https://tk.tokopedia.com/ZShCCaaWK/
in ,

Ary Okta: Ruang Ekologis, Seni, Batik, dan Karakter Anak Bangsa

Pala Kali Kreatif: ruang seni ekologis yang membangun karakter anak lewat daur ulang, batik, dan kesadaran lingkungan sejak 2009.

Di sudut perkampungan urban yang mulai padat dan sempit, berdiri sebuah ruang yang nyaris tak disangka menyimpan energi besar. Namanya Palakali Creative Art Space — Palakali diambil dari nama jalan tempatnya berdiri. Namun bukan sekadar nama, tempat ini menjadi kepala gagasan, kepala harapan, dan kepala keresahan yang menjelma jadi ruang tumbuh bagi kreativitas dan kesadaran ekologis.

Pala Kali Kreatif: ruang seni ekologis yang membangun karakter anak lewat daur ulang, batik, dan kesadaran lingkungan sejak 2009.
Palakali Creative Art Space adalah ruang seni ekologis yang membangun karakter anak lewat daur ulang, batik, dan kesadaran lingkungan sejak 2009.

Didirikan sejak tahun 2009 oleh pasangan seniman lulusan ISI — sang suami menekuni desain interior dan kontraktor. Sedangkan sang istri, Ary Okta, berlatar Desain Komunikasi Visual dan melanjutkan studi magister Seni Urban di IKJ — Palakali Creative Art Space bukan sekadar studio seni. Ia adalah laboratorium eksperimentasi sosial, ruang batin tempat tumbuhnya kepedulian, kreativitas, dan ekologi.

Dari Kebun Sayur ke Laboratorium Seni Alternatif

Pala Kali Kreatif: ruang seni ekologis yang membangun karakter anak lewat daur ulang, batik, dan kesadaran lingkungan sejak 2009.

Awalnya hanya kebun sayur pribadi. Namun, perlahan ruang ini tumbuh menjadi ekosistem yang terbuka bagi siapa saja, terutama anak-anak. Alih-alih membangun galeri steril dan modern, Palakali Creative Art Space memilih menghidupkan kembali rumah kayu lama dan mengisinya dengan properti hasil daur ulang: kursi dari kayu bekas, meja dari peti kemas, hingga pemilah sampah dari drum industri. Setiap benda punya cerita. Setiap sudut mengandung nilai.

“Anak-anak yang datang ke sini bebas berkarya dengan bahan-bahan bekas. Mereka belajar misalnya, menyusun rumah anti-gempa, menciptakan alat musik dari kaleng, hingga membuat karya dari daun kering,” tutur Ary Okta. Tapi yang dibangun bukan semata kreativitas visual. “Kami ingin menumbuhkan karakter positif: kejujuran dalam proses, tanggung jawab setelah berkarya, dan kesadaran akan bumi yang terus kita lukai.”

Mendidik dan Membangun Karakter Lewat Limbah

Pala Kali Kreatif: ruang seni ekologis yang membangun karakter anak lewat daur ulang, batik, dan kesadaran lingkungan sejak 2009.

Di Palakali Creative Art Space, seni rupa tak hanya dimaknai sebagai keterampilan teknis, tapi sebagai alat pendidikan karakter. Karya anak-anak yang terpajang bukan hasil seleksi ketat, melainkan cermin dari proses: kadang naif, kadang jujur, kadang menyentuh realitas keluarga mereka sendiri. Seperti karya anak SD tentang rumah tahan gempa, atau instalasi bubble wrapping dari anak yang ibunya kerap menerima kiriman selama pandemi.

“Tujuan kami bukan mencetak seniman,” ujar Ary Okta, “tapi membangun karakter: kejujuran, keberanian mengambil keputusan, tanggungjawab. Semua itu tumbuh dari proses berkarya.”

Ekosistem Edukatif dan Bisnis Berbasis Reuse

Selain ruang edukatif, Palakali Creative juga menjadi basis usaha desain interior yang menerapkan prinsip reuse product. Material yang digunakan berasal dari sisa konstruksi, besi tua, kabel bekas, hingga limbah kayu. “Kami sekaligus konsultan dan kontraktor, jadi bisa mengedukasi sambil membangun,” jelasnya. Perlahan, konsep keberlanjutan pun mulai diterima klien, meski mayoritas masih terbiasa meminta desain baru.

Untuk menjaga keberlanjutan kegiatan di Palakali Creative Art Space, Ary Okta menerapkan sistem subsidi silang. Program kunjungan sekolah, playdate keluarga, hingga kelas seni untuk anak dan dewasa ditawarkan dengan biaya terjangkau—bahkan gratis untuk warga sekitar yang membutuhkan.

Batik, Tradisi, dan Pelajaran Tentang Kesabaran

Sebagai perupa, Ary Okta menempatkan batik bukan hanya sebagai warisan visual, melainkan pelajaran hidup. “Batik itu tentang konsentrasi, tanggung jawab, dan kesabaran. Lewat canting, lilin, dan titik-titik yang sabar, saya belajar mengelola hidup,” ungkapnya. Nilai-nilai ini pula yang ia tanamkan dalam setiap aspek program di Palakali Creative.

Dalam pandangannya, seni rupa Indonesia kini bergerak ke arah yang lebih demokratis. “Anak muda sekarang bisa berkarya tanpa harus menunggu masuk galeri nasional. Mereka bisa jual ilustrasi, buat konten, atau bikin merchandise dari motif batik.” Dan itu menjadi harapan: bahwa seni rupa bisa hadir di ruang siapa pun, bukan hanya menara gading.

“Sedekah Oksigen” dan Warisan Kesadaran

Bagi Ary Okta, Palakali Creative Art Space adalah bentuk “CSR pribadi.” Tak ada promosi besar, hanya Instagram dan kabar dari mulut ke mulut. Tapi animo terus tumbuh, terutama pasca pandemi, saat kesadaran akan pentingnya ruang kreatif dan ekologis semakin terasa. Ia menyebutnya “sedekah oksigen”: di ruang sekecil apapun, kita bisa menanam, membangun, dan berbagi.

Lebih dari 15 tahun Palakali Creative Art Space berdiri lebih dari sekadar ruang seni. Ia adalah ruang hidup—bagi limbah, bagi anak-anak, dan bagi masa depan. Sebuah tempat di mana seni, lingkungan, dan karakter bertemu; di mana budaya bukan nostalgia, tapi cara hidup yang terus dirajut.

“Kalau bukan kita yang bangga pada batik, pada budaya, pada bumi—siapa lagi?” tutup wanita kelahiran Tulungagung dengan senyum sederhana namun penuh keyakinan.

Foto: Kuncoro Widyo Rumpoko

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

eaJ Park tampil memukau di Prambanan Jazz 2025, kenakan batik Nusantara dan suarakan solidaritas untuk Palestina di atas panggung.

eaJ Park Tampil Dua Kali di Prambanan Jazz 2025: Bangga Kenakan Batik Nusantara

Pusat Batik Trusmi Cirebon

Forkopimda Cirebon Tertibkan Kawasan Wisata Batik Trusmi