https://tk.tokopedia.com/ZShCCaaWK/
in ,

INI MATERI PRESENTASI KOMARUDIN KUDIYA DALAM WEBINAR BATIK, BATIN, DAN MORALITAS

Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia menggelar webinar batik live dan zoom tentang Batik, Batik, Moralitas, (14/12). Menghadirkan pembicara seperti Prof. Dr. Yasraf Amir Piliang M.A, Prof. Dr. Kasiyan M.Hum., Afif Syakur, dan Dr. Komarudin Kudiya S.IP., M.Ds., pembahasan seminar ini mengupas tentang kisah batik dulu dan batik saat ini sebagai bagian dari wajah budaya Indonesia.


“TANTANGAN DAN SOLUSI TEKNIK BATIK PADA MASANYA”

Batik, Batin dan Moralitas, Bandung 14 Desember 2024.

Batik sebagai warisan budaya dan sebagai jati diri bangsa Indonesia sudah bisa dikatakan sudah khatam atau sudah final. Pernyataan dari sesepuh maestro batik Indonesia Go Tik Swan Panembahan Hardjonagoro pernah menyampaikan :

BATIK INDONESIA yang saya lahirkan dengan prakarsa Bung Karno juga hanya sampai pada suatu perubahan kemajuan teknik pembatikan. Kalau dahulu dunia pembatikan Sala hanya kenal latar hitam, latar putih dengan sogan, dan Pantai Utara, seperti Pekalongan hanya kenal kelengan berwarna, batas-batas itu dengan lahirnya BATIK INDONESIA menjadi hapus. Namun, nilai-nilai falsafah pola-polanya masih tetap yang lama”. (Hardjonagoro 1991).

Nampak di sini bahwa Go Tik Swan Hardjonagoro telah memainkan peran penting dalam sejarah perkembangan teknik batik yang merupakan kebudayaan Indonesia.

Dalam kalimat tokoh perbatikan lainnya, Iwan Tirta, menyatakan:

“Tanpa langkah-langkah berani yang diambil oleh Go Tik Swan, barangkali batik Jawa tidak akan pemah berkembang menjadi apa yang kini dikenal sebagai Batik Indonesia”.

KRT Hardjonagoro juga mengingatkan :

“Kita kenal aneka pembaharuan dalam teknik membatik tetapi jangan-jangan culturil justru mundur, karena kita jauh dari khasanah kebudayaan kita sendiri. Kita jauh dari bahasa, kebudayaan adat istiadat sampai kepribadian kita sendiri banyak kita buang…… Kita lupa bahwa kemajuan teknik saja tidak menjunjung derajat batik kita sebagai karya budaya berfilsafat adi luhung. Untuk menghargai batik yang baik diperlukan pendidikan perenungan dan pengenalan nilai-nilai kebudayaan kita sendiri. Para ahli pembatik harus membimbing ke arah ini”.(Hardjonagoro 1976).

Dua pernyataan di atas bukanlah sebuah paradoks dan kalimat yang benar atau salah. Pernyataan tersebut di atas sebagai pengingat bagi bangsa Indonesia dan khususnya bagi para pelaku batik hendaknya tetap mempelajari, melakukan perenungan, pengenalan tradisi budaya kita sendiri, mempelajari nilai-nilai yang terdapat pada batik dan seterusnya.

Namun kita juga harus tetap ingat dan memahami bahwa dalam batik itu sendiri terdapat nilai-nilai lain yang menyertainya sesuai dengan kebutuhan jamannya.

Dalam batik terdapat setidaknya ada nilai falsafah, nilai budaya, nilai ekonomi, nilai pendidikan, nilai pariwisata, nilai kreatifitas, nilai teknologi dan sebagainya.

Batik tidak hanya bicara filsafat dan nilai budaya. Benar adanya kalau batik berawal dari falsafah hidup nenek moyang bangsa Indonesia dan juga nilai-nilai budaya bangsa Indonesia dan itu sudah lengkap dan sudah dibuktikan oleh batiknya sendiri. Tantangan terbesarnya kini ialah pastikan bahwa filsafat bukan hanya menjadi narasi elitis, akian tetapi hendaknya menjadi panduan praktis yang mampu menjawab akan kebutuhan dan tantangan era modern tanpa kehilangan akar budaya bangsa Indonesian.

Indonesia, misalnya, perlu belajar dari sejarah ini. Kita semua setuju dan ini suatu yang penting untuk membangun filsafat bangsa Indonesia yang kokoh, namun tetapi lebih penting lagi menjadikannya sebagi basis aksi nyata yang relevan dan inklusif.

Mengutip dari para tokoh bahwa filsafat, dalam arti yang sederhana, sebenarnya dalam konteks kearifan lokal yg tersebar di seantero budaya kita sudah demikian sangat kaya. Filsafat bukanlah domain yang eksklusif bagi kaum elitis atau sekadar spekulasi abstrak yang jauh dari kehidupan sehari-hari.

Sebaliknya, filsafat adalah budaya kedalaman yang inheren dalam setiap manusia, suatu upaya memahami kehidupan dengan kesadaran penuh dan menyeluruh. Filsafat bukan cuma soal teori semata, atau diskusi elit. Namun filsafat hendaknya menjadi cara kita memahami dan menghidupi makna hidup secara utuh. Baik dalam pikiran, sikap maupun tindakan.

Filsafat yang berkeindahan ini mestinya meresap ke dalam kehidupan kita sehari-hari dan menjadi panduan yang tak cuma abstrak. Namun filsafat juga harus konkret, relevan dengan pengalaman kita sehari-hari. Filsafat yg hidup dalam nilai dan kearifan lokal dapat memberikan dasar yang lebih fleksibel dan dapat meberikan banyak manfaat bagi kehidupan manusia.

Pada akhirnya filsafat tidak hanya sekedar berada di ruang pemikiran, tetapi harus hidup dalam cara kita berinteraksi, berpikir, dan bertindak. Filsafat justru hendaknya harus menjadi pemandu bagi pengambilan keputusan besar didalam sains, teknologi dan pengambilan kebijakan.

Sesuai dengan pembahasan kita di hari ini Batik, Batin dan Moralitas, hendaknya filsafat dapat menjembatani abstraksi tersebut dengan tindakan nyata. Tentu saja hal ini agar filsafat tetap relevan di tengah kebutuhan dunia modern yang mendesak dan terus berubah ini.


Filsafat Pembatikan

Kalau kita ikuti para leluhur dahulu dalam berkarya atau membuat wastra batik disebutkan dalam mendapatkan pola batik, sangat mutlak untuk mengenal khasanah kebudayaan Jawa secara menyeluruh; karena seni batik tidak bisa dipisahkan dari berbagai aspek budaya Jawa lainnya, seperti seni tari, gamelan, keris, bangunan, dan sebagainya.

Bila kita melihat perkembangan batik saat sekarang, dimana batik kini diproduksi di berbagai daerah hampir diseluruh Indonesia, apakah memungkinkan kalau mereka semua harus mendalami dan mutlak mempelajari kahasanah kebudayaan Jawa seperti tari, gamelan, keris, bangunan dan sebagainya? Sepertinya tidak mungkin dan sangat sulit untuk mewujudkannya, walaupun bisa saja terjadi.

Dengan demikian dalam melestarikan batik Indonesia, kiranya kita harus mengambil nilai-nilai lain yang ada pada batik selain dari nilai yang melekat pada masyarakat Jawa khususnya.

Kiranya nilai spiritual, ekonomi, nilai pariwisata, nilai identitas, nilai kreativitas dan teknologi bisa menjadi solusi agar kita terus melestarikan batik dan juga mengembangkan teknik batik itu sendiri.

Kreasi baru dalam membuat batik telah dilakukan sejak jamannya KRT Go Tik Swan dan juga oleh Iwan Tirta disesuaikan dengan jamannya. Artinya siapapun bisa melakukan pengembangan kreativitas dalam membuat karya batik tersebut sesuai dengan kemampuan dan kekuatan pengalaman estetis yang menyertai dari seniman atau kriyawan batik tersebut.

KRT Hardjonagoro menguatkan kepada siapapun yang telah melakukan kreativitas dalam berkarya batik tidak dilarang, seperti dalam pernyataannya sebagai berikut :

“Jangan salah tangkap, saya tidak ingin menyatakan bahwa batik kita harus tetap seperti yang kuno-statis. Saya tidak anti perobahan dan kemajuan. Saya hanya mengajak untuk mencari suatu keseimbangan, suatu titik temu yang harmonis dalam proporsi seni dan tehniknya”.

(Hardjonagoro,1978)


Hubungan Batik, Batin dan Moralitas

Pilihan topik Batik, Batin dan Moralitas di penghujung tahun 2024 yang dihadirkan oleh APPBI dengan mendatangkan para Pakar, Ahli dan Segenap Masyarakat pecinta, pemerhati, akademisi, pelaku seni batik merupakan puncak dari serangkaian acara yang diselenggarakan oleh APPBI.

Kami melihatnya bahwa tiga elemen ini saling berkaitan dan dapat diperkuat untuk membangun moralitas yang kokoh dalam masyarakat Indonesia yang kini masih memiliki semangat untuk mengenal, mengetahui, menjaga dan melestarikan batik-batik Indonesia.


Batik sebagai Representasi Nilai Moral

  • Motif dan Filosofi: Setiap motif batik memiliki makna mendalam yang menggambarkan nilai-nilai moral, spiritual, dan budaya. Beberapa contoih motif batik yang memiliki makna filosofi yang luhur seperti motif batik Sido Mukti dalam tradisi Jawa mengandung harapan hidup sejahtera dan bermakna sebagai pengingat untuk selalu bersyukur.
  • Motif batik Taman Telaga Teratai dalam tradisi masyarakat Cirebon menggambarkan hubungan spiritualitas antara pemegang teguh agama Islam dengan Sang Penciptanya, juga berkaitan dengan upaya lahir dan batin juga laku lampah seorang hamba agar senantiasa ingat kepada Sang pencipta-Nya.
  • Tradisi dan Warisan Budaya: Proses pembuatan batik melibatkan kesabaran, ketelitian, konsistensi dan kerjasama, yang mencerminkan nilai-nilai moral seperti kejujuran, ketekunan, penghormatan kepada sesama, tolong menolong, respek kepada sesamanya dan penghormatan terhadap tradisi.
  • Kepatuhan pada Adat: Dalam budaya Jawa, batik mencerminkan penghormatan pada adat dan tradisi leluhur. Hal ini mengajarkan rasa hormat dan kebanggaan terhadap warisan budaya.
  • Pewarisan Nilai Moral: Proses pewarisan pembuatan batik kepada generasi berikutnya bukan hanya soal keterampilan, tetapi juga pengajaran nilai-nilai kesabaran, keuletan, dan dedikasi.

Hubungan Batik dengan Batin

  • Aktivitas Meditatif: Membatik sering dianggap sebagai proses yang menenangkan jiwa dan kepasrahan diri kepada Sang Maha Kuasa. Kegiatan ini melibatkan fokus yang mendalam dan mengajarkan nilai-nilai introspektif seperti ketekunan, menjaga diri agar tidak membuat kesalahan, berusaha membuat yang terbaik dan penghargaan terhadap detail.
    • Ekspresi Diri: Batik memungkinkan pembuatnya untuk mengekspresikan identitas batin mereka melalui motif dan desain. Hal ini menciptakan hubungan emosional yang kuat antara karya seni, pembuatnya, dan komunitas.
    • Meditatif dan Reflektif: Proses membatik, terutama penggunaan lilin panas secara manual, dianggap sebagai praktik yang mendalam dan meditatif. Pembuat batik sering kali menghayati setiap langkah, menjadikannya sarana refleksi batin.
    • Kedisiplinan dan Ketelitian: Membatik membutuhkan fokus dan konsistensi yang tinggi, sehingga mengajarkan kedisiplinan sebagai nilai moral.

Moralitas dalam Pembuatan Batik

  • Etika dalam Produksi: Dalam era modern, penting untuk mempertimbangkan moralitas dalam produksi batik, seperti penggunaan bahan alami yang ramah lingkungan dan pemberdayaan pengrajin lokal.
  • Pendidikan Moral Lewat Batik: Batik dapat digunakan sebagai media pendidikan moral bagi generasi muda, mengajarkan mereka tentang nilai-nilai budaya, keberlanjutan, dan kerja keras.
  • Kebersamaan dalam Proses Produksi: Di sentra-sentra batik, pembuatan batik melibatkan kerja sama komunitas dan jarang sekali terjadi dalam selembar batik dikerjakan oleh satu orang saja. Pada proses produksi batik setidaknya terdapat 7 keahlian dimulai dari yang Membuatkan tema/ide dasar, Tukang Gambar Sketsa, Tukang Klowong atau Pencantingan dasar, Tukang Isen-isen, Tukang Nembok, Tukang Mewarna dan Tukang Melorod. Hal ini mencerminkan pentingnya gotong royong dan harmoni sosial.
  • Keberagaman Motif: Beragamnya motif dari berbagai daerah di Indonesia menunjukkan keragaman yang harmonis, mencerminkan nilai toleransi identitas kearifan lokal dan saling menghormati sesama entitas budaya masing-masing.

Upaya Membangun Moralitas Masyarakat Lewat Batik

  • Pelestarian Tradisi: Melibatkan masyarakat dalam proses pelestarian batik dapat membangun rasa bangga terhadap warisan budaya dan menanamkan nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya.
    • Program Pendidikan dan Pelatihan: Mendorong pendidikan tentang batik di sekolah-sekolah, termasuk filosofi motifnya, dapat memperkuat moralitas generasi muda. Batik sebagai media edukasi dapat dimanfaatkan dalam pengajaran nilai moral kepada anak-anak, seperti kesabaran, ketelitian, dan penghormatan terhadap hasil karya tangan manusia.
    • Batik sebagai Simbol Kesatuan: Dalam konteks kebhinekaan Indonesia, batik berfungsi sebagai simbol persatuan yang dapat memperkuat moralitas kolektif masyarakat.

Kreativitas dan Semangat Berkarya

Membangun kreativitas masyarakat Indonesia adalah langkah yang sangat penting dalam memperkuat identitas nasional dan meningkatkan daya saing di era global termasuk didalamnya kreativitas berbasis budaya batik tradisional. Berdasarkan dari beberapa literatur terdapat pendekatan utama yang dapat diterapkan untuk mendorong kreativitas khususnya bagi masyarakat Indonesia:

1. Pendidikan Berbasis Kreativitas

  • Pengajaran Seni dan Budaya Lokal: Pendidikan yang mengintegrasikan seni tradisional, seperti batik, musik gamelan, atau tari daerah, mendorong generasi muda untuk menghargai warisan budaya sekaligus menciptakan inovasi yang berkaitan dengan teknologi yang berhubungan dengan passion-nya. Untuk memperkuat rasa cinta batik bagi generasi muda sejak dini, diperlukan pengenalan dan perlu dibuatnya kurikulum batik dan sumber-sumber literasi bacaan yang berkaitan dengan batik.
    • Metode Problem-Based Learning (PBL): Memperkenalkan metode belajar berbasis masalah untuk mendorong siswa berpikir kritis dan kreatif dalam memecahkan tantangan.
    • Pusat Inovasi di Sekolah dan Universitas: Menyediakan ruang kreatif seperti laboratorium seni, laboratorium batik, laboratorium pengembangan teknologi, dan budaya untuk bereksperimen.

2. Mendorong Kolaborasi Antarbudaya

  • Festival Kebudayaan: Menyelenggarakan acara yang mempertemukan berbagai budaya dari seluruh nusantara untuk saling berbagi dan menciptakan karya baru.
    • Kolaborasi Seniman Lokal dan Internasional: Mendorong kolaborasi antara kreator lokal dengan seniman global untuk menciptakan produk budaya yang inovatif.
    • Penggunaan Media Digital: Platform online seperti YouTube atau Instagram dapat digunakan untuk memperluas jangkauan karya kreatif berbasis budaya Indonesia.

3. Lingkungan yang Mendukung Kreativitas

  • Kebijakan yang Mendorong Inovasi: Pemerintah dapat memberikan insentif kepada industri kreatif, seperti pajak rendah untuk usaha seni dan budaya.
    • Komunitas Kreatif: Membentuk komunitas lokal yang memfasilitasi pertukaran ide antara kreator, seperti komunitas seni rupa atau literasi.
    • Infrastruktur Kreativitas: Membangun pusat kebudayaan, perpustakaan modern, atau ruang publik yang mendukung aktivitas kreatif.

4. Mengintegrasikan Teknologi

Digitalisasi Kebudayaan: Dokumentasi seni tradisional dalam bentuk digital untuk memperluas akses dan memperkenalkan kepada dunia. Dalam dunia batik sudah semestinya para kriyawan batik melakukan dokumentasi digital setiap motif-motif yang dibuatnya. Langkah pendokumentasian ini masih sangat jarang dilakukan oleh Kriyawan Batik di seluruh sentra-sentra batik. Jika seandainya mereka para Kriyawan Batik ini sadar bahwa betapa pentingnya nilai dokumentasi, maka pasti akan merasa rugi jika kesempatan pendokumentasian motoif-motif itu dilewatkan.

5. Pendanaan dan Apresiasi

Dana Kreativitas: Menyediakan program pendanaan bagi individu atau kelompok yang ingin mengembangkan proyek berbasis budaya. Batik Komar selama ini dalam melakukan R&D (Research & Development) sebagian besar dengan cara mengalokasikan sebagian keuntungan dari margin profit penjualan batik yang dikembalikan dalam bentuk penelitian, semangat berkarya hendaknya terus menjadi bagian yang tidak boleh dilupakan dan tidak boleh dianggap santai. Keberanian dalam mewujudkan karya-karya baru merupakan hal yang sangat penting dan bisa dijadikan kewajiban bagi Kriyawan Batik.

Namun hal demikian hendaknya para kriyawan harus memiliki metode yang harus dipegang dengan kuat. Tanpa metode sebenarnya bisa dilakukan namun, hasilnya tidak akan maksimal dan tidak akan mendapatkan kemudahan ketika akan melakukan pengembangan pada tahap berikutnya.

Metode yang bisa kami lakukan di Batik Komar diantaranya sebuah metode yang sangat sederhana sekali, namun selama ini bisa menjadi ampuh ketika harus memunculkan atau menghadirkan desain-desain baru atau motif-motif batik yang baru.

Langkah atau metode yang hendaknya bisa ditiru dan dilakukan oleh para Kriyawan Batik, diantaranya adalah:

  1. Study Literasi
    1. Study Bentuk
    1. Study Sketsa
    1. Study Komposisi
    1. Study Produksi

Lima langkah ini bisa dijadikan modal utama bagi pengembangan kreativitas desain-desain batik yang inovatif dan memiliki nilai kebaruan.


Hubungan Manusia dan Teknologi

Kita semua sepakat bahwa manusia harus memanfaatkan teknologi yang ada di zamannya karena teknologi merupakan hasil dari perkembangan pengetahuan yang dirancang untuk mempermudah kehidupan, meningkatkan efisiensi, dan memperluas potensi manusia.

Canting tembaga yang digunakan oleh seluruh perajin batik sejak dulu hingga sekarang, merupakan hasil teknologi di zamannya. Begitu pula dengan pemanas wajan mulai dari kayu bakar, minyak tanah hingga sekarang menggunakan kompor gas. Sehingga kita sepakat bahwa dari hasil budi dan akal manusia yang sehat maka akan selalu hadir produk-produk teknologi apapun yang dapat mempermudah kehidupan, meningkatkan efisiensi, dan memperluas potensi manusia dalam menyelesaikan kebutuhannya.

Manfaat dari teknologi yang dibuat oleh manusia tidak hanya terletak pada alat itu sendiri tetapi juga pada cara manusia menggunakan hasil dari teknologi ciptaannya untuk mendorong kemajuan dan memecahkan masalah.

Dengan memanfaatkan teknologi yang ada di zamannya, manusia dapat lebih mudah beradaptasi dan berkembang sesuai dengan bidangnya masing-masing.

Kami juga menyadari bahwa teknologi hendaknya dijadikan sebagai alat bantu semata, dan kita tetap perlu pentingnya hubungan sosial langsung. Maka tetap diperlukan edukasi tentang pentingnya interaksi tatap muka untuk membangun empati, kepercayaan, dan hubungan sosial yang lebih dalam.

Hindari ketergantungan dan hilangnya keterampilan manual. Dengan demikian harus tetap soroti dan tanamkan kepada generasi mendatang tentang menata teknologi, karena jika terlalu mengandalkan teknologi dapat menyebabkan hilangnya kemampuan berpikir kritis, keterampilan praktis, atau bahkan kreativitas.

Namun demikian kita sebagai bagian dari komunitas yang turut melestarikan tradisi batik Indonesia, hendaknya harus bisa memilih, memilah dan tetap menjaga rambu-rambu kekriyaan batik dan nilai-nilai filosofi batik. Selama teknik yang digunakan untuk membuat kain batik atau produk batik dan tetap masih menggunakan lilin panas sebagai perintang warna (resist-dyeing) maka harus kita pertahankan, sebagai pembeda dengan produk tekstil lainnya.

Karena satu pembeda yang signifikan dalam membuat produk batik adalah dengan penggunaa lilin panas, selebihnya kita bisa memanfaatkan dan menggunakan teknologi yang ada di zamannya.

Perkembangan teknologi dan kreativitas dalam dunia batik belakangan ini sebagai berikut:

  1. Teknologi pembuatan desain batik bebrbasis pemograman komputer
    1. Pelilinan batik tulis dan cap dengan teknologi PLC (Programmable Logical Control)
    1. Batik Analyzer (Aplikasi Pengenal Kualitas Batik)
    1. Fotonik Batik (Mesin Pengganti Sinar Ultraviolet dan Energi Listrik dari Matahari)
    1. Artificial Intelligent Batik
    1. Pendulum Batik (Bandul Berputar dengan Lilin Panas)
    1. Canting Paralel Batik
    1. ALIMBa (Alat Pengolah Limbah Batik).
    1. Dan masih banyak lagi yang lainnya.

Penutup

Batik bukan hanya sebuah karya seni tekstil, tetapi juga medium yang merefleksikan hubungan antara batin manusia dan nilai-nilai moral dalam kehidupan. Masyarakat Indonesia dapat membangun moralitas yang lebih kuat dengan menjaga, menghormati, dan memahami nilai-nilai yang terkandung dalam batik, sekaligus memanfaatkannya untuk meningkatkan kesadaran budaya dan spiritual.

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

webinar batik afif syakur

INI MATERI PRESENTASI AFIF SYAKUR DI WEBINAR BATIK, BATIN, MORALITAS

canting cap batik berbahan kertas karya Nurohmad

CANTING CAP BATIK DARI LIMBAH KERTAS