in

Hembus Nafas Batik Jawa Barat – Ir. Sendy Ramania Wurandari

Hasrat mengembangkan batik di daerah Jawa Barat didasarkan atas inisiatif bersama pengurus Yayasan Batik Indonesia untuk mengembangkan batik sebagai bagian dari budaya masyarakat Jawa Barat.

Cantik 1Pada kesempatan formil maupun non formil, ia tampil dengan busana Indonesia. Yang paling khas adalah diantara busana yang dikenakannya tersebut, terdapat batik. Motif batik yang dikenakannya terbilang unik, karena ia punya fungsi memperkenalkan daerah produksi batiknya tersebut.

Yayasan Batik Jawa Barat (YBJB) adalah organisasi nirlaba yang didirikan untuk mengembangkan batik di wilayah Jawa Barat. Terdiri dari simpatisan-simpatisan pecinta batik dan hendak melestarikan serta mengembangkan batik di wilayah Jawa Barat, maka organisasi dibentuk dengan modal yang dihimpun bersama pengurus-pengurus di dalamnya. Hasil yang dicapai adalah bertumbuhan perajin batik di 27 Kabupaten/Kota se-Jawa Barat.

Ia adalah istri dari aktor yang kini bermain di dunia politik, Dede Yusuf. Ketika suaminya masih menjabat sebagai Wakil Gubernur Jawa Barat, ia mulai turut bergiat dengan yayasan tersebut bersama beberapa orang lainnya seperti tokoh batik Jawa Barat Komarudin Kudiya dan Ken Atik. Hasrat mengembangkan batik di daerah Jawa Barat didasarkan atas inisiatif bersama pengurus Yayasan Batik Indonesia untuk mengembangkan batik sebagai bagian dari budaya masyarakat Jawa Barat.

 

 

 

Personafikasi batik di dirinya dimunculkan lewat cara berbusana yang tak lepas dari batik Jawa Barat. Hal itu menjadi bagian dari promosi dirinya terhadap hasil-hasil produksi batik Jawa Barat yang memiliki motif berdasarkan keunikan daerahnya masing-masing.

Cantik 2Semasa suaminya menjabat sebagai Wakil Gubernur Jawa Barat periode 2008 – 2013, ia pula telah menjabat sebagai Ketua Yayasan Batik Jawa Barat di periode pertama (2008 – 2013) dan dilanjutkan ke periode kedua (20013 – 2018). Total ia menjabat sebanyak dua periode. Ketika pergantian pimpinan daerah, tampuk organisasi ini sempat dipertanyakan, namun dari para pengurusnya menghendaki ia tetap menjadi ketuanya dengan alasan posisi ketua di YBJB bukan posisi incumbent. Hal ini ditegaskan oleh dosen sekaligus peneliti batik Ken Atik.

Latar-belakang kecintaan batik didapatnya dari lingkungan keluarga. “Eyang setiap hari menggunakan kain batik dengan busana kebaya. Batik Solo dan Jogja banyak dikoleksi eyang. Ibu saya juga pengkoleksi kain-kain tradisional dari seluruh Indonesia dan seorang peneliti batik Madura, dan bapak dulunya bekerja di PU dan sering dinas luar kota. Tiap pulang sering membawa kain batik khas daerah yang dikunjunginya,” ujarnya panjang lebar menjelaskan ikhwal kedekatan dirinya dengan batik dan kain-kain tradisional lainnya.

Semasa suaminya menjabat sebagai Wakil Gubernur Jawa Barat, ia mulai mendalam turut larut dalam kegiatan-kegiatan YBJB. Bersama perajin batik Komarudin Kudiya, aktif melakukan bantuan pembinaan, pelatihan teknik membatik, permodalan, hingga promosi. Melalui database batik Jawa Barat yang dimiliki YBJB, ia bersama pengurus lainnya berkeliling menghampiri perajin batik setempat maupun wilayah-wilayah yang belum memiliki tradisi batik untuk dikembangkan sentranya kemudian.

Personafikasi batik di dirinya dimunculkan lewat cara berbusana yang tak lepas dari batik Jawa Barat. Hal itu menjadi bagian dari promosi dirinya terhadap hasil-hasil produksi batik Jawa Barat yang memiliki motif berdasarkan keunikan daerahnya masing-masing. Warna-warna yang ditampilkannya kebanyakan cerah. Ini menunjukkan ciri khas batik Jawa Barat yang berwarna cerah. Paduannya dikenakan dengan busana kesukaannya yakni kebaya, kain bordir hingga kelom geulis.

Solusi Batik Tulis

Melalui YBJB ia bersama pengurus lainnya mengedukasi hal tersebut sekaligus memberikan pelatihan-pelatihan dan promosi produk untuk menggenjot produksi sekaligus penjualannya.

Cantik 5Perkembangan batik Indonesia di Jawa Barat sejak ditetapkan oleh UNESCO, mengalami perkembangan yang berarti. Tiap daerah memunculkan motif batiknya masing-masing. Namun ada beberapa daerah yang menganggap hal tersebut cukup untuk dilakukan. “Ada satu daerah di Sukabumi yang memperkenalkan batiknya ke saya. Begitu saya lihat, ternyata diproduksi dengan cara printing. Ini baik namun tidak kompetitif. Seperti yang kita ketahui, batik printing dewasa ini justru dikuasai oleh produk impor asal Cina. Hal inilah yang coba kami edukasi ke masyarakat tentang batik kita yang sebenarnya.”

Ia menjelaskan kejadian itu pernah terjadi di Ciamis. Ketika perajin batik tulis berkurang karena permintaan pasar menurun, sebagian dari mereka beralih ke produksi batik printing yang diharapkan akan mampu menghidupkan kembali produksinya. Tetapi ternyata batik printing yang diproduksi tersebut tidak mampu mendongkrak penjualan mereka. Faktor penyebabnya adalah produk mereka kalah dengan produk buatan Cina.

Batik tulis maupun batik cap merupakan produk eksklusif buatan Indonesia. Semestinya batik tersebutlah yang harus dikembangkan. Melalui YBJB ia bersama pengurus lainnya mengedukasi hal tersebut sekaligus memberikan pelatihan-pelatihan dan promosi produk untuk menggenjot produksi sekaligus penjualannya.

Ibu dua anak ini aktif di berbagai organisasi seperti Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) Jakarta Selatan, Wanita Indonesia Tanpa Tembakau, Lion Club, KADIN Indonesia, Mutumanikam Nusantara, Wastraprema, dan Yayasan Kesehatan Payudara Jawa Barat. Pasca suaminya tidak menjabat wakil gubernur Jawa Barat, ia bersama pengurus YBJB lainnya tidak berhenti mengabdikan diri untuk perkembangan batik Jawa Barat.

“Oleh suami, saya disuruh tidak kerja. Maka saya mendirikan perusahaan sendiri. Selain itu, saya berusaha membagi pekerjaan, keorganisasian, dan urusan rumah,” ujar wanita kelahiran 14 Desember 1974 ini menceritakan kegiatannya. “Kita sering datang ke kementerian-kementerian dan departemennya untuk mencari dukungan agar batik Jawa Barat bisa berkembang.

Perihal jabatannya yang kini memasuki periode kedua di YBJB ia pun memberikan alasan. “Ibu Yultin Ginandjar Kartasasmita hingga kini masih menjabat sebagai Ketua Umum Yayasan Batik Indonesia. Ia tak tergantikan karena passion dan dedikasinya terhadap batik Indonesia sangat kuat. Mungkin itu yang membuat saya masih dipercaya pengurus lainnya sebagai ketua lagi di periode kedua ini.”

Sumber: Majalah BATIK On Fashion

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading…

Batik Fashion - Model Dress Batik Dewi Syifa

Model Dress Batik Ringan Ala Dewi Syifa

Batik Fashion - Model Baju Batik Pria Luwi Saluadji

Model Baju Batik Pria Luwi Saluadji Di Men’s World