Perkembangan dunia fashion membuka peluang baru bagi pelestarian budaya tradisional Indonesia. Di Lampung, motif kain Tampan yang mulai langka kini dihidupkan kembali melalui penciptaan busana kasual batik dengan sentuhan modern dan estetika kontemporer.

Kain Tampan merupakan kain tenun tradisional masyarakat Saibatin di pesisir Lampung yang memiliki motif khas bertema kehidupan maritim. Kain ini dikenal dengan ornamen kapal, manusia, pohon hayat, hingga hewan laut yang sarat nilai simbolik budaya.
Dalam jurnal seni kriya Institut Seni Indonesia Yogyakarta tahun 2022, dijelaskan bahwa penciptaan busana berbasis kain Tampan dilakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap semakin langkanya kain tradisional tersebut.
Saat ini, kain Tampan sudah sangat sulit ditemukan karena tidak ada lagi penenun yang mampu memproduksinya. Proses pembuatan yang rumit dan memerlukan waktu lama membuat regenerasi perajin hampir terhenti.
Selain itu, bencana letusan Gunung Krakatau tahun 1883 juga menyebabkan banyak koleksi kain Tampan musnah akibat kerusakan besar di wilayah pesisir Lampung Selatan.
Melalui pendekatan fashion modern, motif-motif tradisional kemudian diadaptasi menjadi busana kasual wanita yang lebih mudah diterima masyarakat masa kini. Busana dirancang menggunakan teknik batik tulis dengan perpaduan warna merah, kuning, hitam, dan coklat khas Lampung.
Penciptaan karya dilakukan melalui beberapa tahap mulai dari eksplorasi, perancangan, hingga perwujudan karya. Penelitian visual dilakukan melalui studi pustaka dan observasi langsung terhadap koleksi kain Tampan di museum.
Setelah proses eksplorasi selesai, motif-motif tradisional kemudian dituangkan dalam bentuk sketsa busana. Desain yang dipilih lalu diwujudkan menjadi karya tiga dimensi berupa pakaian kasual wanita.
Empat karya busana berhasil dihasilkan dalam proyek tersebut. Salah satunya berjudul “Berkumpul” yang menampilkan motif manusia sebagai simbol nenek moyang dan para prajurit yang sedang berkumpul.
Busana tersebut memadukan crop top dengan outer panjang dan celana model baggy sehingga menghasilkan kesan semi formal namun tetap nyaman digunakan.
Karya lain berjudul “Berteduh” menghadirkan motif bangunan dan pohon hayat sebagai simbol tempat perlindungan. Sementara “Menepi” dan “Berlayar” menampilkan visual kapal yang menggambarkan kehidupan masyarakat pesisir Lampung.
Teknik pewarnaan dilakukan menggunakan metode colet dan tutup celup dengan pewarna remasol dan naptol. Proses ini menghasilkan warna-warna kontras yang memperkuat karakter visual motif tradisional.
Menurut penulis penelitian, fashion dapat menjadi media efektif dalam memperkenalkan budaya daerah kepada masyarakat luas, khususnya generasi muda. Ketika budaya hadir dalam bentuk yang fungsional dan modern, peluang untuk terus dikenal menjadi lebih besar.
Inovasi ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak harus selalu dilakukan secara konvensional. Melalui kreativitas di bidang fashion dan seni kriya, warisan budaya Lampung dapat terus hidup dan berkembang mengikuti zaman tanpa kehilangan nilai filosofisnya.
Sumber Berita:
Jurnal “Motif Kain Tampan Lampung Sebagai Dasar Penciptaan Busana Kasual Batik” karya Anita Dewi, Program Studi Kriya ISI Yogyakarta Tahun 2022.

