Di tengah malam yang sunyi, seorang sesepuh Jawa duduk di beranda rumah kayunya. Di hadapannya terbentang langit yang dipenuhi bintang. Ia memandang ke arah utara, lalu ke timur, seolah sedang membaca sesuatu yang tidak terlihat oleh kebanyakan orang. Bagi dirinya, arah mata angin bukan sekadar petunjuk jalan. Langit bukan hanya hamparan ruang kosong. Setiap tempat memiliki makna, setiap posisi mengandung pengaruh, dan setiap manusia menempati titik tertentu dalam tatanan besar alam semesta.
Pandangan seperti inilah yang hidup dalam tradisi primbon Jawa.
Ketika masyarakat modern memahami ruang sebagai wilayah fisik yang dapat diukur dengan meter, kilometer, koordinat, atau peta digital, primbon memandang ruang dengan cara yang jauh lebih luas. Ruang bukan hanya tempat manusia berada, melainkan bagian dari tata kosmos yang menyatukan manusia, alam, waktu, dan kekuatan yang lebih besar dari dirinya.
Karena itulah, untuk memahami primbon secara utuh, seseorang tidak cukup hanya mempelajari hitungan weton atau hari baik. Ia harus memahami terlebih dahulu bagaimana orang Jawa memandang ruang dan posisi manusia di dalam jagat raya.
Ruang Tidak Pernah Kosong
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menganggap ruang sebagai sesuatu yang netral.
Sebuah rumah hanyalah rumah. Sebuah gunung hanyalah gunung. Sebidang tanah hanyalah tempat berdirinya bangunan.
Namun dalam pandangan primbon, tidak ada ruang yang benar-benar kosong atau netral. Setiap ruang memiliki karakter, fungsi, dan hubungan tertentu dengan ruang lainnya. Ruang dipahami sebagai bagian dari tatanan besar yang saling berkaitan.
Penelitian Bay Aji Yusuf menjelaskan bahwa konsep ruang dalam primbon berakar pada pandangan yang oleh filsuf Anton Bakker disebut sebagai realisme-ekstrem. Dalam pandangan ini, ruang bukan sekadar konsep dalam pikiran manusia, melainkan realitas yang sungguh-sungguh ada dan mengatur keberadaan segala sesuatu.
Dengan kata lain, manusia tidak menciptakan ruang. Justru manusia lahir dan hidup di dalam ruang yang telah memiliki keteraturan sejak awal.
Pandangan ini berbeda dengan cara berpikir modern yang cenderung menempatkan manusia sebagai pusat segala sesuatu.
Dalam primbon, manusia hanyalah salah satu unsur dari jagat raya yang jauh lebih besar.
Jagat Gedhe dan Jagat Cilik
Salah satu konsep penting dalam tradisi Jawa adalah hubungan antara jagat gedhe dan jagat cilik.
Jagat gedhe berarti alam semesta atau makrokosmos. Sementara jagat cilik berarti manusia atau mikrokosmos. Kedua dunia ini tidak berdiri sendiri. Keduanya saling memengaruhi dan saling mencerminkan.
Apa yang terjadi di alam semesta dipercaya memiliki pengaruh terhadap kehidupan manusia. Sebaliknya, perilaku manusia juga dapat memengaruhi keseimbangan kosmos.
Karena itulah masyarakat Jawa tradisional selalu berusaha menjaga harmoni.
Mereka percaya bahwa kehidupan yang selaras dengan tatanan alam akan mendatangkan keselamatan. Sebaliknya, tindakan yang bertentangan dengan keteraturan kosmos dapat menimbulkan berbagai kesulitan.
Konsep inilah yang menjadi dasar berbagai petungan dalam primbon.
Ruang Absolut dan Ruang Relatif
Dalam filsafat ruang yang melatarbelakangi primbon, terdapat dua jenis ruang yang saling berhubungan.
Pertama adalah ruang absolut.
Ruang absolut dipahami sebagai ruang yang menyeluruh, abadi, dan menjadi dasar bagi seluruh keberadaan. Ruang ini tidak dapat dilihat secara langsung, tetapi diyakini melingkupi seluruh alam semesta.
Kedua adalah ruang relatif.
Ruang relatif adalah ruang tempat manusia hidup sehari-hari. Rumah, desa, gunung, sungai, hutan, sawah, dan seluruh dunia fisik yang dapat dirasakan manusia termasuk ke dalam ruang relatif.
Menurut primbon, ruang relatif tidak berdiri sendiri. Ia bergantung pada ruang absolut yang menjadi sumber keteraturan seluruh kosmos.
Gagasan ini melahirkan keyakinan bahwa segala sesuatu di alam semesta sesungguhnya saling terhubung.
Tidak ada benda atau peristiwa yang benar-benar berdiri sendiri.
Ketertiban Agung Semesta
Masyarakat Jawa mengenal keyakinan bahwa alam semesta bergerak dalam sebuah “ketertiban agung”.
Bumi berputar mengikuti aturan tertentu. Bulan bergerak menurut siklusnya. Matahari terbit dan tenggelam dalam keteraturan yang sama selama ribuan tahun. Bintang-bintang pun menempati jalurnya masing-masing.
Semua itu membentuk jaringan hubungan yang sangat besar.
Dalam pandangan primbon, manusia tidak berada di luar jaringan tersebut. Ia menjadi bagian dari ketertiban yang sama.
Karena itu, tempat seseorang lahir, arah rumahnya menghadap, lokasi suatu desa, bahkan letak sebuah makam dapat memiliki arti tertentu dalam kehidupan manusia.
Pandangan ini menjelaskan mengapa masyarakat Jawa sangat memperhatikan orientasi ruang.
Dalam tradisi keraton misalnya, tata letak bangunan tidak dibuat secara sembarangan. Posisi alun-alun, keraton, masjid, dan gunung sering kali disusun berdasarkan pertimbangan kosmologis.
Masing-masing memiliki posisi simbolik dalam jagat raya.
Mengapa Arah Mata Angin Penting?
Dalam banyak tradisi Jawa, arah mata angin mempunyai makna yang lebih dalam daripada sekadar petunjuk geografis.
Timur sering dihubungkan dengan awal kehidupan karena menjadi tempat terbitnya matahari. Barat berkaitan dengan akhir perjalanan. Selatan sering dikaitkan dengan kekuatan spiritual, sementara utara melambangkan keseimbangan dan kemakmuran.
Pandangan ini lahir dari keyakinan bahwa ruang mengandung kualitas tertentu.
Bukan berarti setiap arah secara fisik memiliki kekuatan gaib. Namun dalam pemahaman budaya Jawa, arah menjadi simbol hubungan manusia dengan alam semesta.
Karena itu, ketika membangun rumah, mendirikan tempat ibadah, atau menentukan lokasi permukiman, masyarakat tradisional sering mempertimbangkan orientasi ruang secara serius.
Primbon dan “Ngelmu Gathuk”
Banyak orang modern menganggap primbon sekadar usaha mencocok-cocokkan berbagai hal.
Kesan ini muncul karena primbon sering menghubungkan satu peristiwa dengan peristiwa lain yang tampaknya tidak berkaitan.
Namun menurut kajian yang dibahas dalam penelitian ini, pola hubungan tersebut sebenarnya berasal dari keyakinan bahwa semua unsur dalam kosmos saling terhubung.
Jika posisi bulan memengaruhi pasang surut air laut, maka tidak mustahil posisi benda-benda langit juga diyakini memengaruhi kehidupan manusia.
Dari sudut pandang inilah berbagai petungan dalam primbon disusun.
Meskipun tidak seluruhnya dapat diterima oleh pendekatan ilmiah modern, sistem tersebut memiliki logika internal yang konsisten dalam kerangka kosmologi Jawa.
Menempatkan Diri dalam Alam
Pada dasarnya, konsep ruang dalam primbon mengajarkan satu hal penting: manusia bukan pusat alam semesta.
Ia hanyalah bagian kecil dari jaringan kehidupan yang sangat luas.
Keselamatan tidak dicapai dengan menaklukkan alam, melainkan dengan memahami posisi diri di dalamnya. Kebahagiaan tidak lahir dari penguasaan ruang, tetapi dari kemampuan menjaga harmoni dengan ruang tempat manusia hidup.
Karena itulah masyarakat Jawa mengenal berbagai nasihat tentang keseimbangan, keselarasan, dan kehati-hatian dalam bertindak.
Mereka percaya bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi terhadap tatanan yang lebih besar.
Dalam bahasa modern, gagasan ini mungkin dapat dipahami sebagai kesadaran ekologis dan kosmologis sekaligus.
Warisan Kosmologi Jawa
Di era satelit, GPS, dan kecerdasan buatan, konsep ruang dalam primbon mungkin tampak kuno. Namun di balik berbagai simbol dan petungannya, tersimpan sebuah pandangan hidup yang menarik.
Primbon mengajarkan bahwa manusia tidak hidup sendirian. Ia selalu berada dalam hubungan dengan lingkungan, masyarakat, alam, dan semesta.
Pandangan tersebut mengingatkan bahwa kehidupan bukan sekadar perjalanan individu, melainkan bagian dari keteraturan yang lebih luas.
Bagi masyarakat Jawa masa lalu, memahami ruang berarti memahami tempat manusia di jagat raya. Dan ketika seseorang mengetahui tempatnya dengan benar, ia diyakini akan lebih mudah menjalani hidup dalam keadaan selaras, tenteram, dan penuh makna.
Sumber: Bay Aji Yusuf, Konsep Ruang dan Waktu dalam Primbon serta Aplikasinya pada Masyarakat Jawa, Program Studi Perbandingan Agama, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2009.

