in

Batik Papua Menggali Inspirasi dari Piranti Tradisi

Batik Papua dikembangkan melalui enam motif terinspirasi piranti tradisi, memperkaya desain dan membuka peluang ekonomi kreatif.
Batik Papua dikembangkan melalui enam motif terinspirasi piranti tradisi, memperkaya desain dan membuka peluang ekonomi kreatif.

Batik Papua memiliki peluang untuk berkembang melalui kekayaan budaya yang selama ini belum sepenuhnya digali sebagai sumber inspirasi desain. Salah satu upaya tersebut dilakukan melalui penelitian “Piranti Tradisi dalam Kreasi Batik Papua”, yang diterbitkan dalam Dinamika Kerajinan dan Batik, Vol. 34, No. 2, Desember 2017, halaman 63–72. Penelitian ini ditulis oleh Irfa’ina Rohana Salma, Suryawati Ristiani, dan Anugrah Ariesahad Wibowo dari Balai Besar Kerajinan dan Batik, Yogyakarta.

Penelitian tersebut berangkat dari persoalan stagnasi desain batik Papua yang dinilai terlalu berorientasi pada burung Cendrawasih sebagai maskot daerah. Para peneliti kemudian menggali alternatif inspirasi dari budaya masyarakat Papua, khususnya piranti tradisi, yakni alat-alat tradisional yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari, pekerjaan, peperangan, maupun kesenian. Tujuannya adalah menciptakan motif baru yang tetap memiliki ciri khas Papua.

Bagi masyarakat Papua, piranti tradisi bukan sekadar benda fungsional. Peralatan seperti tifa, tombak, panah, dan perisai memiliki keterkaitan dengan kehidupan adat serta kesenian. Dalam penelitian ini, keunikan bentuk dan nilai budaya benda-benda tersebut dipelajari sebagai dasar penciptaan desain. Pendekatan ini menunjukkan bahwa sesuatu yang akrab dalam kehidupan sehari-hari dapat menjadi sumber gagasan kreatif ketika dilihat melalui sudut pandang baru.

Proses penciptaan dilakukan melalui pengumpulan data, pengkajian sumber inspirasi, pembuatan desain, dan perwujudan menjadi kain batik. Data primer diperoleh melalui observasi langsung ke Papua, sedangkan data sekunder berasal dari literatur yang relevan. Setelah itu, ide dikembangkan menjadi sketsa, pola terukur, dan prototipe batik pada kain katun menggunakan pewarna alam.

Hasilnya berupa enam motif, yaitu Honai Besar, Honai Kecil, Tifa Besar, Tifa Kecil, Tambal Ukir Besar, dan Tambal Ukir Kecil. Motif Honai terinspirasi dari rumah adat masyarakat Papua di pegunungan. Sementara itu, motif Tifa mengambil bentuk alat musik tradisional yang digunakan untuk mengiringi upacara adat dan tarian. Adapun Tambal Ukir memadukan ragam hias ukiran tradisional Papua dalam komposisi yang saling melengkapi.

Setiap motif membawa pesan budaya. Honai menggambarkan rasa syukur atas kekayaan alam dan budaya Papua. Tifa merepresentasikan kekuatan manusia yang dapat diwujudkan melalui keindahan. Sementara itu, Tambal Ukir memaknai persatuan berbagai suku Papua dalam menghadapi persoalan bersama. Perbedaan ukuran motif juga memberikan pilihan visual bagi konsumen.

Uji kesukaan terhadap 50 responden menunjukkan bahwa Motif Honai Kecil paling disukai dengan 21 persen, disusul Tifa Kecil 19 persen dan Honai Besar 17 persen. Hasil ini memperlihatkan bahwa konsumen menerima gagasan penciptaan motif baru khas Papua.

Penelitian tersebut juga menilai bahwa diversifikasi motif dapat memperluas pilihan konsumen, mendukung pengembangan suvenir wisata, serta membuka peluang bagi industri kreatif yang menyerap tenaga kerja. Dengan demikian, pengembangan batik Papua tidak hanya berkaitan dengan estetika, tetapi juga berpotensi memperkuat ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.


Sumber informasi: Irfa’ina Rohana Salma, Suryawati Ristiani, dan Anugrah Ariesahad Wibowo, “Piranti Tradisi dalam Kreasi Batik Papua,” Dinamika Kerajinan dan Batik, Vol. 34, No. 2, Desember 2017, hlm. 63–72.

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Wawancara Wakil Wali Kota Surakarta soal pelestarian batik tulis Solo melalui promosi dan Trade Expo Indonesia.

Wakil Wali Kota Surakarta Dorong Pelestarian Batik Tulis Solo Lewat Trade Expo Indonesia