Seorang ayah di sebuah desa Jawa menunda pernikahan putrinya meskipun semua persiapan telah selesai. Gedung sudah dipesan, undangan hampir dicetak, bahkan keluarga besar telah menyetujui tanggal pelaksanaan. Namun setelah dilakukan perhitungan weton, ternyata hari yang dipilih dianggap kurang baik. Akhirnya pernikahan diundur beberapa minggu.
Bagi sebagian orang modern, keputusan seperti itu mungkin terdengar tidak masuk akal. Bagaimana mungkin nasib sebuah pernikahan ditentukan oleh tanggal dan hari tertentu?
Namun bagi masyarakat Jawa yang masih memegang tradisi primbon, keputusan tersebut lahir dari sebuah pandangan hidup yang telah berkembang selama berabad-abad. Dalam pandangan itu, waktu bukan sekadar deretan angka di kalender. Waktu memiliki sifat, karakter, bahkan pengaruh terhadap kehidupan manusia.
Inilah salah satu gagasan paling mendasar dalam primbon Jawa: keyakinan bahwa setiap waktu memiliki kualitas yang berbeda.
Karena itulah muncul istilah hari baik, hari buruk, waktu keberuntungan, hingga masa yang dianggap kurang menguntungkan. Semua itu berakar pada cara masyarakat Jawa memahami hakikat waktu.
Waktu yang Berbeda dengan Pemahaman Modern
Saat ini manusia memandang waktu sebagai sesuatu yang netral.
Jam pukul 08.00 hari Senin dianggap memiliki nilai yang sama dengan pukul 08.00 hari Selasa. Kalender hanya berfungsi sebagai alat pengukur aktivitas manusia. Waktu dianggap berjalan secara linier dari masa lalu menuju masa depan.
Namun dalam primbon, waktu dipahami dengan cara yang sangat berbeda.
Menurut penelitian Bay Aji Yusuf, konsep waktu dalam primbon berangkat dari pandangan bahwa waktu merupakan realitas yang sungguh-sungguh ada dan berdiri di luar manusia. Waktu bukan ciptaan manusia, melainkan kekuatan yang telah ada lebih dahulu dan mengatur kehidupan seluruh makhluk.
Dengan kata lain, manusia tidak mengendalikan waktu.
Justru manusia harus memahami dan menyesuaikan dirinya dengan waktu.
Pandangan inilah yang menjadi dasar munculnya berbagai petungan dalam primbon.
Waktu yang Bersifat Siklis
Salah satu perbedaan paling mencolok antara konsep waktu modern dan konsep waktu dalam primbon adalah sifatnya.
Dalam pemikiran modern, waktu bersifat linier. Ia bergerak maju dari masa lalu menuju masa depan tanpa pernah kembali.
Sebaliknya, dalam primbon, waktu dipahami sebagai sesuatu yang siklis atau berputar.
Musim datang dan pergi.
Bulan berganti bulan.
Wuku berulang.
Pasaran berulang.
Windu berganti windu.
Segala sesuatu bergerak dalam siklus yang terus menerus berulang.
Karena itu, waktu tidak pernah benar-benar baru. Setiap periode diyakini membawa karakter tertentu yang pernah muncul sebelumnya dan akan muncul kembali di masa mendatang.
Pandangan ini membuat masyarakat Jawa sangat memperhatikan pola-pola waktu.
Mereka percaya bahwa kehidupan manusia ikut bergerak mengikuti irama kosmos yang berulang tersebut.
Takdir dan Saat Kelahiran
Dalam primbon, saat kelahiran seseorang memiliki arti yang sangat penting.
Waktu kelahiran dipercaya menentukan posisi seseorang dalam tatanan kosmos. Nasib, watak, kecenderungan hidup, bahkan hubungan sosial seseorang diyakini berkaitan dengan waktu ketika ia lahir ke dunia.
Karena itu pencatatan kelahiran dalam tradisi Jawa jauh lebih rinci dibandingkan pencatatan modern.
Tidak cukup hanya mengetahui tanggal lahir.
Primbon juga memperhatikan:
- Jam kelahiran
- Hari kelahiran
- Hari pasaran
- Tanggal Jawa
- Wuku
- Bulan Jawa
- Tahun Jawa
- Windu tempat seseorang dilahirkan
Semua unsur tersebut dianggap membentuk identitas kosmologis seseorang.
Dari sinilah lahir konsep weton yang masih dikenal luas hingga sekarang.
Mengapa Ada Hari Baik dan Hari Buruk?
Pertanyaan yang paling sering muncul adalah: mengapa suatu hari dianggap baik sementara hari lain dianggap buruk?
Jawabannya terletak pada keyakinan bahwa setiap waktu memiliki kualitas yang berbeda.
Dalam primbon, waktu tidak bersifat kosong. Setiap hari membawa energi, karakter, dan pengaruh tertentu yang berasal dari keteraturan kosmos.
Karena itu, ketika seseorang ingin melakukan peristiwa penting seperti:
- Menikah
- Membangun rumah
- Membuka usaha
- Pindah rumah
- Menanam tanaman
- Melakukan perjalanan jauh
maka waktu pelaksanaannya perlu disesuaikan dengan karakter waktu tersebut.
Tujuannya bukan untuk melawan takdir, melainkan menyelaraskan tindakan manusia dengan ritme alam semesta.
Dalam logika primbon, pekerjaan yang dilakukan pada waktu yang selaras akan lebih mudah mencapai keberhasilan.
Sebaliknya, tindakan yang dilakukan pada waktu yang dianggap kurang tepat dipercaya berpotensi menghadapi lebih banyak hambatan.
Dari Jam Hingga Windu
Salah satu hal yang membuat primbon begitu unik adalah tingkat kerincian dalam menghitung waktu.
Menurut penelitian ini, primbon memperhitungkan waktu dari unit terkecil hingga terbesar. Mulai dari hitungan jam, hari, pasaran, bulan, tahun, hingga windu yang berlangsung selama delapan tahun. Bahkan siklus windu diperluas menjadi periode 64 tahun.
Kerincian tersebut menunjukkan betapa pentingnya posisi waktu dalam kehidupan masyarakat Jawa tradisional.
Bagi mereka, memahami waktu berarti memahami peluang dan tantangan yang mungkin muncul dalam kehidupan.
Setiap lapisan waktu diyakini memiliki pengaruh tersendiri.
Karena itulah primbon berkembang menjadi sistem pengetahuan yang sangat kompleks.
Pengaruh Kosmologi Hindu dan Jawa
Konsep waktu dalam primbon juga dipengaruhi oleh pandangan kosmologis yang berkembang sejak masa Hindu.
Dalam tradisi Hindu dikenal siklus besar yang disebut yuga, yaitu periode-periode kehidupan dunia yang terus berulang. Ada masa keemasan yang disebut Kertayuga, diikuti masa kemerosotan hingga mencapai Kaliyuga, yaitu zaman ketika kekacauan moral semakin dominan.
Pandangan siklis ini kemudian hidup dalam budaya Jawa.
Ketika masyarakat menghadapi berbagai krisis sosial, bencana alam, atau konflik politik, mereka sering menghubungkannya dengan tanda-tanda memasuki masa Kaliyuga.
Akibatnya, waktu tidak hanya dipahami sebagai hitungan kronologis, tetapi juga sebagai kualitas moral dan spiritual yang memengaruhi kehidupan manusia.
Waktu sebagai Jalan Membaca Kehidupan
Banyak orang mengira primbon adalah alat untuk meramal masa depan.
Padahal dalam banyak kasus, fungsi utamanya bukan untuk meramalkan secara mutlak, melainkan membantu manusia membaca pola kehidupan.
Melalui waktu, masyarakat Jawa berusaha memahami kecenderungan yang mungkin terjadi.
Mereka tidak melihat waktu sebagai penjara takdir, melainkan sebagai petunjuk arah.
Seperti seorang petani yang memahami musim hujan dan musim kemarau, primbon mencoba membantu manusia mengenali musim-musim kehidupan.
Kapan saat yang tepat untuk memulai.
Kapan saat yang baik untuk menunggu.
Kapan saat yang perlu diwaspadai.
Warisan Filosofis yang Tetap Hidup
Di era modern, sebagian besar masyarakat tidak lagi menjadikan primbon sebagai satu-satunya pedoman hidup. Pendidikan, ilmu pengetahuan, dan teknologi telah menghadirkan cara pandang baru terhadap waktu.
Namun menariknya, tradisi menghitung weton, memilih hari baik, dan memperhatikan pasaran masih bertahan di berbagai daerah Jawa.
Fenomena ini menunjukkan bahwa di balik primbon terdapat sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar ramalan.
Primbon mengajarkan pentingnya kesadaran terhadap waktu.
Ia mengingatkan bahwa kehidupan memiliki ritme. Bahwa tidak semua hal harus dilakukan tergesa-gesa. Bahwa ada saat untuk bergerak dan ada saat untuk menunggu.
Bagi masyarakat Jawa, waktu bukan sekadar angka yang terus berjalan. Waktu adalah bagian dari jagat raya yang hidup, berdenyut, dan memengaruhi kehidupan manusia.
Karena itulah hari baik dan hari buruk dipercaya. Bukan semata-mata karena takhayul, tetapi karena adanya keyakinan bahwa manusia hidup di dalam keteraturan kosmos yang lebih besar daripada dirinya sendiri. Memahami waktu berarti memahami posisi manusia dalam tatanan tersebut. Dan dari sanalah lahir kebijaksanaan yang diwariskan melalui primbon selama berabad-abad.
Sumber: Bay Aji Yusuf, Konsep Ruang dan Waktu dalam Primbon serta Aplikasinya pada Masyarakat Jawa, Program Studi Perbandingan Agama, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2009.

