Di tengah derasnya arus budaya populer yang semakin mendominasi ruang publik, upaya memperkenalkan sejarah dan budaya lokal menjadi tantangan tersendiri. Namun tantangan itulah yang justru ingin dijawab oleh Reni A Daniel, Executive Producer pagelaran budaya Sangkala Nyai Gandasari.
Berbekal pengalaman panjang Yayasan Prima Ardian Tana yang selama ini aktif menyelenggarakan kegiatan kebudayaan di Cirebon, Reni mengambil langkah lebih lanjut. Ia memilih Jakarta sebagai lokasi pementasan, sebuah keputusan yang lahir dari keinginannya untuk memperluas jangkauan promosi budaya Cirebon kepada masyarakat Indonesia.
Menurutnya, selama ini berbagai pertunjukan budaya yang digelar di Cirebon sering kali hanya dinikmati oleh kalangan yang sama. Padahal, karya-karya budaya tersebut memiliki kualitas yang layak diperkenalkan kepada publik yang lebih luas.

“Kalau acaranya terus diadakan di Cirebon, yang datang sering kali orang-orang yang sama. Sayang sekali. Karena itu saya ingin membawa cerita Cirebon ke Jakarta agar lebih banyak orang mengenalnya,” ungkap Reni.
Keputusan tersebut menjadi awal perjalanan panjang yang melibatkan berbagai budayawan, seniman, penari, hingga juru kunci dari berbagai kalangan. Mereka duduk bersama untuk menentukan tokoh sejarah yang paling tepat diangkat dalam sebuah pertunjukan besar.
Awalnya, beberapa nama yang sudah populer dalam sejarah Cirebon muncul sebagai usulan, seperti kisah Putri Ong Tien dan Sunan Gunung Jati. Namun perhatian Reni justru tertuju pada sosok perempuan yang selama ini belum banyak dikenal generasi muda, yakni Nyai Gandasari.
Bagi Reni, Nyai Gandasari bukan sekadar tokoh sejarah. Ia adalah simbol keberanian, pengabdian, dan kontribusi perempuan dalam perjalanan panjang Cirebon. Kisah perjuangannya yang berperan dalam berbagai fase penting sejarah wilayah tersebut dinilai memiliki kekuatan narasi yang sangat relevan untuk diperkenalkan kembali kepada masyarakat masa kini.
“Generasi yang lebih tua mungkin masih mengenal Nyai Gandasari. Tetapi anak-anak muda banyak yang belum mengetahui siapa beliau dan apa kontribusinya bagi Cirebon,” ujarnya.
Melalui Sangkala Nyai Gandasari, Reni tidak hanya ingin menghadirkan sebuah pertunjukan seni, tetapi juga membangun kesadaran sejarah. Ia berharap masyarakat, khususnya generasi muda, dapat mengenal kembali tokoh-tokoh yang telah berjasa membentuk identitas daerahnya.
Lebih jauh, Reni memandang Cirebon sebagai satu kesatuan budaya yang tidak terpecah oleh batas administratif kota dan kabupaten. Baginya, yang perlu diperkenalkan kepada publik adalah Cirebon secara utuh.
Pandangan tersebut berangkat dari kenyataan bahwa masyarakat luar daerah, khususnya Jakarta, tidak terlalu memahami perbedaan antara Kota Cirebon dan Kabupaten Cirebon. Yang mereka kenal hanyalah Cirebon sebagai sebuah kawasan budaya yang kaya akan sejarah, tradisi, dan warisan leluhur.
Padahal, menurut Reni, Cirebon memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki banyak daerah lain di Indonesia. Salah satunya adalah keberadaan empat keraton yang hidup dalam satu kawasan budaya. Potensi besar ini, menurutnya, belum sepenuhnya dikenal masyarakat luas.
Karena itu ia meyakini bahwa memperkenalkan budaya harus dimulai dari rasa bangga terhadap identitas sendiri.
“Kita harus mencintai budaya sendiri terlebih dahulu sebelum mencintai budaya orang lain,” katanya.
Meski demikian, Reni mengakui bahwa upaya mempromosikan Cirebon masih menghadapi berbagai tantangan. Salah satunya adalah membangun kepercayaan diri masyarakat terhadap potensi daerah yang mereka miliki. Ia menilai bahwa promosi daerah tidak hanya menjadi tugas pemerintah, tetapi juga tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat.
Di sisi lain, ia bersyukur karena dukungan pemerintah daerah mulai tumbuh. Berbagai pihak kini memiliki visi yang sama untuk menjadikan Cirebon sebagai destinasi budaya yang semakin dikenal.
Semangat kolaborasi juga diwujudkan dengan melibatkan mahasiswa dalam proses penyelenggaraan acara. Melalui keterlibatan mahasiswa Program Studi MICE, pagelaran budaya tidak hanya menjadi ruang pertunjukan, tetapi juga sarana pembelajaran langsung mengenai dunia event dan industri kreatif.
Tak berhenti di situ, Reni juga memiliki visi sosial. Jika kegiatan budaya yang diselenggarakan mampu menghasilkan keuntungan, sebagian hasilnya direncanakan untuk mendukung program beasiswa bagi anak-anak berbakat di Cirebon yang memiliki keterbatasan ekonomi.
Baginya, pelestarian budaya tidak hanya berbicara tentang menjaga warisan masa lalu, tetapi juga menciptakan masa depan yang lebih baik bagi generasi penerus.
Meski mengakui bahwa penyelenggaraan kegiatan budaya sering kali penuh tantangan, terutama dalam hal pendanaan dan sponsor, Reni tetap optimistis. Ia percaya bahwa selama ada orang-orang yang peduli terhadap budaya, perjuangan untuk memperkenalkan Cirebon dan menghidupkan kembali kisah-kisah bersejarah seperti Nyai Gandasari akan terus berjalan.
Melalui Sangkala Nyai Gandasari, Reni A Daniel menunjukkan bahwa budaya bukan sekadar kenangan masa lalu. Budaya adalah identitas, kebanggaan, sekaligus jembatan yang menghubungkan generasi hari ini dengan akar sejarah yang membentuk mereka.
