Jika pengusaha Cina mengubah ekonomi batik Banyumas, maka perempuan Indo-Eropa mengubah estetikanya.
Salah satu nama yang paling dikenang adalah Catharina Carolina van Oosterom. Perempuan keturunan Belanda ini menetap di Banyumas sejak pertengahan abad ke-19 dan mengembangkan karya batik yang kemudian dikenal sebagai Panastroman.

Berbeda dengan batik tradisional Banyumas, karya Van Oosterom menghadirkan motif yang terinspirasi budaya Eropa. Sosok cupid, malaikat kecil, buah anggur, hingga berbagai fauna dunia muncul dalam lembaran batiknya.
Warna-warna yang digunakan juga berbeda. Merah tua, biru, hitam, dan krem menjadi ciri khas yang kemudian dikenal luas di kalangan kolektor.
Kehadiran Van Oosterom membawa perspektif baru bahwa batik bukan sekadar kain sandang, melainkan karya seni bernilai tinggi. Pengaruhnya melahirkan sejumlah rumah batik Indo-Eropa lain seperti Wileman dan Matheron.
Melalui tangan para perempuan Indo-Eropa dan pembatik Banyumas, lahirlah perpaduan budaya yang unik. Batik Banyumas tidak hanya bertahan menghadapi perubahan zaman, tetapi juga berkembang menjadi artefak budaya yang kaya akan pengaruh lokal dan global.
Sumber: Farid Abdullah, Adlien Fadlia, dan Menul Teguh Riyanti, “Dinamika Batik Banyumas 1890-1930”, Jurnal Dinamika Kerajinan dan Batik Vol.39 No.2 Tahun 2022.
