https://tk.tokopedia.com/ZShCCaaWK/
in ,

MENJAGA SEJARAH DEPOK

Thea Jonathan adalah wanita kelahiran 1940 yang kini mukim di Jalan Sumur Batu, Depok. Ia adalah salah satu pembawa kisah hidup sejarah Depok. Meski usianya sepuh, 84 tahun, tetapi memorinya tentang Depok masih kuat melekat diingatannya. Dan dirinya tergolong vokal dalam menyuarakan sejarah tersebut.

Ia sadar bau kolonial menjadi anti dibicarakan selama ini. Tetapi bukan berarti ditiadakan sejarahnya. Dirinya tetap menyetarakan Depok dengan kota-kota besar lainnya yang usianya dihitung dari berdirinya wilayah tersebut di era kolonial.

“Ibaratnya sekarang gini, ulang tahun depok 29 tahun, sedangkan Depok sudah ada ratusan tahun lalu. Seperti DKI Jakarta yang kini usianya telah empat ratus tahunan tetap dihitung dari awal berdirinya. Kok, kenapa sejarah kita (Depok) ini dilupakan begitu saja,” ujarnya.

Upayanya meyakinkan Depok sebagai kota tua bersejarah dilakukan dirinya dan juga Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein (YLCC).

Kisah Cornelis Chastelein

Thea Jonathan atau akrab disapa Tante Thea, mengisahkan cerita turun temurun yang didapatnya dari para pendahulunya bahwa Depok didirikan oleh seorang kelahiran asal Belanda Cornelis Chastelein.

Cornelis Chastelein lahir di Amsterdam , 10 Agustus 1657 dan wafat di Batavia , 28 Juni 1714. Sewaktu muda, Chastelein telah ditinggal wafat oleh kedua orangtuanya. Ketika masih berusia 17 tahun, Chastelein dibawa tantenya ke Hindia Belanda, 24 Januari 1675 menggunakan kapal ‘t Huis te Cleeff. Ia tiba di Batavia 16 Agustus 1675. Di Batavia, Chastelein bekerja sebagai akuntan di VOC.

Di tahun 1682, Chastelein menjadi salah satu pedagang besar (groot-winkilier) di Grooten Winkel te Batavia. Berlanjut di 1691, ia menjadi salah satu pedagang besar di Batavia. Di masa ini kemudian dirinya keluar dari VOC akibat hubungan tak serasi antara dirinya dengan Direktur Jenderal Joan van Hoorn yang baru diangkat.

Dalam kurun tahun 1691 hingga 1704, Chastelein memiliki tanah di wilayah selatan Batavia seperti Siringsing (Srengseng Sawah), Tiang 17 (ruas Jakarta – Bogor), dan Tiang 21 (Depok). Di Tiang 21, Chastelin mendirikan jemaat Protestan pertama di Jawa yang terdiri dari penduduk asli Indonesia yang diberi nama De Eerste Protestante Organisative van Christenen (DEPOC).

Untuk mengelola perkebunan dan pertanian, Chastelin membeli budak yang asalnya dari Bali, Ambon, Bugis, dan Sunda.

Secara entitas, Chastelein adalah tuan tanah yang menjual hasil kebun dan pertaniannya kepada VOC. Sebagai tuan tanah, Chastelein memperlakukan 150 budaknya secara manusiawi. Selain membantu pekerjaannya menggarap perkebunan, Chastelein memberikan banyak ilmu tentang pertanian, perkebunan, dan perternakan, serta mewajibkan pekerjanya berkemampuan baca tulis.

“Mereka diberikan pendidikan belajar, baca, dan menulis. Karena pada saat itu memang tidak ada media selain Alkitab, mereka mulai belajar dari situ,” cetus Thea Jonathan.

Chastelein wafat 28 Juni 1714. Menjelang akhir hayatnya, ia sempat membuat wasiat untuk para pekerjanya.

“Di dekat akhir hayatnya, dia bikin testament di mana dia katakan, jika saya meninggal, maka segala sesuatu saya tinggalkan untuk budak-budak saya. Mana ada seorang Belanda yang mau memberikan segala sesuatu untuk budaknya. Dan itu bukan hanya ngomong, tetapi di-testamen-kan,” sergahnya.

Peninggalan Chastelein

Ada 12 marga yang masih ada hingga saat ini yakni: Bacas, Isakh, Jacob, Jonathans, Joseph, Laurens, Leander, Loen, Samuel, Soedira, Tholense, dan Zadokh. Mereka adalah para budak pewaris tanah Cornelis Chastelein di wilayah Depok. Di Jalan Pemuda, Depok Lama, merupakan tempat mukim warga Depok asli yang kerap disebut Belanda Depok.

Untuk bangunan peninggalan Chastelein, diantaranya adalah:

  1. Gereja GPIB Immanuel Jalan Pemuda, Pancoranmas, Depok Lama

Gereja Immanuel dibangun pada tahun 1714, bertepatan dengan tahun meninggalnya Cornelis Chastelein. Sebelum wafat, Cornelis Chastelein sempat meresmikan bangunan peribadatan jemaat Nasrani itu. Gereja GPIB Immanuel awalnya dinamakan Jemaat Masehi Depok. Gereja ini dibangun agar keluarga 12 marga Depok tidak usah jauh-jauh ke gereja di Jakarta.

Awalnya gereja ini dibangun dengan material kayu dan bambu, kemudian direnovasi beberapakali. Di tahun 1792, material kayu diganti dengan batu agar tahan gempa.

Pada tembok depan GPIB Immanuel ada tulisan ‘Didirikan 1854 Jemaat Masehi Depok’. Tahun tersebut tertuju pada dibukanya kembali gereja setelah sempat roboh akibat gempa. Ada 12 pintu yang masing-masing diberi nama 12 marga orang Depok.

  • Bangunan Depan Rumah Sakit Harapan (ex Gemeente Bestuur / Kotapraja Depok), Jalan Pemuda, Pancoranmas, Depok Lama

Di masa hidupnya, Cornelis Chastelein mendidik pekerjanya dengan berbagai pengetahuan praktis untuk mengelola dan menata desa, pertanian, serta perpajakan. Di samping itu, Chastelein juga mengajarkan bagaimana mencari nafkah, kaidah-kaidah rohani, dan kaidah-kaidah rumah tangga.

Bangunan Gemeente Bestuur merupakan Kotapraja Depok untuk mengawasi dan mengatur bagi hasil tanah yang dikelola 12 marga sesuai warisan tanahnya masing-masing. Bangunan kantor Gemeente Bestuur saat ini telah beralih fungsi menjadi Rumah Sakit Harapan dan tetap dipertahankan bentuk asli dari kantor Kotapraja Depok tersebut.

  • Tugu Cornelis Chastelein

Tepat di depan bangunan Rumah Sakit Harapan, terdapat tugu berbentuk kerucut yang dibangun oleh 12 marga Depok untuk mengenang Cornelis Chastelein. Awalnya, tugu tersebut diberi nama Monumen Pembebasan dari Ikatan Perbudakan dengan patung kepala Chastelein.

Nahas, keberadaan tugu tersebut tidak dikehendaki oleh pemerintah setempat karena tidak ada gunanya membangun tugu untuk mengenang penjajah.

  • Rumah Presiden Depok

Setelah membentuk Gemeente Bestuur, Depok pernah dipimpin oleh seorang presiden (ketua) yang dipilih bergantian, tiap tiga tahun. Tugas Gemeente Depok pada saat itu adalah untuk mengatur perpajakan dan pengelolaan otonomi daerah Depok demi kesejahteraan masyarakatnya.

Gemeente menarik tjoeke (pajak) 1/10 bagian dari hasil panen, yang diserahkan secara sukarela oleh masyarakat. Selain hasil bumi tjoeke juga didapat dari produksi tembikar, genteng, dan bata. Semua dikumpulkan dan dijual, hasilnya untuk membiayai Gemeente.

Masyarakat Depok hidup dengan aturan Gemeente yang adil, hingga kotapraja ini berakhir tahun 1950. Rumah Presiden Depok terakhir berada persis di seberang kantor Gemeente Bestuur (kini RS Harapan). Rumah presiden Depok hanya berupa bangunan tempat tinggal biasa, tak ubahnya seperti rumah tinggal lainnya.

  • Jembatan Panus

Jembatan Panus, yang terletak di Jalan Raya Thole Iskandar, Depok ini merupakan jembatan penghubung wilayah Bogor dan Batavia pada masa kolonial. Memiliki lebar lima meter dan panjang 100 meter ini, sempat memiliki peran penting sebagai jalur perlintasan.

Jembatan Panus dibangun pada tahun 1917 oleh seorang insinyur bernama Andre Laurens. Julukan Jembatan Panus diberikan berdasarkan nama Stevanus Leander, seorang warga yang tinggal di samping jembatan tersebut. Kini fungsi jembatan tersebut tergantikan dengan jembatan kurun baru di sampingnya.

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Batiklopedia Bersama Thea Jonathan, tokoh YLCC

KISAH BELANDA DEPOK DAN USAHA MENJAGA KONTIUNITAS SEJARAH

Usia Kota Depok Harusnya 310 Tahun

TANTE THEA: HARI JADI KOTA DEPOK HARUSNYA 310 TAHUN