
Sala atau Solo sebelum abad 17 adalah sebuah desa kecil yang tenang dan berada di tepi sungai Bengawan Solo. Di abad 17, berjarak 10 kilometer di bagian timurnya, berdiri pusat Kerajaan Mataram yang sebelumnya berada di Plered, Yogyakarta.

Pemindahan keraton Mataram tersebut akibat serangkaian pemberontakan. Puncaknya adalah pemberontakan Trunajaya, yang menghancur-leburkan Keraton Mataram di Plered. Akibatnya, keraton dipindahkan ke hutan Wanakerta, kini bernama Kartasura.
Pemrakarsa perpindahan Keraton Mataram ke Hutan Wanakerta adalah Sultan Amangkurat II.
Ketika Sultan Amangkurat II wafat, digantikan kemudian oleh putranya, Susuhunan Mas Amangkurat III (1703-1708). Di masa tersebut, suksesi kepemimpinan terjadi antara Amangkurat III dengan adik Sultan Amangkurat II, Pangeran Puger. Konflik keponakan dan paman tersebut dimenangkan oleh Pangeran Puger, sang paman.
Pangeran Puger bergelar Pakubuwono I setelah naik tahta, memerintah dari tahun 1703 hingga 1719. Putera Pangeran Puger yang bergelar Amangkurat IV kemudian melanjutkan tahta sang ayah sejak 1719 hingga 1727, dan digelari nama Paku Buwono II.
Peristiwa Geger Pecinan yang terjadi di Batavia, merembet ke Kartasura, berlangsung antara 1727-1749. Dalam situasi tersebut Paku Buwono II awalnya berpihak pada etnis pribumi dan Tionghoa melawan VOC. Tetapi rupanya VOC dengan pasukannya, tak kunjung terkalahkan. Paku Buwono II alami kekalahan di awal 1742 lalu merubah posisinya menjadi sekutu VOC.
Sikapnya tersebut mengundang kekecewaan dari kubu Tionghoa dan pribumi. Dan kekecewaan itu dilampiaskan dengan menyerang istana Mataram di Keraton Kartasura oleh Raden Mas Garendi atau Sunan Kuning. Benteng Srimanganti yang merupakan benteng terdalam Keraton Kartasura berketebalan tiga meter, berhasil di mesiu tepat berada di sisi muka peristirahatan Paku Buwono II. Keraton Mataram di Kartasura berhasil dikuasai 30 Juni 1742.
Paku Buwono II melarikan diri bersama putra mahkota didampingi Kapten Belanda Johan Andries van Hogendorff. Aksi merebut kembali Keraton Kartasura dilakukan November 1742 dan berhasil. Namun keraton rusak berat, dan kepercayaan benteng yang roboh artinya telah ternoda, membuat Paku Buwono II tidak berkeinginan merenovasi benteng dan memilih memindahkannya di Desa Sala atau Solo.

