Oleh: Komarudin Kudiya
Pagi hari di hall utama World Eco Fiber and Textiles Forum (WEFT) 2025 terasa berbeda. Hari ketiga ini adalah momentum penting bagi diplomasi batik Indonesiaโkhususnya Batik Merawit dan Waleran dari Cirebon, dua wastra rumit yang telah mengantongi sertifikasi Indikasi Geografis (INDIGEO). Sejak pukul 08.00, ruangan sudah dipenuhi akademisi, peneliti tekstil, kurator, mahasiswa seni, hingga praktisi serat alam dari berbagai negara.

Tepat pukul 08.30, Mrs. Elaine Chanโsosok sentral dalam WEFT yang selalu hangat dan profesionalโmembuka acara. Moderasi kemudian diserahkan kepada Datin Dayang Mariani yang memandu dengan tenang, rapi, dan penuh empati. Sesaat sebelum saya dipersilakan naik ke podium, beliau membacakan profil saya: Ketua Dewan Pakar YBI, pengurus APPBI, dan pegiat Indikasi Geografis Batik di Cirebon. Narasi itu membuat beberapa peserta tampak menunduk pada catatan merekaโbarangkali baru memahami bahwa batik Indonesia jauh lebih kompleks daripada yang mereka bayangkan.
Saat Batik Berjumpa Dunia
Ketika nama saya dipanggil dan saya melangkah menuju panggung, perasaan optimisme mengalir kuat. Judul presentasi saya adalah โAesthetic Merawit & Waleran Hand Written Batikโโtema yang tidak sekadar menjelaskan estetika, tetapi juga filosofi kesabaran, dedikasi, dan ketelitian ekstrem dari para pembatik Cirebon.
Saya tidak datang sendirian. Dudung Aliesyahbana, sahabat perjalanan batik sejak hari pertama WEFT, berdiri di samping saya sambil mempersiapkan kain yang akan dibentangkan.
Dan ketika lembaran kain Merawit dan Waleran dibuka dengan hati-hati di atas panggung, ruangan itu seperti terhenti sejenak. Suara kamera memenuhi udara. Beberapa peserta maju mendekati panggung, ingin melihat lebih dekat goresan halus Merawit dan gradasi warna Waleran yang bahkan mencapai 19 lapis.
Momen itu membuat saya sadar: inilah saat ketika batik tidak hanya dilihatโtetapi dipahami.
20 Menit yang Mengubah Persepsi Banyak Orang
Selama 20 menit, saya menjelaskan:
- teknik tembokan halus Merawit yang menuntut kesabaran luar biasa,
- kontrol gradasi warna pada Waleran yang presisinya tidak bisa ditawar,
- filosofi lokal Cirebon yang tersemat pada motif-motifnya,
- hingga perjalanan sertifikasi INDIGEO untuk menjaga mutunya.
Slide demi slide menampilkan tahapan pembuatan Waleran Megamendungโmulai dari klowongan, isen-isen, pewarnaan bertingkat, hingga hasil akhir yang berkilau gradasi.
Reaksi paling menarik datang dari mahasiswa Art & Craft Sarawak University. Mereka tampak saling berbisik, menunjuk layar, lalu mengangkat tangan dengan antusias. Pertanyaan mereka teknis dan detail:
โHow do you control the brightness on each dyeing stage?โ
โWhat kind of wax formula works for the deepest color?โ
โHow long is the soaking process for each layer?โ
Antusiasme mereka menegaskan satu hal: ketika batik dipresentasikan secara ilmiah dan artistik, ia menjadi bahasa universal.
Minat Komite WEFT dan Ketertarikan Peserta
Setelah presentasi, salah satu komite WEFT menghampiri saya. Dengan penuh ketertarikan, ia meminta informasi lebih lanjut tentang Batik Merawitโbaik dari segi artistik maupun potensi kolaborasi pameran internasional.
Peserta lain mendekat, menyentuh kain dengan penuh kehati-hatian, mengamati garis halus, menempelkan mata mereka pada detail warna, lalu memindai QR Code yang terpasang di sana.
Itu adalah salah satu strategi penting yang saya bawa dari Indonesia:
QR Code sebagai sistem traceability, authenticity, dan digital storytelling batik.
Di dalam QR itu tersimpan:
- nama motif,
- pembatik,
- kualitas kain,
- proses pengerjaan,
- hingga lokasi komunitas pembuatnya.
Banyak peserta mengatakan bahwa ini adalah langkah modern yang membuat batik Indonesia terasa lebih transparan, profesional, dan terpercaya.
Ketika Diplomasi Budaya Menjadi Nyata
Salah satu peserta bertanya,
โHow do you plan to promote this QR-coded batik to a wider global audience?โ
Saya menjawab dengan tenang:
โHari ini, pagi ini, dan di ruangan iniโkita sedang melakukannya.โ
Saya lanjutkan bahwa promosi tidak hanya dilakukan melalui forum internasional seperti WEFT, tetapi juga melalui:
- pameran besar di Jakarta,
- platform resmi IG Batik MerawitโWaleran,
- buku batik Merawit dan Waleran yang sedang disusun,
- kolaborasi dengan organisasi tekstil dunia,
- hingga implementasi sistem digital untuk menjaga otentisitas.
Ketika saya menutup jawaban dengan kalimat:
โToday, we are not only presenting batik.
We are presenting its identity, its story, and its future.โ
ruangan sontak memberi tepuk tangan.
Cirebon dan Indonesia Berdiri di Panggung Dunia
Hari ketiga WEFT 2025 bukan sekadar sesi presentasi.
Ia adalah momen diplomasi budayaโmomen ketika Cirebon berdiri tegak di hadapan dunia, membawa Merawit dan Waleran sebagai simbol ketekunan, estetika, dan inovasi.
Dengan membawa narasi kuat, bukti karya nyata, serta integrasi teknologi modern, batik Indonesia memasuki ruang global dengan cara yang bermartabat dan presisi ilmiah.
Dan hari itu, WEFT menjadi saksi bahwa batikโkhususnya Merawit dan Waleranโadalah seni tingkat tinggi yang tidak hanya cantik dilihat, tetapi juga cerdas, kompleks, dan penuh masa depan.
Komarudin Kudiya hadir sebagai delegasi WEFT dengan dukungan Yayasan Batik Indonesia (YBI). Sebagai Ketua Dewan Pakar YBI, ia tidak hanya tampil sebagai pembicara, tetapi juga sebagai duta batik yang mempromosikan kekayaan batik Indonesia di panggung dunia.

