https://tk.tokopedia.com/ZShCCaaWK/
in ,

Diskusi Tenun Sumba di KCBI Bandung: Menggali Makna “Tanah, Tangan, dan Tutur” dalam Wastra Nusantara

Diskusi tenun Sumba di KCBI Bandung ungkap makna “Tanah, Tangan, dan Tutur” sebagai filosofi wastra Nusantara sarat nilai budaya.

Bandung – Suasana hangat dan penuh refleksi terasa dalam sesi bincang budaya pada peringatan 11 tahun Komunitas Cinta Berkain Indonesia (KCBI) Cabang Bandung di Workshop Batik Komar, Cigadung. Diskusi yang menghadirkan pakar tenun Sumba Timur, Dr. Laely Indah Lestari, menjadi salah satu momen paling menyentuh dalam rangkaian acara tersebut.

Diskusi tenun Sumba di KCBI Bandung ungkap makna “Tanah, Tangan, dan Tutur” sebagai filosofi wastra Nusantara sarat nilai budaya.

Mengusung tema “Tanah, Tangan, dan Tutur dalam Tradisi Tenun Sumba”, diskusi ini tidak sekadar membahas kain sebagai produk tekstil, tetapi mengajak peserta menyelami makna mendalam di balik setiap helai wastra Nusantara.

Di hadapan komunitas berkain, perajin, akademisi, dan pecinta budaya, Dr. Laely membuka ruang refleksi tentang pentingnya kebanggaan terhadap wastra Indonesia. Ia menegaskan bahwa kain bukan hanya benda pakai, melainkan medium yang menyimpan sejarah, nilai, dan identitas masyarakat.

“Kain itu berbicara, kain itu berkomunikasi,” ujarnya. Melalui motif, warna, dan simbol, tenun Sumba menghadirkan bahasa nonverbal yang menyampaikan pesan sosial, spiritual, hingga kultural yang diwariskan lintas generasi.

Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa dalam masyarakat Sumba Timur, kain juga merepresentasikan struktur sosial. Motif tertentu hanya dikenakan oleh kalangan bangsawan, sementara motif lainnya digunakan oleh masyarakat umum. Dengan demikian, kain menjadi penanda identitas yang melekat pada pemakainya.

Diskusi tenun Sumba di KCBI Bandung ungkap makna “Tanah, Tangan, dan Tutur” sebagai filosofi wastra Nusantara sarat nilai budaya.

Tidak hanya soal makna, proses menenun pun menyimpan dimensi yang kompleks. Aktivitas ini melibatkan hubungan antara manusia, alam, dan leluhur. Ritual-ritual tertentu yang menyertai proses menenun menunjukkan bahwa wastra lahir dari sebuah praktik yang sarat spiritualitas.

Dalam paparannya, Dr. Laely memperkenalkan konsep “Tanah, Tangan, dan Tutur” sebagai pendekatan untuk memahami tenun Sumba. “Tanah” merujuk pada sumber bahan alami, terutama pewarna dari tumbuhan. “Tangan” mencerminkan keterampilan dan ketekunan penenun. Sementara “Tutur” menjadi representasi cerita, nilai, dan pengalaman hidup yang tertuang dalam motif kain.

Konsep ini memperlihatkan bahwa wastra tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari ekosistem budaya yang utuh—menghubungkan manusia dengan lingkungan, tradisi, dan narasi kehidupan.

Namun, di tengah kedalaman makna tersebut, Dr. Laely juga menyoroti tantangan yang dihadapi, terutama dari perubahan perspektif generasi muda. Ia menilai bahwa terjadi pergeseran cara pandang, dari yang semula sarat nilai filosofis menjadi lebih praktis dan modern.

Meski demikian, ia tetap optimistis bahwa dengan pendekatan edukatif dan dialog budaya, generasi muda dapat kembali memahami esensi wastra sebagai identitas bangsa.

Diskusi tenun Sumba di KCBI Bandung ungkap makna “Tanah, Tangan, dan Tutur” sebagai filosofi wastra Nusantara sarat nilai budaya.

Diskusi yang dimoderatori Yudha Perdana ini mendapat respons positif dari peserta. Banyak yang mengaku memperoleh perspektif baru tentang wastra sebagai sistem makna yang hidup, bukan sekadar produk estetika.

Kegiatan ini menjadi salah satu sorotan dalam perayaan KCBI Bandung, sekaligus menegaskan komitmen komunitas dalam mengedukasi masyarakat tentang pentingnya pelestarian budaya melalui pendekatan yang kontekstual dan inspiratif.

Semangat “berkain dengan cinta” yang digaungkan dalam forum ini diharapkan terus menginspirasi masyarakat, terutama generasi muda, untuk lebih mengenal, mencintai, dan menjaga wastra Nusantara sebagai bagian dari jati diri bangsa.

Penulis: Dr. Komarudin Kudiya. S.IP., M.Ds.

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

DJKI susun juklak IG di Bandung, buka akses sertifikasi INDIGEO batik, perkuat pelindungan hukum dan daya saing produk lokal.

DJKI Perkuat Indikasi Geografis di Bandung

Mahasiswa UI hadirkan UMKM-GO berbasis AI untuk bantu analisis usaha dan jembatani UMKM dengan investor secara efisien.

Mahasiswa UI Ciptakan UMKM-GO, Solusi Digital Berbasis AI untuk Dukung Pengembangan UMKM