dengan ukuran yang sama bila diwarna langsung dengan matahari.

Mesin Fotonik Batik batik ini masih terus dikembangkan oleh para ahlinya, dan diharapkan dikemudian hari akan dihasilkan mesin Fotonik Batik yang lebih canggih serta dengan perolehan harga yang murah dan terjangkau oleh UKM/IKM batik, sehingga akan lebih bisa meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi batik Indonesia.

Kami pastikan bahwa mesin Fotonik Batik ini bukan untuk menggusur dan mengganti fungsi tradisi batik-batik tradisional, justru ini akan memberikan nilai tambah dan nilai estetik bagi produksi batik-batik tradisional.

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading…

Sejarah Batik

Mereguk Sejarah Batik Di Segelas Kopi Tahlil (3)

motif parang larangan

Batik Amarah Dudung Aliesyahbana Dengan Modifikasi Motif Parang