BANYUWANGI — Warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Banyuwangi, Jawa Timur, kembali menunjukkan hasil pembinaan yang membanggakan melalui karya batik tulis bermotif khas “urat”, yang kini menjadi incaran Persatuan Ibu Pemasyarakatan (PIPAS) Jawa Timur.
Kepala Lapas Banyuwangi, I Wayan Nurasta Wibawa, mengungkapkan bahwa motif batik tersebut sebelumnya dikenal sebagai jajah oling terjalin, dan kini telah menjadi ciri khas produksi batik dari dalam Lapas Banyuwangi. “Total 688 kain batik telah kami distribusikan ke sejumlah Unit Pelaksana Teknis Pemasyarakatan di wilayah Jawa Timur,” ujar Wayan, Senin (22/7).
PIPAS Jatim telah memesan batik tersebut dalam jumlah besar untuk digunakan sebagai seragam organisasi dalam kegiatan rutin mereka. Desain motif disesuaikan dengan nilai budaya lokal serta keunikan khas Jawa Timur. “Pesanan ini membuktikan bahwa batik warga binaan tidak kalah dengan karya perajin profesional,” tambahnya.
Menurut Wayan, keberhasilan ini merupakan hasil dari pelatihan membatik intensif yang diberikan kepada warga binaan oleh para ahli. Selain sebagai karya seni, program ini juga menjadi bagian dari proses pembinaan untuk membekali narapidana dengan keterampilan hidup.
“Ini bukan hanya tentang batik, tapi tentang masa depan. Kami ingin mereka bisa kembali ke masyarakat dengan keterampilan dan kepercayaan diri,” tegasnya.
Hingga kini, ratusan lembar kain batik telah diproduksi dengan kualitas yang dinilai mampu bersaing di pasar. Tingginya minat dari berbagai pihak, termasuk PIPAS, menjadi bentuk apresiasi nyata terhadap semangat dan ketekunan para warga binaan.
Program pembinaan keterampilan di Lapas Banyuwangi diharapkan terus berlanjut dan menjadi inspirasi bagi lembaga pemasyarakatan lainnya dalam memberdayakan warga binaan menuju kemandirian ekonomi pasca-pembebasan.

