in

Lestarikan Batik Kudus – Renita Sari, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation

Tahun 2008, dirinya dengan Djarum Foundation bekerjasama dengan Rumah Pesona Kain dengan melakukan pembinaan para pembatik.

Renita 2Menjadi sahabat seniman teater, mengemban misi korporat menghantarkan seni teater Indonesia menjadi primadona panggung nasional. Ia menuntut khalayak untuk hadir di Galeri Indonesia Kaya Grand Indonesia. Dibalik personafikasinya yang gesit dan lincah dalam bertutur, kewanitaannya menyandang keindahan kain Indonesia.

Ketika pemerintah kurang mendukung kegiatan teater dikarenakan sarat kritik yang dapat membahayakan stabilitas sosial, seni pertunjukan Indonesia terpinggirkan. Keberadaan pementasannya kerap diketahui kalangan tertentu saja. Dan intensitas pementasannya berkorelasi dengan perijinan serta pembiayaan. Juga lokasi yang sangat terbatas.

Djarum Foundation dengan program pemberdayaan masyarakatnya, mendedikasikan diri pada seni pertunjukan Indonesia. “Djarum melihat pemberdayaan masyarakat lebih banyak pada seni pertunjukan, karena melibatkan pelaku seni pertunjukan yang banyak jumlahnya serta pemirsa yang meminatinya,” ujar Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation Renita Sari.

“Dewasa ini orang kita lebih suka melihat pertunjukan dari luar yang didatangkan ke sini. Secara tak sadar uang kita dibawa keluar,” sergahnya.

Djarum Foundation yang didirikan sejak 1986 melalui Djarum Apresiasi Budaya sudah mendukung program seni pertunjukan sejak 1992. “Teater Koma yang sudah cukup lama membuat pertunjukan, selalu bermasalah keuangan pada tiap kali pertunjukan. Kami mendukung Teater Koma dengan harapan leluasa berproses kreatif,” tuturnya panjang lebar.

Ia berharap batik Kudus tidak saja dimiliki oleh para kolektor, dan masih bersemangat mempromosikan batik Kudus ke masyarakat umum.

Renita 3Dukungan tersebut diutarakannya lagi makin gencar di tahun 2010. Djarum membuat research to believe yang benar-benar harus yakin tentang apa yang di-support-nya bermanfaat. Seniman-seniman pertunjukan di Indonesia tidak sepenuhnya mendapat dukungan pemerintah. “Hal itu telah kami alami sejak 1992.” Maka ketika Djarum Foundation mulai mengarahkan dukungannya pada seni pertunjukan Indonesia, berarti harus total.

Keberadaan gedung pertunjukan yang sangat minim menjadi perhatian utama. “Sejauh ini Indonesia belum punya banyak ruang publik yang dirawat dengan baik. Kita peduli dengan hal tersebut, terutama karena seniman banyak menceritakan pada kami masalah-masalah mereka. Maka kami berinisiatif membuat fasilitas tersebut di daerah strategis dan akses mudah bagi pengunjung.” Hal tersebut urung karena terkendala oleh lahan dan lokasi.

Trend masyarakat modern yang menjadikan mall sebagai pusat lifestyle modern, serta kemunculan Grand Indonesia yang dibangun Djarum di daerah strategis bundaran HI Thamrin Jakarta Pusat, menguatkan obsesi tersebut. Daripada membuat gedung pertunjukan tersendiri, Djarum Foundation membangunnya di lantai teratas Grand Indonesia, menyatu dengan mall tersebut. Dan gedung pertunjukan itu diberi nama Galeri Indonesia Kaya.

Galeri tersebut diharapkan membuat seniman lebih kreatif dan modern dalam mengemas pertunjukan. “Seperti menggelar pertunjukan wayang orang di mal dengan musik semi orkestra, akan mengubah persepsi generasi muda terhadap wayang orang yang kuno.”

Motif batik Kudus padat, dengan ciri khas motif bakau, cengkeh, porselen Cina, dengan warna­warna khas sogan.

Diantara kesibukannya mempersembahkan kekayaan budaya Indonesia, ada beberapa kegiatan yang berkaitan dengan pelestarian wastra Indonesia. Tahun 2008, dirinya dengan Djarum Foundation bekerjasama dengan Rumah Pesona Kain dengan melakukan pembinaan para pembatik. Hal tersebut berlangsung hingga 2010 dengan memfokuskan pada pembinaan serta melahirkan perajin batik baru.

Kegiatan tersebut dilakukan di Kudus, tempat bisnis Djarum bermula. Dan permasalahan pun diketahui bahwa membangun industri batik tak semudah yang dibayangkan. “Dari 100 orang yang diajak untuk menjadi perajin batik, satu persatu mulai berguguran. Kendalanya adalah perolehan yang didapat tidak memadai. Akhirnya kini mengerucut menjadi 40 orang saja.”

Dengan sumber daya sejumlah tersebut, masih belum memenuhi kriteria industri batik di Kudus. Harga jualnya pun masih belum kompetitif, hingga berpengaruh pada pemasarannya. Ia berharap batik Kudus tidak saja dimiliki oleh para kolektor, dan masih bersemangat mempromosikan batik Kudus ke masyarakat umum. Ada beberapa program ke depannya seperti bekerjasama dengan fashion designer serta melibatkan hasil­hasil produksinya pada skala pameran. Juga kelak akan dibuatkan showroom.

Untuk regenerasi, dibuat program membatik di kalangan siswa­siswi SMK sebagai bagian dari ekstra kurikuler. “Kita berharap pada mereka ketimbang ibu­ibu,” cetusnya. Motif batik Kudus padat, dengan ciri khas motif bakau, cengkeh, porselen Cina, dengan warna­warna khas sogan. “Trend warna lainnya akan mengikuti kelak.”

Busana berbahan tenun dan batik berselang­seling dikenakannya dalam kesehariannya. Karena dirinya ingin menunjukkan kekayaan Indonesia lewat personafikasi dirinya. Untuk busana batik, ia mengenakan batik Kudus sebagai upaya memperkenalkan batik Kudus ke kalangan masyarakat.

Sumber: Majalah BATIK On Fashion

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading…

souvenir lidiah art Magelang Jawa Tengah

Souvenir Memikat Dari Magelang

Batik Fashion - Uri-Uri Batik Pekalongan Didi Budiardjo

Uri-Uri Batik Pekalongan Didi Budiardjo