ASEPHI atau Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia memasuki babak baru dalam penguatan industri kriya nasional. Di tengah persaingan global yang semakin ketat, organisasi yang telah berdiri selama lebih dari lima dekade ini terus berupaya meningkatkan kapasitas para pelaku usaha, khususnya UMKM, agar mampu bersaing di pasar internasional.

Menurut Samsul Huda, Bendahara ASEPHI Periode 2024–2029, tantangan industri kriya saat ini tidak hanya berasal dari perubahan pasar, tetapi juga dari semakin agresifnya negara-negara pesaing yang berhasil memadukan teknologi dengan proses produksi kerajinan.
“Persaingan terbesar kita saat ini datang dari negara-negara seperti Vietnam dan Thailand. Sepuluh tahun lalu mereka masih berada di bawah Indonesia, tetapi sekarang mereka sudah selangkah lebih maju karena berhasil mengintegrasikan teknologi ke dalam industri kriya,” ujarnya.
Fenomena tersebut menjadi salah satu alasan mengapa ASEPHI mulai mendorong pemanfaatan teknologi di kalangan perajin. Namun teknologi yang dimaksud bukanlah penggantian total proses manual dengan mesin, melainkan pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan kualitas dan efisiensi produksi.
“Teknologi bukan musuh bagi kerajinan. Semakin tepat teknologi diterapkan dalam proses produksi, maka kapasitas produksi meningkat dan kualitas produk juga menjadi lebih baik,” kata Samsul.
Ia mencontohkan penggunaan teknologi desain tiga dimensi (3D) dalam proses pengembangan produk maupun penerapan sistem semi-mekanis pada alat produksi tradisional. Menurutnya, selama unsur keterampilan tangan manusia masih dominan, produk tersebut tetap masuk kategori handicraft.
Selain teknologi, aspek pembiayaan menjadi perhatian utama ASEPHI. Banyak pelaku UMKM kriya yang sebenarnya telah memiliki pasar dan bahkan kontrak ekspor, namun masih kesulitan memperoleh akses permodalan.
Karena itu ASEPHI aktif menjalin kerja sama dengan Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk mencari solusi yang lebih berpihak kepada pelaku usaha.
“Kami mengusulkan agar purchase order atau kontrak pesanan dapat dipertimbangkan sebagai bentuk jaminan dalam pengajuan pembiayaan usaha. Banyak anggota kami yang sudah memiliki order, tetapi kesulitan mendapatkan akses modal karena persoalan kolateral,” jelasnya.
Selain memperjuangkan akses pembiayaan, ASEPHI juga memperbanyak program pelatihan di berbagai daerah. Materi yang diberikan mencakup pemasaran digital, standar ekspor, sertifikasi internasional, hingga peningkatan kualitas produk sesuai kebutuhan pasar global.
Langkah tersebut dinilai penting karena pasar ekspor memiliki tuntutan yang berbeda dibanding pasar domestik. Produk yang diterima pasar lokal belum tentu memenuhi standar negara tujuan ekspor.
“Kami ingin anggota tidak hanya mampu memproduksi barang yang bagus, tetapi juga memahami regulasi dan kebutuhan buyer internasional,” kata Samsul.
Melalui kombinasi inovasi, teknologi, pelatihan, dan dukungan pembiayaan, ASEPHI berharap industri kriya Indonesia mampu kembali menjadi pemain utama di pasar global.
“Indonesia memiliki kekayaan budaya dan kreativitas yang luar biasa. Tinggal bagaimana kita memperkuat daya saingnya agar bisa terus berkembang di pasar dunia,” tuturnya.
Meta Deskripsi:
ASEPHI memperkuat UMKM kriya melalui pelatihan, teknologi, dan akses pembiayaan guna meningkatkan daya saing ekspor.

