https://tk.tokopedia.com/ZShCCaaWK/
in ,

General Manager Harris Hotel Bekasi Vincent Gunawan: Purchasing, General Manager, Lukisan Hidup dan Filosofi Batik

Kisah inspiratif GM Harris Hotel Bekasi dari dunia purchasing ke kepemimpinan hotel, mengusung etos kerja keras, adaptif, dan filosofi batik.

Di balik kesuksesan sebuah hotel, ada cerita panjang tentang ketekunan, adaptasi, dan filosofi hidup yang membentuk karakter sang pemimpin. Itulah kisah Vincent Gunawan, General Manager Harris Hotel Bekasi, yang memulai perjalanannya bukan dari bangku akademi perhotelan, melainkan dari posisi purchasing manager. Kini, ia bukan hanya memimpin satu properti, tapi dipercaya sebagai cluster GM untuk beberapa hotel dalam jaringan Ascott Group Limited yang tersebar di 22 negara.

Kisah inspiratif GM Harris Hotel Bekasi dari dunia purchasing ke kepemimpinan hotel, mengusung etos kerja keras, adaptif, dan filosofi batik.

Dunia Keras Purchasing

Bercita-cita menjadi GM saat muda tak pernah terbersit. Masa kecilnya di Jakarta dilalui tanpa arah yang pasti. “Saya waktu kecil belum punya cita-cita. Baru saat SMA mulai berpikir mau ke mana,” kenangnya. Bahkan saat mulai tertarik ke dunia perhotelan, ia tidak langsung mengambil pendidikan formal di bidang itu. Justru keluarga jauhnya yang pertama kali menawari posisi di hotel sebagai purchasing manager.

“Di situ saya belajar keras. Purchasing itu dunia yang keras. Banyak permainan. Tapi saya betulkan dengan sistem,” ujarnya. Kejujuran dan ketegasannya membuat seorang GM menawarinya posisi lebih besar: membuka properti baru di Batam. Dari sinilah langkah besar dirinya dimulai.

Purchase Manager to General Manager

Kisah inspiratif GM Harris Hotel Bekasi dari dunia purchasing ke kepemimpinan hotel, mengusung etos kerja keras, adaptif, dan filosofi batik.

Sejak tahun 2002, ia telah berkeliling Indonesia membuka berbagai hotel: dari Batam ke Bali, lalu ke Malang, Surabaya, dan kota-kota lainnya. Manajemennya percaya pada kapasitasnya, dan akhirnya menunjuknya sebagai GM. Tapi ia tidak puas berhenti di situ.

“Saya ditawari jadi cluster GM. Pegang beberapa properti. Saya cuma dikasih waktu dua minggu buat mikir. Berat, tapi saya terima tantangan itu,” tuturnya.

Tantangan terbesar datang saat pandemi COVID-19. Banyak hotel tutup, namun dirinya justru mengambil keputusan berani: tetap beroperasi.

“Saya dipanggil owner, disuruh pilih. Tutup atau jalan. Saya pilih jalan. Karena banyak karyawan saya yang menggantungkan hidup di sini,” katanya.

Ia berani mengambil pasar karantina, bahkan ketika banyak yang menolak. Hasilnya? Tingkat okupansi hotelnya saat itu mencapai 80%. Lebih dari sekadar angka, ia mampu membayar THR penuh untuk semua stafnya, sesuatu yang langka di masa krisis.

Vincent Gunawan menganut prinsip: kerja harus seimbang antara IQ dan EQ. “Pintar aja nggak cukup. Attitude juga harus bagus. Kalau dua-duanya nggak jalan, kamu nggak akan jadi pemimpin yang baik,” tegasnya.

Latar belakang purchasing membuatnya punya keunggulan strategis sebagai GM. Ia tahu harga, kualitas, dan detail produk hotel—dari linen, makanan, hingga amenities.

“Kalau kita ngerti barang, kita nggak akan mudah ditipu. GM itu harus ngerti dari bawah, bukan cuma nunggu laporan,” ujarnya.

Filosofi “naik dari bawah” ini membuatnya dekat dengan tim dan tak segan mengajak mereka menduduki “kursi panas” kepemimpinan agar terus berkembang.

Batik adalah Lukisan Hidup

Kisah inspiratif GM Harris Hotel Bekasi dari dunia purchasing ke kepemimpinan hotel, mengusung etos kerja keras, adaptif, dan filosofi batik.

Namun ada sisi lain darinya yang tak kalah menarik: kecintaannya pada batik. Baginya, batik bukan sekadar pakaian, tapi simbol nilai, budaya, dan lukisan hidup.

“Hidup itu kayak ngebatik. Pelan-pelan, sabar, teliti. Baru kita tahu nilainya saat sudah selesai,” katanya.

Ia punya koleksi batik tulis dari berbagai daerah, termasuk karya yang ia bantu kembangkan bersama desainer lokal semasa di Kalimantan, yakni jaket bomber batik bermotif seluruh nusantara.

Batik, menurutnya, adalah ekspresi jiwa pengrajin.

“Motifnya itu kayak sidik jari. Setiap batik beda, tergantung perasaan yang bikin. Sama kayak kita. Perjalanan hidup tiap orang beda. Itu yang bikin indah,” katanya sambil menunjukkan kain batik klasik yang jadi favoritnya.

Ia juga memberi saran kepada para perajin batik yang sedang kesulitan akibat lesunya ekonomi.

“Jangan ikut-ikutan. Bikinlah batik yang out of the box. Punya ciri khas. Kalau kamu punya signature, orang akan cari kamu,” ujarnya penuh semangat. Ia menekankan bahwa batik adalah identitas, bukan sekadar tren pasar.

Ia mengaku tipe GM yang tah betah di zona nyaman. Ia menganggap pindah kota dan mengelola properti baru sebagai cara memperluas ilmu dan jaringan.

“Kalau saya duduk 10 tahun di satu tempat, ilmu saya cuma itu-itu aja. Saya lebih suka adaptasi, cari link, dan belajar hal baru,” katanya. Prinsip ini membuatnya menjadi sosok adaptif dan progresif di industri hospitality.

Kepemimpinannya dirangkai dari nilai kejujuran, kerja keras, kemampuan beradaptasi, dan penghargaan pada budaya. Ia percaya bahwa dunia perhotelan bukan sekadar bisnis, tapi juga panggilan untuk membentuk manusia dan melestarikan nilai.

“Kalau kamu bisa membentuk orang lain, kamu nggak cuma jadi pemimpin, tapi jadi guru,” ujarnya menutup percakapan dengan senyum hangat.

Dalam setiap langkahnya, dari ruang purchasing hingga ruang meeting para GM, dari lembar batik tulis hingga peta global Ascott, Pak Vincent menjahitkan cerita hidupnya dengan ketekunan dan cinta pada budaya. Sebuah perjalanan yang, seperti batik, rumit namun penuh makna.

Foto: Kuncoro Widyo Rumpoko

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Tanggal 24 Juli ditetapkan sebagai Hari Kebaya Nasional sejak tahun 2023 silam. Yuk, simak sejarah kebaya.

Kebaya dan Perempuan Indonesia: Jejak Sejarah, Identitas, dan Kebangkitan Kembali

Perajin Batik Sukabumi tengah mencanting.

Krisis Batik di Era Disrupsi vs Mempertahankan Warisan