Berdiri di balkon sebuah bangunan kolonial, saya menyaksikan denyut Semarang dari ketinggian—hiruk pikuknya, klakson bersahutan, dan aroma laut yang samar. Kota ini menyapa saya dengan kesibukan yang hidup, penuh warna dan lapisan sejarah yang begitu nyata. Semarang, kota pelabuhan di pesisir utara Jawa, memikat bukan dengan riuhnya pariwisata massal, melainkan dengan keteduhan memorinya.
Dulu, Jawa pernah menjadi bagian dari koloni Inggris hingga pertengahan abad ke-17, sebelum kemudian ditukar dengan Belanda dalam perjanjian yang menyerahkan Chinsurah di Benggala Barat. Seperti pelabuhan-pelabuhan lain di Nusantara, Semarang kemudian menjadi titik temu berbagai bangsa: penjajah dari Eropa, budak dari India dan Afrika, serta pedagang dari Tiongkok. Namun, alih-alih menghasilkan adukan budaya yang cair, Semarang justru membekukan jejak kolonial dalam wajah kotanya.
Lewang Sewu: Simbol Ribuan Pintu Waktu
Dari tempat saya berdiri, Lewang Sewu tampak kokoh dan penuh wibawa. Nama bangunan ini berarti “seribu pintu” dalam bahasa Jawa, meski sebenarnya jumlahnya adalah jendela besar berjajar yang menyerupai pintu. Bangunan ini dulunya adalah Kantor Pusat Kereta Api Hindia Timur Belanda—salah satu warisan arsitektur kolonial terbesar yang kini menjadi ikon kota. Kusen kayu besar, langit-langit tinggi, dan langgam art-nouveau menjadikannya lebih dari sekadar bangunan tua; ia adalah lorong waktu yang mengantar siapa saja menuju abad ke-19.
Menyusuri Kota Lama Semarang, jalan berbatu merah dan bangunan bergaya art-deco menyambut saya seperti latar film Eropa kuno. Di antara toko-toko tua dan kafe baru, nostalgia tak pernah terasa dibuat-buat.
Rokok, Kaca Patri, dan Warna-Warni Sejarah
Satu bangunan yang memancarkan pesona industrial kolonial adalah Pabrik Rokok Praejo Lajar, yang telah berdiri sejak era Belanda. Fasad merah-putihnya menampilkan kekontrasan mencolok, sementara kaca patri dan transom kaca berbentuk setengah lingkaran memperkuat nuansa Eropa Timur yang dibawa para insinyur Hindia Belanda.
Namun Semarang bukan hanya tentang kolonialisme. Ia adalah mosaik multikultural yang hidup.
Sam Poo Kong dan Gedong Songo: Dua Jejak Kepercayaan
Saya melangkah ke Kelenteng Sam Poo Kong, tempat patung Laksamana Zheng He berdiri gagah. Ia adalah seorang pelaut Muslim Tionghoa yang membawa Islam, perdagangan, dan toleransi ke Jawa. Kelenteng berwarna merah menyala itu berdiri sebagai penanda kuatnya komunitas Tionghoa yang telah berakar lama di kota ini.
Sementara itu, untuk menyentuh sisi spiritual lainnya, saya bertolak ke lereng Gunung Ungaran, sekitar satu jam perjalanan dari pusat kota. Di sanalah berdiri Candi Gedong Songo, gugusan candi Hindu dari abad ke-8. Dikelilingi kabut, hutan pinus, dan gunung-gunung berapi yang kini telah tidur, tempat ini menyimpan keheningan yang kontras dengan kehidupan kota.
Saatnya Sorotan Beralih dari Bali
Bali memang memesona, tapi ada pengalaman lain yang menunggu di kota-kota seperti Semarang dan saudaranya di selatan, Solo. Keduanya memadukan sejarah, spiritualitas, kuliner, dan kearifan lokal dalam satu paket utuh yang belum sepenuhnya dijelajahi oleh dunia.
Pariwisata Indonesia sedang menatap masa depan baru—dan di dalamnya, Semarang serta Solo bukan lagi sekadar persinggahan, melainkan destinasi utama yang menyimpan wajah lain dari Nusantara.

