Sekitar tahun 1915, lanskap industri batik Banyumas mengalami perubahan besar. Para pengusaha batik keturunan Cina mulai membuka usaha di berbagai wilayah Banyumas dengan modal yang jauh lebih besar dibandingkan pengusaha pribumi.
Mereka membawa strategi bisnis yang lebih modern, desain motif baru, serta jaringan perdagangan yang luas. Dalam waktu singkat, posisi mereka menjadi dominan dalam industri batik setempat.
Keunggulan modal memungkinkan pengusaha Cina menjual batik dengan harga lebih murah. Keuntungan dari usaha lain, seperti perdagangan hasil bumi, membuat mereka mampu menekan harga pasar.
Sebaliknya, banyak pengusaha pribumi hanya bergantung pada usaha batik sebagai sumber penghasilan utama. Ketika harga turun, mereka kesulitan bertahan dalam persaingan.
Dari kondisi tersebut lahir sistem produksi yang dikenal sebagai ijon. Pengusaha menyediakan kain mori dan bahan baku kepada pembatik desa, kemudian hasilnya dibeli kembali dengan harga yang telah ditentukan sebelumnya.
Meski menciptakan ketergantungan ekonomi, sistem ini juga memperluas produksi batik Banyumas dan memperkenalkan berbagai motif baru yang memperkaya khazanah batik daerah tersebut.
Sumber: Farid Abdullah, Adlien Fadlia, dan Menul Teguh Riyanti, “Dinamika Batik Banyumas 1890-1930”, Jurnal Dinamika Kerajinan dan Batik Vol.39 No.2 Tahun 2022.

