https://tk.tokopedia.com/ZShCCaaWK/
in ,

Kebaya dan Perempuan Indonesia: Jejak Sejarah, Identitas, dan Kebangkitan Kembali

Tanggal 24 Juli ditetapkan sebagai Hari Kebaya Nasional sejak tahun 2023 silam. Yuk, simak sejarah kebaya.

Di balik sehelai kain kebaya, tersimpan sejarah panjang tentang perempuan, budaya, dan perjuangan. Bukan sekadar busana tradisional, kebaya adalah cerminan dari identitas dan evolusi peran perempuan Indonesia dalam berbagai zaman. Dari keraton hingga jalan-jalan modern, kebaya telah melewati gelombang perubahan sosial, politik, dan budaya. Kini, dengan ditetapkannya 24 Juli sebagai Hari Kebaya Nasional, semangat pelestarian kebaya mendapat tempat baru dalam kesadaran publik.

Tanggal 24 Juli ditetapkan sebagai Hari Kebaya Nasional sejak tahun 2023 silam.
Tanggal 24 Juli ditetapkan sebagai Hari Kebaya Nasional sejak tahun 2023 silam.

Akar Sejarah: Dari Kerajaan hingga Kolonial

Sejarah kebaya diyakini bermula dari pengaruh budaya Arab dan Asia Selatan yang masuk ke Nusantara melalui perdagangan pada abad ke-15. Kata “kebaya” sendiri berasal dari kata Arab abaya, yang berarti pakaian. Awalnya, kebaya dikenakan oleh perempuan bangsawan di lingkungan keraton, seperti di Jawa dan Bali. Busana ini tampil anggun dengan potongan longgar yang menutup dada, melambangkan kehormatan dan keanggunan.

Pada masa penjajahan Belanda, kebaya menjadi simbol identitas perempuan pribumi. Kaum perempuan Peranakan Tionghoa, Indo-Eropa, hingga pribumi mengadopsi kebaya dengan gaya yang berbeda, melahirkan varian kebaya encim, kebaya Kartini, dan kebaya kutubaru. Di masa itu, kebaya bukan hanya busana, tetapi juga alat representasi kelas sosial dan perjuangan identitas.

Kebaya dan Emansipasi Perempuan

Tanggal 24 Juli ditetapkan sebagai Hari Kebaya Nasional sejak tahun 2023 silam.

Perempuan seperti R.A. Kartini menjadi ikon penting dalam sejarah kebaya. Dalam potret-potretnya, Kartini selalu tampil mengenakan kebaya kutubaru lengkap dengan kain batik. Kebaya dalam konteks ini tidak sekadar menampilkan estetika, tapi juga simbol perjuangan perempuan untuk memperoleh pendidikan dan kesetaraan.

Seiring waktu, kebaya menjadi busana nasional yang dikenakan dalam berbagai acara resmi—dari pelantikan pejabat hingga wisuda. Meski sempat terpinggirkan oleh tren busana modern, kebaya tetap hadir dalam memori kolektif sebagai simbol keluhuran budaya dan keanggunan perempuan Indonesia.

Kebangkitan Kembali: Dari Catwalk ke Gerakan Sosial

Dalam dua dekade terakhir, kebaya mengalami renaisans. Para desainer seperti Anne Avantie, Didi Budiardjo, dan Era Soekamto mendorong kebaya kembali ke panggung fashion dengan sentuhan modern tanpa kehilangan ruh tradisionalnya. Kebaya tak lagi kaku. Ia menjelma menjadi busana adaptif yang bisa dikenakan lintas usia dan profesi.

Di sisi lain, gerakan akar rumput seperti Komunitas Perempuan Berkebaya Indonesia (PBI), Srikandi Berkebaya, hingga kampanye #SelasaBerkebaya memperkuat posisi kebaya sebagai simbol kebanggaan budaya sekaligus strategi diplomasi budaya.

Hari Kebaya Nasional: Puncak Pengakuan

Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) menetapkan tanggal 24 Juli sebagai Hari Kebaya Nasional. Hal ini tertuang dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia (Keppres) Nomor 19 Tahun 2023 tentang Hari Kebaya Nasional.

“Menetapkan tanggal 24 Juli sebagai Hari Kebaya Nasional,” bunyi Diktum Kesatu Keppres 19/2023 yang dapat diakses pada laman JDIH Sekretariat Kabinet tersebut.

Pada Diktum Kedua disebutkan, Hari Kebaya Nasional bukan merupakan hari libur.

“Keputusan Presiden ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan,” bunyi Diktum Ketiga peraturan yang ditetapkan oleh Presiden Jokowi pada 4 Agustus 2023 tersebut.

Dalam Keppres juga dituangkan sejumlah pertimbangan penetapan 24 Juli sebagai Hari Kebaya Nasional. Pertimbangan tersebut, yaitu:

Pertama, kebaya merupakan identitas nasional perekat bangsa yang bersifat lintas etnis dan telah berkembang menjadi aset budaya yang sangat berharga sehingga perlu dijaga dan dilestarikan keberadaannya.

Kedua, kebaya berkembang menjadi busana yang digunakan secara nasional dalam berbagai kegiatan baik yang berskala nasional maupun internasional.

Ketiga, bahwa Kongres Wanita Indonesia X yang dihadiri oleh Presiden Soekarno dinyatakan bahwa revolusi Indonesia tidak dapat berjalan tanpa keterlibatan perempuan di mana seluruh perempuan yang hadir pada kongres tersebut memakai kain kebaya.

“Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kebaya, maka pemerintah menetapkan tanggal 24 Juli sebagai Hari Kebaya Nasional,” bunyi pertimbangan berikutnya yang tercantum dalam Keppres 19/2023.

Lebih dari Sekadar Pakaian

Kebaya adalah saksi bisu dari berabad-abad peradaban Nusantara. Ia adalah lambang kelembutan yang berdaya, kain yang menyatukan tradisi dan modernitas. Ketika seorang perempuan mengenakan kebaya, ia membawa serta jejak nenek moyangnya—dari pelataran keraton, dapur perjuangan kemerdekaan, hingga panggung dunia.

Hari Kebaya Nasional bukan hanya peringatan simbolik. Ia adalah ajakan untuk mengenang, merayakan, dan meneruskan. Karena di balik kebaya, tersimpan kisah Indonesia: tentang keberagaman, keteguhan, dan kecantikan yang tak lekang oleh waktu.

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Warga binaan Lapas Kelas IIA Banyuwangi, Jawa Timur, membuat batik tulis motif terkunci. (ANTARA)

Warga Binaan Lapas Banyuwangi Hasilkan Batik Unggulan, Dipesan Massal oleh PIPAS Jatim

Kisah inspiratif GM Harris Hotel Bekasi dari dunia purchasing ke kepemimpinan hotel, mengusung etos kerja keras, adaptif, dan filosofi batik.

General Manager Harris Hotel Bekasi Vincent Gunawan: Purchasing, General Manager, Lukisan Hidup dan Filosofi Batik