Industri kulit Indonesia kembali mendapat dorongan besar dari pemerintah. Melalui serangkaian pelatihan teknis dan penguatan kompetensi, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memacu para pelaku industri kecil dan menengah (IKM) untuk mampu bersaing di pasar global yang semakin kompetitif sekaligus membawa identitas budaya nasional ke tingkat dunia.
Dorongan ini bukan tanpa alasan. Berbagai kajian internasional memprediksi pasar produk kulit global dapat menembus USD 390 miliar hingga USD 738 miliar pada 2030. Produk kulit dengan teknik carving—yang menawarkan detail tiga dimensi dan karakter artistik—bahkan memiliki nilai jual 2–5 kali lipat lebih tinggi dibanding produk kulit biasa. Inilah peluang emas yang ingin dimaksimalkan pemerintah.
Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, menegaskan bahwa sektor ini memiliki posisi strategis untuk menjadi tulang punggung industri kreatif nasional. “Produk kulit Indonesia memiliki prospek kuat di pasar ekspor karena konsumen kini mencari karya yang menggabungkan kualitas, seni, dan cerita budaya,” ujarnya. Pemerintah, lanjutnya, berkomitmen mendorong IKM agar naik kelas melalui program pelatihan, pendampingan, dan fasilitasi berbasis kompetensi.
Kinerja industri kulit memang menunjukkan tren menggembirakan. Pada triwulan III 2025, pertumbuhan sektor ini mencapai 4,87 persen dan menyumbang 1,37 persen terhadap PDB industri nonmigas, dengan nilai ekspor menembus USD 7,8 miliar—naik 5 persen dari tahun sebelumnya.
Untuk memperkuat kualitas produk dan keterampilan SDM, berbagai pelatihan digelar di bawah koordinasi Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI). Salah satunya melalui Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kulit, Karet, dan Plastik (BBSPJIKKP) yang bermitra dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Magetan.
Pelatihan khusus pembuatan barang kulit menggunakan teknik carving digelar selama lima hari pada November 2025, diikuti 10 perajin terpilih dari sentra IKM kulit dan ekoprint Magetan. Para peserta dibekali pengetahuan lengkap mulai dari pemahaman karakter bahan, teknik tatah timbul, hingga penyusunan desain final yang siap dipasarkan.
Magetan dipilih bukan tanpa alasan. Wilayah ini dikenal sebagai salah satu sentra kulit terbesar di Indonesia dengan tradisi panjang penyamakan kulit dan produksi dompet, sepatu, tas, hingga aksesori. Selain memiliki ratusan IKM aktif, Magetan juga tengah mengalami pertumbuhan komunitas kreatif muda yang fokus pada kerajinan kulit handmade dan ecoprint.
Kepala BBSPJIKKP, Cahyadi, menekankan bahwa kemampuan adaptasi melalui peningkatan kompetensi adalah kunci keberlanjutan IKM. “Teknik carving memiliki nilai seni tinggi dan sulit tergantikan oleh mesin. Ini kekuatan unik yang dapat membuat produk IKM Indonesia unggul di pasar global,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa teknik carving bukan hanya mempercantik produk, tetapi juga memberi ruang bagi perajin untuk memadukan motif tradisional Indonesia. Dengan demikian, setiap karya tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga membawa cerita dan identitas budaya.
Salah satu peserta, Nur Saifudin, mengaku pelatihan ini membuka wawasan baru. “Kami berharap pelatihan ini mendorong peningkatan kualitas produk IKM di Magetan. Teknik carving sangat mungkin menjadi pembeda karya kami di pasar,” ungkapnya.
Lewat kolaborasi pemerintah, balai industri, dan perajin, industri kulit Indonesia diyakini mampu melangkah lebih jauh—tidak hanya sebagai penghasil produk, tetapi sebagai pencipta karya yang bercerita, bernilai seni, dan mewakili kekayaan budaya bangsa.


