Dalam kisah hidup Ethys Mayoshi, batik bukan hanya sehelai kain bermotif. Ia adalah benang-benang tak kasatmata yang menjahit ulang memori masa kecil, identitas budaya, hingga arah hidup yang sempat labil. Segalanya bermula dari permintaan sederhana seorang sahabat di Malaysia—minta dibelikan batik. Tak disangka, itu justru membuka gerbang menuju akar sejarah keluarga dan potensi diri yang selama ini tersembunyi.

Mami Yoshi, begitu ia akrab disapa, tumbuh besar di Talang-Pagongan-Tegal, Jawa Tengah dalam lingkungan yang diam-diam menyimpan warisan batik dari dua jalur. Dari pihak ayah, ia cucu juragan batik. Dari ibu, darah Tionghoa mengalir, dengan latar keluarga pebisnis kain di Jakarta. Namun semua ini baru disadari lewat serpihan memori yang datangnya justru dari lingkungan sekitar yang mengenal keluarganya di masa lalu bahwa dirinya ternyata sudah terhubung dengan dunia batik.
Di masa kecilnya, Ethys kecil hidup bebas dan penuh rasa: mengamen, menggambar di tembok, hingga berbagi hasil rongsokan dengan teman-teman yang tak mampu. Meski anak pejabat, ia lebih dekat dengan masyarakat kecil. Jiwa seninya sudah bersemi namun belum terasah.
Hingga suatu hari, sahabatnya di Malaysia memberi keuntungan dari batik yang ia bantu belikan di Indonesia. Melihat keuntungannya, ia tertarik melanjutkan usaha berjualan batik. Namun tak lama, dirinya bosan.
Sampai satu saran mengubah segalanya: “Kenapa kamu nggak gambar motif sendiri aja?”
Dorongan itu menjadi titik balik. Ia mulai mendesain batik secara otodidak—tanpa guru, hanya mengandalkan naluri dan daya visual. Proyek pertamanya untuk Pemkab Bogor menjadi panggung awal. Kain batik bergambar Masjid Atta’Áwun, penari jaipong, dan keris mendapat pujian dari Gubernur Jawa Barat saat itu, Ahmad Heriawan. Di sana, Ethys sadar: ini bukan kebetulan—ini panggilan.
Sejak itu, ia bukan sekadar pembatik, tapi juga pendidik. Sudah ratusan orang ia latih, dari mahasiswa, ASN, hingga komunitas. Produksi batiknya konsisten, bahkan saat tak ada pesanan. Ia meyakini bahwa membatik adalah bentuk tanggung jawab moral dan spiritual. Bahkan batik cap atau cetak tetap ia perlakukan seperti batik tulis—dengan proses rumit seperti perendaman, pengasapan, dan pelumuran minyak kacang.

Digitalisasi? Tak menampik tapi tak memanfaatkannya. Baginya, batik handmade terlalu unik untuk dikomodifikasi. Ia memilih e-katalog resmi dan kekuatan personal branding. Tak heran jika Batik Gobang—brand yang ia kembangkan—menjadi ikon batik Jakarta yang elegan namun tetap berkarakter. Motif-motifnya seperti “Gobang Borneo”, “Pohon Hayati IKN”, “Motif Dua Dunia”, hingga motif bakteri “, lahir dari dialog sunyi dengan alam dan jiwa.
Batiknya pun punya rentang harga beragam—dari jutaan hingga belasan juta rupiah—dengan kualitas dan sentuhan seni yang tak tergantikan.
Tak hanya berbisnis, Ethys juga mengajar “psikologi bisnis”, memberi pelatihan UMKM, dan menjadi mitra Bank Indonesia dalam program pemberdayaan. Ia percaya UMKM bukan hanya alat cari untung, melainkan wahana untuk menciptakan kerja, daya tahan, dan makna hidup.
Tapi semuanya dijalani dengan keheningan. “Diam itu sakti,” ujarnya. Sebab dalam diam, lahir kekuatan sejati.
Mama Yoshi menganalogikan perjalanan batiknya yang kontemplatif: dari titik nol, ke kegemilangan; dari kelam ke terang; dari pribadi biasa, menjadi medium seni luar biasa. Karena baginya, batik bukan soal kain. Batik adalah jiwa.
Foto: Kuncoro Widyo Rumpoko

