Eksplorasi motif batik Jawa Barat banyak dilakukan olehnya. Tumbuh dan berkembang di daerah Trusmi, Cirebon, Komarudin Kudiya membuka diri justru jauh dari tanah kelahirannya. Di wilayah Cigadung, Bandung, ia mengeksplorasi motif lawasan dan motif baru dari berbagai belahan Jawa Barat. Melalui workshop yang sekaligus menjadi destinasi wisata batik di daerah Bandung, ia berusaha mengubah stigma dari cara berdagang door to door menjadi terpusat, yakni dengan cara membuka showroom. Berbagai model baju batik Batik Komar pun bermunculan.
Ia mendokumentasikan motif-motif batik yang telah Dari motif-motif tak terdokumentasikan menjadi computerized. Eksplorasinya kini meraambah ke satu motif batik Cirebon yang nyaris punah yakni Pegajahan Cirebon. Ragam hiasnya mirip dengan ragam hias yang hidup di dalam keraton. Ciri khasnya adalah menonjolkan ragam hias gajah yang dibuat dalam bentuk stilasi (perubahan bentuk) karena unsur Islam yang melarang gambar berwujud natural. Ragam hiasnya menjadi bentuk wadasan menyerupai anatomi gajah bagian kepala. Dulunya motif Pegajahan dibuat oleh santri yang menjalani syariat Islan melalui ajaran tarekat. Batik Pegajahan bersifat maskulin karena dibuat oleh kaum laki-laki pada masa itu.
Batik pesisiran Cirebon punya khasanah budaya batik yang variatif. Batik Cirebon terbagi menjadi beberapa sumber dengan ciri khas sebagai berikut: batik keraton Kasepuhan berciri khas ragam hias singa barong, batik keraton Kanoman berciri khas ragam hias paksi nagaliman, batik keraton Kacirebonan berciri khas ragam
hias bintulu, batik Peguron Kaprabonan berciri khas ragam hias dalung dan motif tanpa gambar hewan. Representasi ragam hias batiknya sarat dengan pesan dan ajaran simbolis, kehidupan, mitos, dan spiritualitas.
Koleksi ragam hias Komarudin Kudiya kali ini menampilkan motif antara lain: Rajegwesi, Singa Banaspati, Sirah Liman, Sulur Kembang, Taman Arum Sunyaragi, Taman Teratai, Telaga Teratai, dan Wadas Gerompol.










Batiklopedia.com

