https://tk.tokopedia.com/ZShCCaaWK/
in ,

Motif Tambal Jadi Ikon Pameran Puspa Nuswantara 2026, Representasikan Keberagaman Batik Nusantara

Motif Tambal dipilih sebagai ikon Puspa Nuswantara 2026 karena merepresentasikan keberagaman motif batik dari seluruh Indonesia.

Jakarta โ€“ Motif Tambal dipilih sebagai ikon Pameran Puspa Nuswantara 2026 karena dinilai mampu merepresentasikan kekayaan ragam hias batik Indonesia dalam satu komposisi yang utuh. Pengunjung akan dapat menyaksikan beragam interpretasi motif Tambal dari berbagai daerah melalui instalasi khusus yang disiapkan di lobi utama Jakarta Convention Center (JCC) pada 8โ€“12 Juli 2026.

Pengurus Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia (APPBI), Agus Purwanto S, menjelaskan bahwa pemilihan motif Tambal bukan hanya didasarkan pada nilai estetika, tetapi juga pada makna visualnya yang mencerminkan persatuan berbagai motif batik Nusantara.

Motif Tambal dipilih sebagai ikon Puspa Nuswantara 2026 karena merepresentasikan keberagaman motif batik dari seluruh Indonesia.

“Makna filosofinya memang sangat panjang, tetapi dari sisi fisiknya, motif Tambal merupakan susunan berbagai motif batik yang dipadukan dalam satu bidang kain,” ujar Agus saat memberikan penjelasan kepada media menjelang pembukaan Pameran Puspa Nuswantara.

Menurut Agus, salah satu bentuk klasik yang menjadi penyusun motif tersebut adalah Tambal Kitiran. Motif ini merupakan salah satu unsur tradisional yang sejak lama menjadi bagian dari komposisi batik Tambal dan masih dipertahankan hingga sekarang.

Ia menjelaskan, karakter utama motif Tambal terletak pada keberagaman ornamen yang disusun menjadi satu kesatuan. Dalam selembar kain Tambal dapat ditemukan berbagai motif batik dengan bentuk dan ukuran yang berbeda-beda. Justru keberagaman inilah yang menjadi identitas utama motif tersebut.

“Jumlah motif di dalamnya sangat banyak. Ada yang sama, tetapi lebih banyak yang berbeda. Keberagaman itulah yang menjadi ciri khas Tambal,” katanya.

Pada Pameran Puspa Nuswantara 2026, pengunjung akan diperkenalkan dengan berbagai varian Tambal dari sejumlah sentra batik Indonesia. Salah satunya adalah Tambal gaya Yogyakarta yang menggunakan warna sogan tua khas keraton. Koleksi tersebut merupakan karya salah seorang pendiri APPBI yang selama ini banyak mengembangkan motif-motif batik klasik Yogyakarta.

Selain itu, terdapat pula Tambal gaya Surakarta (Solo) yang memiliki karakter warna sogan lebih cerah dengan nuansa keemasan. Perbedaan palet warna tersebut menjadi salah satu pembeda utama antara tradisi batik keraton Yogyakarta dan Surakarta.

Agus juga memperlihatkan beberapa varian lain, seperti Tambal Cakar Ayam, yang dalam tradisi batik Yogyakarta dikenal sebagai salah satu motif penyusun Tambal klasik. Tak kalah menarik, terdapat pula Tambal Sayur khas Cirebon yang menampilkan susunan ornamen lebih dinamis dengan beragam motif pesisir.

“Kami juga membawa Tambal khas Cirebon dengan sogan pesisir, termasuk karya dari Batik Komar. Ada pula Tambal berwarna indigo menggunakan pewarna alami karya Ibu Nita dari Galeri Batik Jawa, Yogyakarta, serta Tambal gaya Pekalongan yang memiliki karakter visual tersendiri,” jelasnya.

Menurut Agus, meskipun sama-sama mengusung nama Tambal, setiap daerah memiliki interpretasi yang berbeda sesuai dengan tradisi, warna, serta karakter budaya setempat. Keragaman tersebut menunjukkan bahwa batik Indonesia terus berkembang tanpa kehilangan akar tradisinya.

Sebagai daya tarik utama pameran, APPBI akan menghadirkan sebuah instalasi motif Tambal di area lobi utama JCC. Instalasi tersebut menampilkan sekitar 30 lembar kain Tambal yang berasal dari berbagai koleksi klasik maupun hasil pengembangan para perajin batik masa kini.

“Kami sengaja tidak menampilkan instalasi itu sekarang karena ingin menjadi kejutan pada saat pembukaan pameran. Pengunjung dapat melihat perjalanan motif Tambal, mulai dari bentuk klasik hingga pengembangan kontemporernya,” ujar Agus.

Selain instalasi, panitia juga menyiapkan ruang adikarya yang menampilkan koleksi-koleksi pilihan sebagai sarana edukasi bagi masyarakat mengenai perkembangan motif Tambal. Melalui ruang tersebut, pengunjung dapat mengamati lebih dekat detail penyusunan ornamen, teknik pengerjaan, hingga kekayaan visual yang terkandung dalam setiap kain.

Agus berharap kehadiran motif Tambal sebagai ikon Puspa Nuswantara 2026 dapat memperluas pemahaman masyarakat mengenai keberagaman batik Indonesia. Menurutnya, apa yang diperlihatkan dalam konferensi pers hanyalah sebagian kecil dari koleksi yang akan dipamerkan.

“Koleksi lengkapnya baru bisa dinikmati saat pameran berlangsung. Kami mengundang masyarakat untuk hadir dan melihat langsung bagaimana motif Tambal menjadi simbol keberagaman sekaligus persatuan batik Nusantara,” pungkasnya.


Puspa Nuswantara 2026 akan digelar di JICC Senayan pada 8โ€“12 Juli 2026, menghadirkan batik premium, maestro batik, dan kolektor.
Puspa Nuswantara 2026 akan digelar di JICC Senayan pada 8โ€“12 Juli 2026, menghadirkan batik premium, maestro batik, dan kolektor.

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Ahmad Failasuf mengajak media membangkitkan kejayaan batik Indonesia dan menjaga regenerasi perajin melalui Puspa Nuswantara 2026.

Ahmad Failasuf: Momentum Kebangkitan Batik Indonesia Harus Diulang, Media Diajak Jadi Penggerak