Abad ke-15 dan ke-16 menjadi salah satu periode paling menentukan dalam sejarah Jawa dan Nusantara. Pada masa inilah terjadi perubahan besar dalam bidang politik, sosial, budaya, ekonomi, hingga spiritualitas masyarakat Jawa. Kerajaan Hindu-Buddha seperti Majapahit mulai melemah, sementara kerajaan-kerajaan Islam tumbuh pesat di wilayah pesisir utara Jawa.
Namun perubahan tersebut tidak bisa dipahami hanya sebagai pergantian kekuasaan politik semata. Menurut sejarawan H.J. de Graaf dan Th.G.Th. Pigeaud dalam Kerajaan Islam di Jawa, proses tersebut merupakan transformasi panjang yang melibatkan perdagangan internasional, perkembangan budaya pesisir, migrasi penduduk, hingga munculnya golongan menengah Muslim di kota-kota dagang Jawa.
Perjalanan sejarah Jawa pada masa itu juga dipengaruhi oleh perkembangan dunia internasional. Bangsa Portugis mulai datang ke Asia Tenggara setelah merebut Malaka pada 1511, sementara perdagangan global mempertemukan Jawa dengan India, Arab, Cina, dan Eropa.

Islamisasi Jawa dan Perubahan Peradaban
Salah satu pembahasan penting dalam hal ini adalah kritik terhadap pandangan lama yang menganggap runtuhnya Majapahit sebagai kehancuran total peradaban Jawa.
Menurut de Graaf, pandangan Barat pada masa kolonial terlalu menekankan adanya jurang besar antara zaman Hindu-Jawa dan zaman Islam. Padahal dalam banyak sumber Jawa justru terlihat bahwa peradaban Majapahit tidak hilang, melainkan perlahan diislamkan.
Cerita-cerita mengenai para wali, tokoh sakti, dan penyebar Islam di Jawa menunjukkan bahwa masyarakat Jawa melihat Islam sebagai kelanjutan sekaligus pembaruan dari budaya lama. Tradisi Jawa tetap dipertahankan, tetapi diberi makna baru sesuai ajaran Islam.
Karena itu Islamisasi Jawa berlangsung relatif damai dan bertahap. Pendekatan budaya jauh lebih dominan dibanding penaklukan militer.
Pentingnya Sumber Sejarah Pribumi
Dalam penulisan sejarah Jawa, de Graaf menekankan pentingnya penggunaan sumber-sumber lokal atau pribumi. Selama ini banyak sejarawan Barat lebih mengandalkan dokumen Belanda dan Portugis dibanding naskah Jawa.
Padahal sumber lokal seperti Serat Kandha, Babad Tanah Jawa, Babad Sangkala, hingga kisah para wali menyimpan banyak informasi mengenai kehidupan spiritual dan sosial masyarakat Jawa.
Memang sebagian besar naskah Jawa dipenuhi unsur mitos dan legenda. Namun menurut de Graaf, hal itu tidak berarti sumber tersebut tidak penting. Cerita rakyat dan legenda justru mencerminkan cara masyarakat Jawa memahami sejarah dan perubahan zaman.
Dalam budaya Jawa, pesan sejarah sering disampaikan secara simbolik dan tersirat. Karena itu diperlukan pendekatan interpretatif dalam membacanya.
Kota Pesisir dan Kebangkitan Islam Jawa
Perkembangan Islam di Jawa sangat erat kaitannya dengan kota-kota pesisir utara seperti Gresik, Surabaya, Jepara, Demak, dan Cirebon.
Wilayah pesisir menjadi titik temu perdagangan internasional antara pedagang Jawa, Arab, Gujarat, Persia, hingga Cina. Dari kota-kota inilah muncul komunitas Muslim yang kuat secara ekonomi dan sosial.
Golongan menengah Muslim di daerah perdagangan memainkan peranan penting dalam pembentukan masyarakat baru Jawa-Islam. Mereka berbeda dari golongan bangsawan keraton maupun petani desa.
Islam membawa nilai yang lebih egaliter dibanding struktur sosial Hindu-Jawa yang bercorak kasta dan aristokratis. Hal ini membuat agama Islam mudah diterima masyarakat pesisir.
Menurut de Graaf, para pedagang Muslim berdarah campuran bahkan mulai menjalankan pemerintahan setempat di beberapa kota pelabuhan Jawa.
Pengaruh Cina dalam Penyebaran Islam
Salah satu bagian menarik dalam hal ini adalah mengenai pengaruh masyarakat Cina dalam sejarah Jawa dan penyebaran Islam.
De Graaf menyebut bahwa komunitas Cina telah lama tinggal di kota-kota pelabuhan Jawa. Mereka memiliki hubungan erat dengan perdagangan, pemerintahan lokal, dan perkembangan budaya.
Bahkan beberapa cerita Jawa menyebut tokoh-tokoh Muslim awal di Gresik dan Surabaya memiliki nama Cina dan berasal dari Champa.
Pengaruh Cina tidak hanya tampak dalam perdagangan, tetapi juga dalam seni rupa, arsitektur, hingga perkembangan kota-kota pesisir Jawa. Banyak keturunan Cina menduduki posisi penting dalam pemerintahan lokal.
Menurut sumber tersebut, penguasa Demak bahkan disebut memiliki keturunan Cina.
Hal ini menunjukkan bahwa pembentukan peradaban Islam-Jawa merupakan hasil akulturasi berbagai budaya dunia.
Pergeseran Kekuasaan dari Pesisir ke Pedalaman
Setelah Demak melemah, pusat kekuasaan Islam bergeser ke Pajang dan kemudian Mataram di pedalaman Jawa Tengah.
Perubahan ini menjadi titik penting dalam sejarah Jawa karena mengubah orientasi budaya dari pesisir menuju budaya keraton pedalaman.
Raja-raja Mataram kemudian berhasil menaklukkan hampir seluruh Jawa melalui ekspansi militer besar-besaran pada akhir abad ke-16 dan awal abad ke-17.
Pada masa inilah budaya keraton berkembang menjadi pusat kebudayaan Jawa yang dominan hingga berabad-abad kemudian.
Menurut de Graaf, sejak abad ke-17 masyarakat Jawa mulai berkembang lebih tertutup terhadap pengaruh asing dibanding masa pesisir sebelumnya yang kosmopolitan.
Migrasi Penduduk dan Pembentukan Identitas Jawa
Bab ini juga menyoroti pentingnya perpindahan penduduk dalam pembentukan identitas Jawa modern.
Perpindahan masyarakat terjadi sejak zaman kuno hingga masa Islam. Salah satu yang penting adalah migrasi orang Jawa Islam dari pesisir Jawa Tengah ke arah barat pada abad ke-16 sehingga wilayah Cirebon, Jakarta, dan Banten menjadi daerah berbudaya Jawa.
Di sisi lain, raja-raja Mataram juga memindahkan penduduk dari wilayah pesisir dan Jawa Timur ke pedalaman Jawa Tengah untuk memperkuat kerajaan mereka.
Migrasi ini mempercepat pembauran budaya dan bahasa di Pulau Jawa.
Selain itu, kawasan pesisir Jawa menjadi tempat percampuran berbagai etnis seperti Jawa, Sunda, Madura, Bugis, Makassar, Bali, Arab, India, dan Cina.
Karena itu budaya Jawa sebenarnya terbentuk melalui proses panjang pertemuan berbagai bangsa dan kebudayaan.
Perdagangan Internasional dan Perubahan Sosial
Kemajuan perdagangan internasional juga menjadi faktor penting dalam perkembangan Jawa abad ke-15 dan ke-16.
Kedatangan Portugis, Belanda, Arab, Gujarat, dan Cina membuat pelabuhan-pelabuhan Jawa menjadi pusat ekonomi baru.
Perdagangan bukan hanya membawa barang dagangan, tetapi juga gagasan, agama, teknologi, dan budaya.
Menurut de Graaf, sejarah ekonomi rakyat Jawa masih kurang mendapat perhatian dalam penulisan sejarah tradisional. Padahal perkembangan perdagangan sangat memengaruhi perubahan sosial masyarakat Jawa pada masa Islam awal.
Golongan menengah Muslim yang berkembang di kota dagang menjadi kekuatan baru di luar dominasi bangsawan keraton.
Legenda, Wali, dan Spiritualitas Jawa
Meskipun banyak mengandung unsur mistik dan keajaiban, kisah-kisah tersebut mencerminkan perkembangan spiritual masyarakat Jawa.
Cerita tentang Sunan Kalijaga, Sunan Giri, Sunan Bonang, hingga tokoh-tokoh sufi desa memperlihatkan bagaimana Islam berkembang melalui pendekatan budaya dan spiritualitas lokal.
Tradisi pesantren juga mulai berkembang sebagai pusat pendidikan agama dan jaringan sosial baru di Jawa.
Dari sinilah lahir budaya Islam-Jawa yang khas dan berbeda dengan tradisi Islam Timur Tengah.
Pentingnya Penelitian Sejarah Jawa
Di akhir pembahasan, de Graaf menegaskan bahwa sejarah Jawa masih membutuhkan banyak penelitian mendalam.
Kota-kota pesisir, situs kuno Islam, masjid tua, makam, permukiman kuno, hingga kelenteng Cina perlu diteliti secara serius untuk memahami sejarah Jawa secara lebih utuh.
Selama ini penelitian arkeologi lebih banyak fokus pada candi Hindu-Buddha, sementara peninggalan Islam sering diabaikan.
Padahal masa peralihan dari Majapahit menuju kerajaan Islam merupakan salah satu periode paling penting dalam pembentukan identitas Indonesia modern.
Warisan Besar Peradaban Islam-Jawa
Sejarah Jawa abad ke-15 dan ke-16 menunjukkan bahwa perubahan besar dalam sejarah tidak selalu terjadi melalui penghancuran budaya lama.
Di Jawa, Islam tumbuh melalui perdagangan, pendidikan, spiritualitas, dan akulturasi budaya. Peradaban Majapahit tidak hilang begitu saja, tetapi bertransformasi menjadi peradaban Islam-Jawa yang baru.
Warisan tersebut masih dapat dilihat hingga kini melalui budaya keraton, pesantren, seni tradisional, hingga kehidupan masyarakat Jawa modern.
Sejarah itu sekaligus memperlihatkan kemampuan Nusantara dalam menyerap pengaruh luar tanpa kehilangan identitas budayanya sendiri.
Sumber:
H.J. de Graaf dan Th.G.Th. Pigeaud, Kerajaan Islam di Jawa, Bab 2.
