Di sebuah desa di Jawa, seorang petani tua berdiri di tepi sawah. Ia memandangi arah angin, memperhatikan posisi bulan, lalu membuka sebuah buku lusuh yang diwariskan turun-temurun. Di dalamnya terdapat petunjuk kapan waktu terbaik menanam padi, kapan hari baik menggelar hajatan, bahkan bagaimana membaca pertanda alam. Buku itu disebut primbon.
Bagi sebagian orang modern, primbon mungkin hanya dianggap kumpulan ramalan atau mitos masa lampau. Namun jika ditelusuri lebih jauh, primbon sesungguhnya merupakan salah satu warisan intelektual Jawa yang lahir dari proses sejarah panjang. Ia bukan sekadar kitab perhitungan hari baik dan buruk, melainkan cerminan cara pandang masyarakat Jawa terhadap alam semesta, manusia, ruang, dan waktu.
Sejarah primbon tidak dapat dilepaskan dari perjalanan panjang kebudayaan Jawa yang mengalami berbagai lapisan pengaruh. Di dalamnya terdapat jejak animisme, Hindu-Buddha, Islam, hingga tradisi lokal yang saling bertemu dan membentuk sintesis budaya yang unik.
Dari Tradisi Lisan Menuju Tradisi Tulisan
Jauh sebelum Islam datang ke Jawa, masyarakat telah memiliki sistem kepercayaan yang berakar pada penghormatan terhadap roh leluhur dan kekuatan alam. Kehidupan mereka diwarnai berbagai ritual yang bertujuan menjaga keseimbangan antara manusia dan alam semesta.
Ketika pengaruh Hindu-Buddha masuk ke Nusantara, masyarakat Jawa tidak menerimanya secara utuh. Para cendekiawan Jawa melakukan proses adaptasi sehingga lahirlah bentuk kebudayaan baru yang tetap berciri Jawa. Salah satu dampak terbesar dari pengaruh Hindu adalah berkembangnya tradisi tulis.
Dari sinilah muncul berbagai karya sastra Jawa, penggunaan aksara Hanacaraka, serta sistem penanggalan Saka yang digunakan untuk mencatat peristiwa-peristiwa penting. Kehadiran tradisi tulis ini menjadi fondasi penting bagi lahirnya berbagai naskah Jawa pada masa berikutnya.
Namun masyarakat Jawa tidak hidup dalam satu lapisan budaya. Di satu sisi terdapat kelompok istana dan para priyayi yang mengembangkan kebudayaan tinggi. Di sisi lain terdapat masyarakat pedesaan yang masih kuat mempertahankan tradisi lama. Perbedaan inilah yang kemudian mewarnai perkembangan budaya Jawa selama berabad-abad.
Kedatangan Islam dan Awal Perubahan Besar
Memasuki abad ke-13 hingga ke-16, Islam mulai menyebar melalui jalur perdagangan dan dakwah para ulama sufi. Berbeda dengan banyak wilayah lain di dunia, Islam di Jawa berkembang melalui pendekatan budaya yang relatif damai.
Ketika Kesultanan Demak berdiri sebagai kerajaan Islam pertama di Jawa, proses perubahan budaya semakin kuat. Namun perubahan itu tidak menghapus warisan masa lalu. Sebaliknya, terjadi proses dialog panjang antara budaya Jawa-Hindu dengan ajaran Islam.
Para ulama, pujangga, dan bangsawan Jawa mulai menyerap unsur-unsur Islam ke dalam karya sastra dan tradisi lokal. Dari proses inilah muncul apa yang oleh para peneliti disebut sebagai kepustakaan Islam-Kejawen.
Karya-karya seperti serat, suluk, dan kemudian primbon lahir dari pertemuan dua dunia tersebut. Islam memberikan kerangka spiritual baru, sementara budaya Jawa mempertahankan cara pandangnya terhadap kosmos dan kehidupan.
Sultan Agung dan Lahirnya Kalender Jawa
Tokoh yang paling berperan dalam proses sinkretisme budaya Jawa dan Islam adalah Sultan Agung dari Mataram.
Pada abad ke-17, Jawa menghadapi persoalan sosial yang cukup rumit. Kaum santri menggunakan kalender Hijriah yang berbasis peredaran bulan, sedangkan masyarakat kejawen masih memakai kalender Saka yang berbasis matahari.
Perbedaan sistem penanggalan ini berpotensi menimbulkan ketidakharmonisan sosial. Sultan Agung kemudian melakukan langkah revolusioner dengan menciptakan kalender Jawa.
Kalender baru ini menggunakan sistem perhitungan bulan seperti kalender Hijriah, tetapi tetap mempertahankan angka tahun Saka yang telah lama digunakan masyarakat Jawa. Selain itu, unsur-unsur pasaran Jawa seperti Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon tetap dipertahankan.
Kebijakan tersebut berhasil menjembatani dua kelompok masyarakat yang berbeda tradisi. Lebih dari itu, kalender Jawa menjadi dasar bagi berbagai sistem perhitungan yang digunakan dalam primbon.
Primbon Sebagai Gudang Pengetahuan
Dalam perkembangannya, primbon tidak hanya berisi ramalan.
Menurut klasifikasi yang dikutip dalam penelitian ini, isi primbon sangat luas. Di dalamnya terdapat pranata mangsa untuk membaca musim, petungan untuk menghitung berbagai peristiwa, pawukon untuk sistem waktu, pengobatan tradisional, mantra, kidung, ramalan sosial, tata cara slametan, hingga tafsir gejala alam.
Karena itulah sebagian budayawan menyebut primbon sebagai gudang pengetahuan masyarakat Jawa.
Bagi petani, primbon membantu menentukan masa tanam. Bagi nelayan, primbon membantu membaca tanda-tanda alam. Bagi keluarga Jawa, primbon menjadi rujukan dalam menentukan hari pernikahan, pindah rumah, atau membangun bangunan baru.
Dalam konteks ini, primbon lebih mirip ensiklopedia budaya daripada sekadar kitab ramalan.
Pengaruh Islam yang Sangat Kuat
Meskipun banyak unsur Jawa kuno masih dipertahankan, penelitian menunjukkan bahwa bentuk primbon yang dikenal saat ini berkembang pesat pada masa Mataram Islam.
Bahkan beberapa istilah dalam sistem perhitungan primbon menunjukkan pengaruh Islam dan tradisi Timur Tengah. Nama-nama bulan Jawa merupakan adaptasi dari bulan Hijriah. Beberapa konsep astrologi juga memperlihatkan kemiripan dengan ilmu falak dan tradisi hikmah yang berkembang dalam dunia Islam.
Hal ini menunjukkan bahwa primbon bukan warisan murni Hindu maupun murni Islam. Ia adalah hasil dialog panjang antara berbagai tradisi yang hidup di Jawa.
Warisan yang Masih Bertahan
Di era digital saat ini, sebagian isi primbon mungkin tidak lagi digunakan secara luas. Namun jejaknya masih dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa.
Tradisi menentukan hari baik untuk pernikahan, memilih waktu pindah rumah, hingga membaca pertanda alam masih dilakukan oleh sebagian masyarakat.
Lebih penting lagi, primbon mengajarkan bahwa masyarakat Jawa memiliki cara tersendiri dalam memahami hubungan antara manusia, alam, dan Tuhan. Cara pandang tersebut lahir dari proses sejarah yang panjang, melibatkan berbagai agama, budaya, dan sistem pengetahuan.
Primbon menjadi bukti bahwa kebudayaan tidak pernah lahir dari ruang kosong. Ia tumbuh melalui perjumpaan, dialog, dan adaptasi yang berlangsung selama berabad-abad. Dalam setiap halaman primbon, tersimpan jejak perjalanan panjang masyarakat Jawa dalam memahami dunia dan tempat mereka di dalamnya.
Sumber: Bay Aji Yusuf, Konsep Ruang dan Waktu dalam Primbon serta Aplikasinya pada Masyarakat Jawa, Skripsi Program Studi Perbandingan Agama, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2009.

