Di antara sekian banyak versi legenda Aji Saka yang berkembang di Jawa, terdapat satu versi yang sangat menarik sekaligus berbeda dari kisah yang biasa diajarkan di sekolah. Jika dalam cerita populer Aji Saka dikenal sebagai pemuda sakti dari negeri seberang yang menaklukkan Prabu Dewatacengkar dan menciptakan aksara Jawa, maka dalam Serat Manikmaya kisahnya jauh lebih panjang, lebih kompleks, dan dipenuhi unsur sejarah, keagamaan, serta kosmologi Jawa.
Dalam versi ini, Aji Saka bukan sekadar seorang pengembara. Ia adalah tokoh yang mula-mula bernama Empu Sangka Adi atau Abu Saka, keturunan para empu besar, sahabat Nabi Muhammad, pengajar ilmu pengetahuan, sekaligus pembawa peradaban ke tanah Jawa.
Legenda ini tercantum dalam Serat Manikmaya karya Kartamursadah dan menjadi salah satu versi tertua yang pernah dikaji oleh para filolog Jawa. Dalam teks tersebut, kisah Aji Saka digubah dalam enam belas pupuh tembang yang panjang dan sarat simbol.
Awal Mula: Anak Raja yang Menjadi Kanibal
Kisah dimulai di negeri Purwaduksina.
Di kerajaan itu bertahta seorang raja bernama Prabu Sindula yang memiliki beberapa anak. Salah satu putranya bernama Dewatacengkar. Sejak kecil, Dewatacengkar memiliki sifat yang mengerikan. Ia gemar memakan daging manusia.
Perilaku tersebut membuat Prabu Sindula sangat malu. Berulang kali sang ayah menasihatinya agar menghentikan kebiasaan buruk itu. Namun semua nasihat ditolak. Dewatacengkar bahkan semakin liar dan akhirnya memberontak terhadap ayahnya sendiri.
Dengan kekuatan yang berhasil dihimpunnya, Dewatacengkar menggulingkan kekuasaan Prabu Sindula. Kerajaan porak-poranda, banyak pengikut setia raja lenyap, dan negeri yang semula makmur berubah menjadi kawasan yang terbengkalai. Karena perbuatannya, Dewatacengkar mendapat kutukan bahwa suatu saat ia akan tercebur ke lautan.
Setelah menguasai wilayah tersebut, ia membangun kerajaan baru bernama Medangpramesan dan memerintah dengan tangan besi.
Daniswara, Putra yang Malu pada Ayahnya
Dewatacengkar kemudian menikah dengan seorang perempuan bernama Andawiyah. Dari pernikahan itu lahirlah seorang putra tampan bernama Daniswara.
Berbeda dengan ayahnya, Daniswara tumbuh sebagai pemuda yang berbudi baik. Ia merasa malu terhadap kebiasaan ayahnya yang memakan manusia. Ketika beranjak dewasa, ia memilih meninggalkan istana dan mengembara tanpa pamit.
Keputusan Daniswara kelak menjadi salah satu titik penting dalam legenda ini, karena ia akan menjadi tokoh yang berhubungan langsung dengan kejatuhan Aji Saka di masa mendatang.
Lahirnya Abu Saka
Sementara itu, di tempat lain hidup seorang resi bernama Anggajali. Menurut kisah yang berasal dari Kitab Musarar dari Rum, Anggajali memiliki seorang putra tampan bernama Abu Saka. Ia merupakan keturunan Empu Ramadi dan berasal dari lingkungan para empu yang disegani.
Sejak muda Abu Saka dikenal cerdas dan haus ilmu. Ia bahkan bersahabat dengan Nabi Muhammad. Dalam perjalanan hidupnya, Abu Saka sempat tergoda untuk belajar kepada Ijajil, raja iblis. Setelah menyadari kesalahannya, ia memohon maaf kepada Nabi Muhammad dan meminta izin untuk mengembara ke arah timur.
Menjelang keberangkatannya, terjadi peristiwa yang kelak melahirkan nama yang terkenal sepanjang sejarah Jawa.
Karena pernah bersembunyi di dalam saka atau tiang untuk menguji kesaktian Nabi Muhammad, Abu Saka kemudian diberi nama baru oleh Nabi, yaitu Aji Saka.
Pengembara Pembawa Ilmu
Perjalanan Aji Saka bukanlah perjalanan biasa.
Bersama dua sahabat setianya, Dora dan Sembada, ia menjelajahi berbagai negeri ke arah timur. Dalam setiap tempat yang disinggahinya, Aji Saka mengajarkan ilmu pengetahuan kepada masyarakat setempat.
Ia mengajarkan sastra, tata bahasa, kakawin, kidung, pengetahuan logam, hingga berbagai ilmu kebudayaan. Ketika tiba di Jawa dan singgah di Kabuyutan, ia mengajarkan baca tulis serta berbagai kitab seperti Nitisastra, Candrageni, Dasanama, dan Wiwaha.
Tidak hanya itu. Dalam Serat Manikmaya, Aji Saka juga digambarkan menciptakan senapan, meriam, tombak, bendera, dan berbagai perlengkapan yang melambangkan kemajuan peradaban.
Tokoh ini tampil bukan sekadar sebagai kesatria, melainkan sebagai guru besar yang membawa pengetahuan.
Pulau Majeti dan Amanat yang Terlupakan
Saat tiba di Pulau Majeti, Aji Saka meninggalkan Dora dan Sembada untuk menjaga keris pusaka Rukmakala serta sejumlah perhiasan.
Sebelum melanjutkan perjalanan, ia berpesan bahwa benda-benda tersebut tidak boleh diberikan kepada siapa pun kecuali dirinya sendiri.
Pesan inilah yang kelak menjadi sumber tragedi besar.
Setelah meninggalkan Pulau Majeti, Aji Saka melanjutkan perjalanan menuju Medangpramesan.
Menumbangkan Dewatacengkar
Di Medangpramesan, Aji Saka tinggal di rumah seorang janda bernama Nyi Kasiyan. Dari perempuan inilah ia mengetahui penderitaan rakyat akibat kekejaman Dewatacengkar.
Sebagaimana versi populer yang dikenal masyarakat, Dewatacengkar digambarkan sebagai raja pemakan manusia yang menebarkan ketakutan.
Dengan kecerdasan dan kesaktiannya, Aji Saka berhasil mengalahkan sang raja. Dewatacengkar tumbang, rakyat terbebas dari ketakutan, dan Aji Saka kemudian dinobatkan menjadi penguasa Medang dengan gelar Prabu Jaka.
Di bawah pemerintahannya, negeri menjadi aman, makmur, dan berkembang pesat. Pengetahuan yang dibawanya membuat masyarakat semakin maju.
Tragedi Dora dan Sembada
Ketika telah menjadi raja, Aji Saka teringat pada pusaka yang ditinggalkannya di Pulau Majeti.
Ia memerintahkan Dora untuk mengambil keris dan perhiasan yang dijaga Sembada. Namun di sinilah kesalahpahaman terjadi.
Dora membawa pesan baru dari Aji Saka. Sebaliknya, Sembada tetap berpegang pada pesan lama bahwa benda tersebut hanya boleh diberikan langsung kepada Aji Saka.
Keduanya sama-sama setia.
Keduanya sama-sama benar.
Namun karena tidak ada yang mau mengalah, pertengkaran berubah menjadi perkelahian sengit. Pada akhirnya mereka tewas bersama dalam keadaan mati sampyuh, saling membunuh karena mempertahankan amanat yang berbeda.
Ketika mendengar kabar itu, Aji Saka sangat berduka. Ia menyadari bahwa tragedi tersebut terjadi karena kelalaiannya sendiri dalam memberi perintah.
Lahirnya Aksara Jawa
Untuk mengenang kesetiaan Dora dan Sembada, Aji Saka menciptakan rangkaian aksara yang kemudian dikenal sebagai aksara Jawa.
Aksara itu disusun dalam kalimat yang terkenal:
Ha Na Ca Ra Ka
Da Ta Sa Wa La
Pa Dha Ja Ya Nya
Ma Ga Ba Tha Nga
Maknanya menceritakan adanya utusan yang saling bertikai, sama-sama sakti, dan akhirnya gugur bersama.
Dalam Serat Manikmaya, Aji Saka tidak digambarkan sebagai pencipta pertama aksara Jawa, melainkan tokoh yang menyebarluaskan aksara tersebut kepada masyarakat.
Akhir Kekuasaan Sang Pembaharu
Namun masa pemerintahan Aji Saka tidak berlangsung selamanya.
Menurut ramalan Resi Sindula, kekuasaannya hanya akan bertahan selama tiga tahun. Ramalan itu akhirnya menjadi kenyataan. Daniswara, putra Dewatacengkar yang telah tumbuh dewasa, bangkit dan menantang kekuasaan Aji Saka.
Setelah tiga tahun memerintah Medang, Aji Saka akhirnya ditumbangkan oleh keturunan Dewatacengkar.
Meski demikian, warisan yang ditinggalkannya jauh lebih besar daripada sebuah kerajaan. Ia meninggalkan ilmu pengetahuan, aksara, tradisi sastra, serta kisah kepahlawanan yang terus hidup dalam ingatan masyarakat Jawa selama berabad-abad.
Sumber: Slamet Riyadi, Makna Simbolik Legenda Aji Saka (Balai Bahasa Yogyakarta, 2007), khususnya bagian Legenda Aji Saka Versi Serat Manikmaya.

