Tokyo — Kolaborasi budaya dan kerajinan Indonesia-Jepang diwujudkan melalui pameran AYANASU KIZUNA yang digelar di Keio Plaza Hotel Shinjuku, Tokyo, Jepang. Pameran hasil kerja sama Galeri Batik Jawa Indigo dan Kazuka Osawa Bag Research Institute ini resmi dibuka pada 21 Agustus 2026.
Mengusung makna “ikatan yang terjalin”, pameran tersebut menjadi ruang pertemuan antara tradisi wastra dan kerajinan Indonesia dengan budaya kerajinan Jepang. Pameran menampilkan karya batik, produk berbasis wastra, serta fukuromono, yakni kerajinan berbentuk pembungkus atau wadah yang menjadi bagian dari tradisi Jepang.
Pembukaan pameran dihadiri Wakil Duta Besar KBRI Tokyo Maria Renata Hutagalung, Atase Perdagangan KBRI Tokyo Merry Astrid Indriasari, GM BNI Tokyo Hariadi Hendrawan, Direktur Departemen Strategi Pemasaran Keio Plaza Hotel Shun Takemura, perwakilan Tatsumura Art Textile Inc. Keiichi Suzuki, Prof. Michiyo Osawa bersama anggota Kazuka Osawa Bag Research Institute, serta Laretna T. Adishakti dan tim Galeri Batik Jawa Indigo dari Yogyakarta. Sejumlah media Jepang dan Indonesia juga hadir dalam acara tersebut.
Ketua penyelenggara pameran, Nami Suzuki, membuka acara dengan sambutan selamat datang. Selanjutnya, pimpinan kedua pihak kolaborator menyampaikan pandangan mengenai kerja sama Indonesia dan Jepang dalam pengembangan wastra dan kerajinan.
Prof. Michiyo Osawa menyampaikan kesannya setelah berkunjung ke Yogyakarta pada 2024. Menurutnya, Indonesia, khususnya Yogyakarta, memiliki kekayaan wastra dan batik yang indah, sekaligus didukung keberadaan perajin yang masih aktif berkarya.
Osawa juga melihat adanya kesamaan dalam tradisi kerajinan kedua negara. Jepang memiliki beragam wastra tradisional yang dikembangkan menjadi kerajinan tangan atau fukuromono, seperti tas alat musik, tas kimono, dan dompet. Produk-produk tersebut dikenal melalui ketelitian dan kerapian pengerjaannya.
Namun, keberadaan produsen wastra dan perajin fukuromono di Jepang semakin berkurang. Karena itu, Osawa berharap produsen dan perajin di Yogyakarta serta Indonesia dapat ikut memenuhi kebutuhan kerajinan tangan berbasis tradisi tersebut di Jepang. Kerja sama yang telah dimulai melalui pameran AYANASU KIZUNA diharapkan dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Sebagai bagian dari rencana pengembangan kerja sama, Osawa dijadwalkan kembali ke Yogyakarta pada akhir 2026 untuk memberikan pelatihan kerajinan tangan berbasis tradisi Jepang, khususnya fukuromono.
Sementara itu, Laretna T. Adishakti menyoroti kesamaan tradisi Indonesia dan Jepang dalam penggunaan pewarna alam berwarna biru dari tanaman indigo atau nila. Di Jepang, warna biru pekat tersebut dikenal sebagai Japan Blue dan berkaitan dengan tradisi tekstil aizome.
Dalam tradisi batik Jawa, penggunaan warna biru nila antara lain dikenal melalui batik Kelengan yang dalam perkembangannya juga dikenal sebagai batik indigo. Kesamaan tersebut menjadi salah satu titik temu dalam kolaborasi antara Galeri Batik Jawa Indigo dan Kazuka Osawa Bag Research Institute.
Adishakti juga menekankan pentingnya kemampuan para perajin sebagai bagian dari pusaka budaya tak benda yang perlu terus digali dan dikembangkan. Menurutnya, kerja sama yang dimulai dari hubungan antarindividu kedua negara diharapkan dapat berkembang menjadi penguatan hubungan Indonesia dan Jepang secara lebih luas.
Tampilkan Batik Yogyakarta hingga Fukuromono Jepang
Pameran AYANASU KIZUNA berlangsung di Area Utama Lobby serta dua lantai Gallery Lobby Keio Plaza Hotel. Di Area Utama Lobby, Galeri Batik Jawa Indigo menampilkan kain dan selendang dalam lima tema.
Kelima tema tersebut meliputi Batik Tradisional Jogja; Menghidupkan Batik Imogiri Jogja Pasca Gempa; Batik Indigo Alami Jogja oleh Galeri Batik Jawa Indigo sejak 2007; Jogja Kota Batik Dunia; serta Pengembangan Desain Terkini Galeri Batik Jawa “Kembang Kopi”.
Dalam tema Batik Tradisional Jogja dan Jogja Kota Batik Dunia, turut ditampilkan batik sogan karya Puro Pakualaman Yogyakarta.
Sementara di Gallery Lobby atas, Galeri Batik Jawa Indigo menampilkan berbagai kreasi batik yang dikembangkan dalam lima kelompok tema, yakni pengembangan batik tradisional pada sutra alam dan katun, zero waste products batik, batik untuk interior, batik untuk gaya hidup Jepang seperti fukuromono, furoshiki dan noren, serta perpaduan batik dengan shibori.
Shibori sendiri merupakan teknik pewarnaan kain tradisional Jepang yang dilakukan melalui proses melipat, mengikat, memelintir atau menjepit kain sebelum dicelupkan ke dalam pewarna. Perpaduan teknik tersebut dengan batik menjadi salah satu bentuk eksplorasi lintas tradisi yang ditampilkan dalam pameran.
Di Gallery Lobby bawah, Kazuka Osawa Bag Research Institute memamerkan berbagai fukuromono serta buku-buku karya Prof. Michiyo Osawa. Sejumlah fukuromono juga dibuat menggunakan batik sogan Puro Pakualaman dan batik indigo dari Galeri Batik Jawa Indigo.
Pameran AYANASU KIZUNA di Keio Plaza Hotel menjadi momentum untuk memperkenalkan kekayaan batik dan kerajinan Yogyakarta kepada publik Jepang sekaligus membuka peluang pengembangan produk berbasis wastra melalui pertukaran pengetahuan dan keterampilan antara perajin Indonesia dan Jepang.
Catatan: Materi sumber menyebutkan dua tanggal berbeda untuk akhir pameran, yakni 28 Agustus pada bagian awal dan 31 Agustus pada bagian penutup. Untuk artikel ini, tanggal akhir tidak ditegaskan agar tidak memilih salah satu informasi yang bertentangan dalam sumber.

