https://tk.tokopedia.com/ZShCCaaWK/
in ,

Yogyakarta dan Pakualaman, Rahim Lahirnya Pameran Puspa Nuswantara yang akan Digelar di JICC 8-12 Juli

Yogyakarta dan Pakualaman menjadi tempat lahir Pameran Puspa Nuswantara, ruang kolaborasi yang menguatkan masa depan batik Indonesia.

Ada alasan mengapa Yogyakarta dipilih sebagai tempat lahir Pameran Puspa Nuswantara. Kota budaya ini selama berabad-abad menjadi ruang tumbuh tradisi, seni, dan kriya Nusantara. Di jantungnya, Pakualaman menjadi salah satu pusat pelestarian budaya Jawa yang terus membuka diri terhadap perkembangan zaman. Dari lingkungan inilah benih sebuah gerakan baru bagi dunia batik Indonesia mulai bertunas.

Pameran Puspa Nuswantara bukan sekadar agenda tahunan Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia (APPBI). Perhelatan ini lahir sebagai ruang perjumpaan antara para pembatik, kolektor, akademisi, pelaku usaha, pemerintah, hingga masyarakat umum yang memiliki kepedulian terhadap masa depan batik Indonesia.

Berawal dari Gagasan yang Tumbuh di Kota Budaya

Pameran Puspa Nuswantara 2026 hadir di JICC 8–12 Juli, tampilkan 300+ brand batik asli dan 25 ribu pengunjung.

Menjelang penyelenggaraannya pada 22–23 November 2025, suasana persiapan di Pendopo Pakualaman sudah memperlihatkan semangat gotong royong. Berbagai karya batik pilihan dari berbagai daerah mulai ditata dengan konsep kuratorial yang menempatkan batik sebagai karya budaya, bukan sekadar komoditas. Setiap detail dipersiapkan agar pengunjung tidak hanya melihat keindahan kain, tetapi juga memahami cerita yang terkandung di baliknya.

Pemilihan Pendopo Pakualaman bukan tanpa makna. Tempat ini menjadi simbol keterbukaan budaya yang selama ini memberi ruang dialog antara tradisi dan inovasi. Dari sinilah Puspa Nuswantara menemukan identitasnya sebagai pameran yang mengedepankan kualitas karya, penghormatan terhadap perajin, serta kolaborasi lintas daerah.

Pakualaman Menjadi Rumah Pertama Puspa Nuswantara

Pameran Puspa Nuswantara APPBI menghadirkan kerja kolektif penuh dedikasi, dari penataan karya hingga kuratorial batik masterpiece Indonesia.
Pameran Puspa Nuswantara APPBI menghadirkan kerja kolektif penuh dedikasi, dari penataan karya hingga kuratorial batik masterpiece Indonesia.

Momentum pembukaan pameran sekaligus peringatan HUT ke-8 APPBI menjadi tonggak penting perjalanan organisasi tersebut. Dalam sambutannya, GKBRAA Paku Alam menegaskan bahwa batik hanya dapat berkembang apabila seluruh pemangku kepentingan bergerak bersama.

Menurutnya, promosi batik tidak dapat dilakukan secara sendiri-sendiri. Diperlukan sinergi antara perajin, pengusaha, pemerintah, komunitas, hingga dunia pendidikan agar batik Indonesia semakin kuat di tingkat nasional maupun internasional. Ia juga mengapresiasi konsistensi APPBI yang selama delapan tahun membangun jejaring dan memperkenalkan batik Indonesia melalui berbagai pameran, termasuk di luar negeri.

Pesan tersebut sekaligus memperkuat posisi Pakualaman bukan hanya sebagai tuan rumah, tetapi juga sebagai penjaga semangat kolaborasi yang menjadi fondasi Puspa Nuswantara.

Milestone Delapan Tahun APPBI

Perjalanan APPBI mencapai usia delapan tahun menjadi momentum refleksi. Organisasi yang menghimpun para perajin dan pengusaha batik dari berbagai daerah ini terus berupaya membangun ekosistem yang berpihak kepada pembatik.

Melalui Puspa Nuswantara, APPBI menghadirkan ruang yang mempertemukan para pembatik secara langsung dengan masyarakat. Pengunjung dapat berdialog dengan pencipta karya, memahami proses membatik, hingga mengenal filosofi yang terkandung dalam setiap motif.

Konsep ini menjadi pembeda dibanding banyak pameran lain yang lebih berorientasi pada transaksi. Di Puspa Nuswantara, pengalaman budaya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari aktivitas ekonomi kreatif.

Lesehan Batik, Menghapus Sekat Antarperajin

Lesehan Batik APPBI menghadirkan diskusi hangat penuh filosofi, humor, dan visi masa depan batik Indonesia dalam suasana akrab di Yogyakarta. Romi Oktabirawa mengangkat isu ekonomi batik.
Lesehan Batik APPBI menghadirkan diskusi hangat penuh filosofi, humor, dan visi masa depan batik Indonesia dalam suasana akrab di Yogyakarta. Romi Oktabirawa mengangkat isu ekonomi batik.

Selepas rangkaian pameran, suasana berubah menjadi lebih hangat melalui kegiatan Lesehan Batik. Para pembatik dari berbagai daerah duduk bersama tanpa sekat, berbagi pengalaman, tantangan, hingga harapan mengenai masa depan batik Indonesia.

Momentum kebersamaan tersebut memperlihatkan bahwa kekuatan batik tidak hanya berada pada karya yang dipamerkan, tetapi juga pada jejaring antarmanusia yang menjaganya tetap hidup. Dari ruang-ruang informal seperti inilah sering lahir kolaborasi baru, pertukaran gagasan, hingga semangat saling mendukung antarperajin.

Menatap Masa Depan Batik Indonesia

Puspa Nuswantara juga menjadi ruang untuk membicarakan masa depan batik Indonesia. Tantangan regenerasi pembatik, perubahan perilaku konsumen, perkembangan teknologi, hingga perlindungan terhadap batik asli menjadi isu yang terus mengemuka.

Para pelaku batik sepakat bahwa inovasi harus berjalan berdampingan dengan pelestarian nilai budaya. Teknologi dapat dimanfaatkan sebagai sarana promosi maupun pengembangan desain, tetapi proses penciptaan batik tetap harus menghormati keterampilan para pembatik sebagai inti dari ekosistem batik Indonesia.

Energi Positif dari Yogyakarta

Dalam berbagai kesempatan, Ketua Umum APPBI Gita Kartasasmita menyampaikan bahwa Puspa Nuswantara membawa energi positif bagi gerakan pelestarian dan pengembangan batik Indonesia. Semangat tersebut lahir dari kebersamaan para pembatik yang datang dari berbagai penjuru Nusantara dengan membawa identitas budaya masing-masing.

Yogyakarta memberikan ruang yang tepat bagi semangat itu untuk tumbuh. Kota ini memiliki sejarah panjang sebagai pusat seni, pendidikan, dan kebudayaan yang mampu mempertemukan tradisi dengan kreativitas masa kini. Sementara Pakualaman menghadirkan legitimasi budaya sekaligus keteladanan dalam menjaga warisan leluhur agar tetap relevan bagi generasi berikutnya.

Dari Rahim Budaya Menuju Gerakan Nasional

Kini, Puspa Nuswantara telah berkembang menjadi lebih dari sekadar pameran. Ia menjadi gerakan kebudayaan yang menghubungkan para pembatik, kolektor, kurator, pelaku industri kreatif, dan masyarakat luas dalam satu visi bersama: menjaga keberlangsungan batik Indonesia.

Semua perjalanan itu bermula dari Yogyakarta. Dari Pendopo Pakualaman, sebuah gagasan tumbuh menjadi ruang kolaborasi nasional. Karena itulah, Yogyakarta layak disebut sebagai rahim Pameran Puspa Nuswantara—tempat di mana semangat persatuan, pelestarian, dan pengembangan batik Indonesia dilahirkan sebelum melangkah ke panggung yang lebih luas.

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Kenali ragam motif batik Majalengka beserta makna dan inspirasinya, mulai dari Gedong Gincu hingga Kota Angin yang khas.

Ragam Motif Batik Majalengka: Keindahan Warisan Budaya yang Terinspirasi Alam, Kuliner, dan Sejarah