Di tengah dunia yang semakin bising oleh media sosial, tekanan ekonomi, tuntutan keluarga, dan budaya membandingkan diri, Helny Noviana menawarkan pandangan yang cukup menohok: perempuan tidak cukup hanya diajarkan untuk bertahan, tetapi harus memiliki kesadaran diri, tujuan hidup, dan daya tahan.
Direktur Utama MarkAsia itu tidak memandang dirinya semata sebagai pelaku bisnis di bidang komunikasi di capital market. Ia ingin mengambil peran yang lebih luas sebagai inspirator perempuan. Baginya, persoalan perempuan bukan sekadar kesempatan kerja, pendidikan, atau akses finansial, tetapi juga bagaimana seorang perempuan memahami siapa dirinya dan untuk apa ia menjalani hidup.
“Perempuan itu seperti besi. Besi bisa rusak karena dirinya sendiri, karena berkarat. Perempuan juga bisa rusak karena dirinya sendiri, terutama karena pikirannya sendiri,” ujar Helny.

Pernyataan tersebut menjadi salah satu benang merah pemikirannya. Menurut Helny, perempuan memiliki kecenderungan untuk membuat cerita sendiri di dalam pikiran, menduga-duga, kemudian merespons dugaan tersebut dengan emosi. Jika tidak dikelola, proses itu dapat membuat seseorang terus berada dalam kecemasan dan menyakiti dirinya sendiri.
Karena itu, ia mendorong perempuan untuk memiliki ilmu dalam mengelola pikiran dan perasaan.
Kebahagiaan Bukan Sekadar Menunggu
Bagi Helny, kebahagiaan bukan sesuatu yang harus terus-menerus dicari di luar diri. Banyak orang, menurutnya, menggantungkan kebahagiaan pada kondisi tertentu.
“Nanti saya bahagia kalau sudah S1. Nanti saya bahagia kalau sudah menikah. Nanti saya bahagia kalau sudah punya ini,” katanya menggambarkan pola pikir yang kerap terjadi.
Padahal, menurut dia, seseorang dapat terlalu sibuk menyiapkan kehidupan masa depan sampai lupa menikmati kehidupan yang sedang dijalani.

Ia menawarkan tiga prinsip sederhana: tidak menyesali masa lalu, bersyukur untuk hari ini, dan tidak mengkhawatirkan masa depan secara berlebihan.
Bukan berarti seseorang tidak perlu membuat perencanaan. Sebaliknya, Helny justru menekankan pentingnya planning. Namun, perencanaan harus dibedakan dari kekhawatiran berlebihan.
“Punya planning wajib. Punya tujuan wajib. Tetapi khawatir berlebihan jangan,” ujarnya.
Pandangan itu berkaitan erat dengan gagasannya mengenai meaning and purpose. Manusia, menurut Helny, perlu bertanya kepada dirinya sendiri: apa tujuan hidup saya, apa makna hidup saya, dan untuk apa saya ada?
Tanpa pertanyaan tersebut, kehidupan berisiko berubah menjadi rutinitas: bangun, bekerja, tidur, kemudian mengulang kembali siklus yang sama.
Perempuan Harus Menemukan Personal Identity
Helny juga menyoroti pentingnya personal identity. Menurutnya, seseorang perlu mengetahui siapa dirinya sebelum menentukan arah hidup.
Tanpa identitas dan nilai yang jelas, seseorang mudah terbawa arus. Tren media sosial, gaya hidup, pencapaian orang lain, hingga standar kesuksesan yang dibentuk lingkungan dapat membuat seseorang terus membandingkan dirinya.
“Kalau kita tidak punya personal identity, ada ini ikut, ada itu ikut. Semuanya diikuti,” katanya.
Karena itu, ia mengajak perempuan menentukan life value atau nilai kehidupan yang ingin dipegang.

Baginya, mengetahui tujuan hidup akan membuat seseorang lebih mudah menentukan langkah. Jika seseorang sudah mengetahui tujuan akhirnya, berbagai keputusan yang dibuat seharusnya mengarah ke tujuan tersebut.
Ia bahkan menggunakan analogi perjalanan. Ketika seseorang sudah mengetahui bahwa tujuannya adalah Bogor, maka tiket, kendaraan, dan berbagai kebutuhan perjalanan akan diarahkan menuju Bogor. Demikian pula dengan kehidupan.
Persoalannya, kata Helny, banyak orang tidak memiliki planning hidup dan tidak terbiasa mengevaluasinya.
Jangan Sampai Media Sosial Mengendalikan Hidup
Salah satu hal yang menjadi perhatiannya adalah kebiasaan scrolling media sosial.
Menurut Helny, teknologi sebenarnya memberikan akses luar biasa terhadap pengetahuan. Orang dapat mempelajari banyak hal melalui internet. Namun, waktu yang seharusnya digunakan untuk belajar justru sering habis untuk konsumsi konten tanpa tujuan.
Ia menyarankan agar seseorang tidak menggunakan waktu sebelum tidur untuk terus-menerus scrolling. Sebaliknya, waktu tersebut dapat digunakan untuk membaca, belajar, atau melakukan refleksi.
Pemikirannya berangkat dari keyakinan bahwa apa yang terus-menerus dikonsumsi dan dikatakan kepada diri sendiri akan memengaruhi cara seseorang memandang kehidupannya.
Karena itu, ia mendorong penggunaan afirmasi positif seperti rasa syukur dan keyakinan bahwa seseorang mampu menghadapi hari.
Bagi Helny, pikiran perlu diarahkan, bukan dibiarkan bergerak tanpa kendali.
Dari Capital Market ke Pemberdayaan Anak Muda
Pemikiran Helny mengenai kehidupan tidak dapat dipisahkan dari perjalanan profesionalnya.
Ia pernah bekerja hampir 12 tahun di bursa pada bidang corporate communication. Setelah itu, ia membangun MarkAsia yang kini telah berjalan sekitar 18 tahun.
MarkAsia bergerak membantu perusahaan yang akan dan telah go public, terutama dalam kebutuhan komunikasi, seperti annual report, sustainability report, RUPS, media handling, iklan keterbukaan informasi, hingga kebutuhan komunikasi dan pemasaran sesuai ketentuan yang berlaku.
Helny menegaskan bahwa MarkAsia bukan broker dan tidak menjual saham.
Justru dari dunia capital market tersebut ia melihat pentingnya literasi keuangan bagi masyarakat, terutama generasi muda.
Menurutnya, investasi tidak dapat dilakukan sekadar karena ikut-ikutan. Ketika harga emas sedang ramai, misalnya, seseorang tidak seharusnya langsung membeli tanpa memahami instrumennya. Demikian pula dengan saham.
Investor perlu memahami strategi, membaca laporan keuangan, mengenali karakter dirinya sendiri, serta mengetahui tingkat risiko yang mampu ditanggung.
“Untuk meminimalkan risiko, kita harus belajar ilmunya,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa masyarakat tidak dapat hanya mengandalkan gaji. Investasi perlu dipertimbangkan sebagai bagian dari pengelolaan keuangan, sementara pendidikan tetap menjadi salah satu investasi yang menurutnya sangat penting.
Integritas Lebih Mahal daripada Uang
Di tengah dunia bisnis yang penuh target, Helny justru menempatkan integritas sebagai prinsip utama.
Ia mengatakan MarkAsia tidak mengambil semua klien. Dalam menangani perusahaan yang sedang menghadapi krisis, misalnya, pihaknya melakukan audit dan due diligence terlebih dahulu.
“Tidak semua klien harus kami ambil,” katanya.
Menurutnya, bisnis tidak boleh semata-mata mengejar uang. Ada etika yang harus dijaga.
Ia bahkan merumuskan tiga prinsip dalam kehidupan sosial dan profesional: berpolitik dengan moral, berbisnis dengan etika, dan berinteraksi dengan empati.
Ketiga prinsip itu menurutnya dapat membuat kehidupan menjadi lebih tenang.
Prinsip tersebut juga diterapkan dalam membangun budaya kerja di MarkAsia. Helny mengatakan perusahaan melibatkan banyak anak muda dan berupaya mengajarkan mereka mengenai cara berinteraksi, membangun nilai dalam bekerja, sekaligus memahami capital market.
Pada masa Covid, ia menyebut MarkAsia tidak melakukan PHK maupun pemotongan gaji. Baginya, keberadaan perusahaan bukan hanya tentang keuntungan, tetapi juga bagaimana bisnis dapat memberikan manfaat bagi orang-orang di dalamnya.
“Loving God, Serving Others, Self-Improvement”

Filosofi kehidupan Helny kemudian mengerucut pada tiga prinsip: loving God, serving others, dan self-improvement.
Pertama, mencintai Tuhan.
Kedua, memberikan manfaat kepada orang lain.
Ketiga, terus memperbaiki diri.
Ia percaya seseorang akan memiliki resilience lebih kuat ketika mengetahui makna hidupnya. Orang yang memiliki tujuan tidak mudah tergoyahkan oleh penilaian orang lain karena ia memiliki alasan yang lebih kuat untuk terus bergerak.
Menurut Helny, kebermanfaatan menjadi salah satu makna hidup yang penting. Setiap orang memiliki peran berbeda. Wartawan, misalnya, dapat memberikan manfaat melalui informasi dan inspirasi. Ibu memiliki peran dalam mendidik anak dan memberikan ketenangan di keluarga.
Namun, seseorang tidak mungkin memberikan manfaat secara maksimal jika dirinya sendiri tidak kuat.
Karena itu, ia mendorong perempuan menjaga berbagai aspek kehidupan: kesehatan, intelektual, hubungan sosial, fisik, dan finansial.
“Tabungan Kebaikan” dan Cara Melihat Masalah
Salah satu gagasan Helny yang menarik adalah konsep “tabungan kebaikan.”
Ia menceritakan pengalaman ketika ayahnya yang berusia 83 tahun dirawat karena Covid. Sebelumnya, Helny bersama teman-temannya pernah memberikan bantuan berupa masker dan kebutuhan lainnya kepada sekitar 15 rumah sakit.
Ketika ayahnya sakit, ia berdoa agar kebaikan yang pernah dilakukan menjadi jalan pertolongan.
Bagi Helny, pengalaman itu menguatkan keyakinannya untuk terus melakukan kebaikan.
Ia juga mengajak orang membiasakan diri menuliskan tiga hal yang disyukuri setiap pagi. Bahkan ketika tidak menemukan sesuatu yang istimewa, seseorang masih dapat menulis, “Alhamdulillah, saya masih bernapas.”
Dari rasa syukur itulah, menurutnya, seseorang dapat mulai melihat peluang dan kebaikan yang sebelumnya tertutup oleh stres.
Helny juga memiliki cara pandang tertentu terhadap masalah. Ia menyebut setiap kejadian buruk dapat menyimpan “harta karun” di bawahnya.
“Cahaya hanya bisa masuk ke gelas yang retak,” ujarnya.
Masalah, dengan demikian, tidak selalu harus dilihat sebagai akhir. Bisa saja persoalan justru menjadi jalan menuju pemahaman baru.
Perempuan Tidak Harus Menggantungkan Kebahagiaan
Fokus Helny kepada perempuan berangkat dari keyakinan bahwa perempuan memiliki pengaruh besar terhadap keluarga dan generasi.
Ia merupakan ibu dari lima anak sekaligus perempuan karier dan pengusaha. Pengalaman menjalani keluarga dan pekerjaan membuatnya merasa semakin terpanggil untuk berbicara mengenai perempuan.
Ia melihat banyak perempuan memiliki kemampuan besar, tetapi tidak menyadari kekuatan dirinya.
Perempuan, menurutnya, juga memiliki kemampuan multitasking dan telah melalui berbagai pengalaman fisik maupun emosional yang membutuhkan daya tahan.
Masalahnya, perempuan terkadang menjadi rapuh karena tidak mengenali kekuatannya sendiri.
Karena itu, Helny menekankan pentingnya memiliki kekuatan dari dalam.
Ketika orang terdekat marah, misalnya, seseorang tidak dapat mengontrol perilaku orang tersebut. Yang dapat dikontrol adalah respons dirinya sendiri, jadi kita harus tangguh dalam menghadapi berbagai keadaan.
Inilah yang ia sebut sebagai resilience.
Perempuan tidak harus berhenti bahagia hanya karena orang lain sedang marah atau melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan.
Hidup Tak Sekadar Bertahan

Jika diberi kesempatan membuat program nasional untuk perempuan Indonesia, Helny memilih tema “Menjadi Wanita Indonesia Bahagia.”
Ia bahkan memiliki gagasan judul buku: “Hidup Tak Sekadar Bertahan.”
Gagasan tersebut merangkum hampir seluruh pemikirannya.
Hidup, menurut Helny, bukan sekadar melewati hari demi hari. Manusia harus mengetahui untuk apa ia hidup, apa yang ingin dicapai, dan manfaat apa yang dapat diberikan kepada orang lain.
Di situlah kebahagiaan, resilience, kepemimpinan, literasi keuangan, keluarga, dan spiritualitas bertemu.
Dan menariknya, Helny menemukan metafora yang dekat dengan identitas Indonesia: batik.
Menurutnya, batik mengajarkan keteguhan. Ada proses menggambar, mencanting, mewarnai, menjemur, dan berbagai tahapan lain sebelum kain menjadi karya bernilai.
Proses itu membutuhkan kesabaran.
Bagi Helny, kehidupan juga demikian. Sesuatu yang awalnya dianggap masalah belum tentu berakhir sebagai keburukan. Dengan kesabaran, ilmu, dan ketekunan, masalah bahkan dapat berubah menjadi sesuatu yang bernilai.
Pada akhirnya, pesan Helny bukan sekadar agar perempuan menjadi kuat. Lebih jauh, ia mengajak perempuan menyadari bahwa dirinya memang kuat, kemudian menggunakan kekuatan itu untuk membangun keluarga, lingkungan, dan kehidupan yang lebih baik.
Sebab, baginya, perubahan besar tidak selalu dimulai dari panggung politik, korporasi, atau pasar modal.
Perubahan bisa dimulai dari seorang perempuan yang tahu siapa dirinya, memahami tujuan hidupnya, mampu mengelola pikirannya, dan memilih untuk terus memberikan manfaat.
Busana : Koleksi @irfanabatiktenun
Lokasi : Ramela Resto Senopati


