Motif Batik Sukabumi Rereng Gunung Parang diambil dari nama Sukabumi terdahulu yaitu Gunung Parang.

Nama Gunung Parang berasal dari bentukan bukit yang menyerupai parang (salah satu jenis senjata tajam). Motif batik ini dilahirkan sebagai upaya untuk merawat ingatan dan menjaga masa lalu salah satu cerita rakyat Pakujajar di Gunung Parang.
Suasana batin yang tersirat di dalamnya yaitu harapan, keteguhan, optimisme, dan semangat pembuktian.
Cerita Pakujajar di Gunung Parang memuat pesan moral yang membentuk identitas diri manusia Sukabumi. Nyai Pudak Arum dan Wangsa Suta, dua tokoh utama dalam cerita, memiliki perwatakan sebagai mana terlukis dalam “Rereng Gunung Parang”.
Harapan, keteguhan, optimisme, dan semangat pembuktian dalam diri Wangsa Suta telah menuliskan legenda hidupnya. Kampung halaman mereka, sebuah tempat dengan waruga lemah yang miring ke selatan, kelak melahirkan peradaban baru. Sekarang dikenal dengan nama Sukabumi.

