Di tengah dominasi bahan baku tekstil impor dan meningkatnya tuntutan industri fesyen global terhadap praktik berkelanjutan, sebuah tanaman yang selama ini kurang mendapat sorotan kembali dilirik sebagai masa depan industri kreatif Indonesia. Tanaman itu adalah rami.
Dari ladang hingga panggung fesyen internasional, serat rami kini mulai dipandang sebagai salah satu material strategis yang mampu memperkuat kemandirian industri tekstil nasional sekaligus menjawab tantangan keberlanjutan.
Harapan tersebut mengemuka saat Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Irene Umar, menerima audiensi Aruna Creative di Jakarta pada 22 Juni 2026. Pertemuan itu membahas pengembangan serat rami sebagai material pakaian yang ramah lingkungan sekaligus peluang membangun ekosistem industri kreatif berbasis sumber daya lokal.
Bagi Irene Umar, pengembangan material berkelanjutan tidak cukup hanya berhenti pada promosi produk. Yang jauh lebih penting adalah membangun rantai nilai yang utuh dan saling terhubung.
“Yang perlu kita bangun bukan hanya promosi produk, tetapi keseluruhan ekosistem bisnis. Mulai dari bahan baku, pengolahan, industri, sampai model bisnis dan proyek investasinya. Kalau alurnya jelas serta skalanya terukur, maka akan lebih mudah menarik unsur kolaborasi dan proyeksi pembiayaan untuk pengembangan material tekstil berkelanjutan ini,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menggambarkan tantangan yang selama ini dihadapi banyak inovasi lokal. Produk yang baik sering kali tidak cukup tanpa dukungan sistem yang memungkinkan inovasi berkembang menjadi industri yang berkelanjutan.
Ketika Kampus Bertemu Industri
Di balik selembar kain yang nyaman dikenakan, terdapat proses panjang yang melibatkan penelitian, pengembangan material, produksi, hingga pemasaran. Karena itu, Irene menilai kolaborasi antara perguruan tinggi, industri fesyen, peneliti, dan pelaku ekonomi kreatif menjadi kunci utama.
Menurutnya, hasil riset di kampus harus mampu menjawab kebutuhan industri. Sebaliknya, pelaku industri juga perlu membuka ruang bagi inovasi yang lahir dari dunia akademik.
“Riset dan pengembangan di kampus harus bisa bertemu dengan kebutuhan industri kreatif. Ketika ada proyeksi bisnis yang kuat dan pemanfaatan kekayaan intelektual yang tepat, inovasi lokal bisa berkembang menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan berdaya saing global,” kata Irene.
Gagasan tersebut menjadi semakin relevan ketika Indonesia berupaya meningkatkan nilai tambah sektor ekonomi kreatif melalui inovasi berbasis kekayaan sumber daya alam domestik.

Rami, Tanaman yang Hampir Terlupakan
Bagi sebagian masyarakat, rami mungkin bukan nama yang familiar. Namun tanaman ini menyimpan potensi besar sebagai bahan baku tekstil alami.
Dalam paparannya, Founder Aruna Creative, Yuliana Fitri, menjelaskan bahwa rami memiliki keunggulan yang jarang dimiliki material lain. Selain menghasilkan serat berkualitas tinggi, hampir seluruh bagian tanaman dapat dimanfaatkan sehingga menghasilkan konsep produksi minim limbah.
“Rami itu bisa menjadi salah satu serat unggulan yang harus disebarluaskan di Indonesia sehingga ada edukasi terhadap industri fesyen supaya rami bisa dikembangkan dan dipakai dengan nyaman. Dengan demikian, Indonesia tidak ketergantungan bahan baku dari luar negeri dan bisa fokus terhadap rami karena sangat menguntungkan dari hulu ke hilir,” jelas Yuliana.
Bahkan, menurutnya, konsep pengolahan rami dapat mendukung praktik zero waste karena hampir seluruh bagian tanaman memiliki nilai ekonomi.
“Konsep rami itu bahkan zero waste dari pucuk sampai daun, hingga batang sampai kulit yang berperan aktif untuk ekosistem fesyen berkelanjutan.”
Di tengah meningkatnya perhatian dunia terhadap isu lingkungan, konsep tersebut menjadi nilai tambah yang sangat penting. Industri fesyen global saat ini menghadapi tekanan besar untuk mengurangi limbah dan jejak karbon yang dihasilkan selama proses produksi.
Dari Petani Hingga Pasar Jepang
Perjalanan Aruna Creative menunjukkan bahwa inovasi berbasis bahan alami bukan sekadar konsep idealis. Perusahaan ini telah berhasil mengembangkan berbagai produk berbahan serat rami, mulai dari serat kasar hingga serat halus untuk benang.
Produk turunannya pun semakin beragam. Tidak hanya pakaian dengan pewarna alami maupun sintetis, tetapi juga aksesori fesyen yang telah menembus pasar Jepang.
Keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa material lokal Indonesia memiliki peluang bersaing di pasar internasional apabila dikembangkan secara serius dan konsisten.
Namun Yuliana mengakui bahwa keberhasilan jangka panjang membutuhkan dukungan ekosistem yang lebih kuat.
“Kami butuh penguatan ekosistem mulai dari petani, ke pengolah lalu ke industri, hingga menuju akademisi untuk research and development, termasuk peran pemerintah menyangkut regulasi dan akses investasi.”
Ia juga berharap pemerintah dapat menjadikan rami sebagai salah satu material prioritas ekonomi kreatif nasional sekaligus mendorong pembentukan Creative Material Hub Indonesia sebagai pusat kolaborasi lintas sektor.
Masa Depan Fesyen Berkelanjutan Indonesia
Di tengah tren global yang semakin mengutamakan keberlanjutan, serat rami menawarkan peluang yang lebih luas daripada sekadar bahan baku tekstil. Ia menghadirkan potensi pemberdayaan petani, penguatan industri kreatif, penciptaan lapangan kerja, hingga pengurangan ketergantungan terhadap bahan impor.
Yang terpenting, rami menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu harus datang dari teknologi yang rumit. Kadang-kadang, masa depan justru bisa ditemukan kembali dari tanaman yang telah lama tumbuh di tanah sendiri.
Dengan dukungan riset, investasi, dan kolaborasi lintas sektor, serat rami berpeluang menjadi simbol baru transformasi ekonomi kreatif Indonesia—sebuah perjalanan dari ladang lokal menuju panggung fesyen dunia.
