Regenerasi pembatik Cirebon, sama halnya dengan di banyak daerah penghasil batik lainnya, mengalami kendala serupa yang dramatis, terjadi pasca pandemi Covid-19. Hal itu datang dari minat yang kurang dari generasi muda di Cirebon berkiprah melanjutkan usaha batik atau bahkan tak tertarik sama sekali berprofesi di dunia batik.

“Sebanyak 30% kita kekurangan para generasi batik baru. Karena peluang buat mereka itu sudah ada beberapa pekerjaan-pekerjaan lain seperti bekerja di minimarket,” ujar Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Cirebon Hilmy Riva’I saat ditemui di event CSR Oreo Berbagi, di Aston Cirebon (11/11).
Menurut Hilmy, sebagai sentra batik, Cirebon kini memiliki kurang lebih 3.000 perajin batik dan 500 pengusaha batik. Kebutuhan akan regenerasi menjadi penting untuk kelangsungan kerajinan batik Cirebon di masa depan.
Hilmy juga menekankan batik selain karya seni, tapi punya dampak multiplayer efek. Banyak usaha penyerta dan ragam keahlian yang tumbuh karenanya.
Selain peran pemerintah daerah, ada peran swasta yang tidak kalah penting untuk menumbuhkembangkan industri dan regenerasi batik. Dan Hilmy mengapresiasi peran pihak lain yang mendukung upaya membangkitkan semangat pembatik di Kabupaten Cirebon.
“Ini kebanggaan bagi masyarakat Kabupaten Cirebon karena salah satu produk Oreo yang dipasarkan itu menggunakan batik Mega Mendung. Ini sebuah kebanggaan dan ini batik Mega Mendung itu tidak hanya mewakili Jawa Barat saja ternyata pulau Jawa yang batiknya ditampilkan di salah satu produknya itu adalah Mega Mendung,” pungkasnya.

