Bali — Indonesia menegaskan posisinya sebagai negara adidaya budaya pada Forum Budaya, Warisan, Seni, Naratif, Diplomasi, dan Inovatif (CHANDI) 2025 yang digelar di Bali dan dihadiri delegasi dari 40 negara. Forum tersebut menyoroti peran budaya sebagai pilar utama diplomasi dan pembangunan global.
Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, menyebut Indonesia memiliki keunggulan strategis sebagai bangsa dengan mega-keberagaman: 280 juta penduduk, lebih dari 1.340 suku bangsa, 718 bahasa daerah, dan 2.213 warisan budaya takbenda yang diakui negara. “Prinsip Bhinneka Tunggal Ika, gotong royong, dan musyawarah merupakan fondasi kerukunan dan kontribusi nyata bagi perdamaian dunia,” ujarnya, Senin (8/9).
Fadli juga menekankan peran ekonomi sektor budaya. Menurutnya, industri budaya global bernilai USD 4,3 triliun atau 6 persen dari perekonomian dunia dan menyerap 30 juta tenaga kerja. Di Indonesia, kontribusi ini tercermin dari 122 juta penonton bioskop sepanjang 2024 dan kenaikan ekspor batik sebesar 76 persen pada kuartal I 2025.
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno, menambahkan bahwa teknologi kecerdasan buatan (AI) harus memperkuat ikatan budaya, bukan mengikisnya. “Indonesia mendorong tata kelola AI yang melestarikan bahasa dan budaya. Bhinneka Tunggal Ika harus menjadi fondasi peradaban digital yang adil dan berkelanjutan,” katanya.
Forum CHANDI menghasilkan Deklarasi Bali 2025 yang menegaskan budaya kini sejajar dengan isu politik, ekonomi, dan keamanan global. Delegasi sepakat bahwa budaya adalah kompas masa depan untuk menghadapi krisis iklim, konflik, dan ketimpangan.
Sejumlah tokoh internasional mendukung deklarasi ini. Menteri Dalam Negeri dan Warisan Budaya Zimbabwe, HE Kazembe, mengingatkan filosofi Ubuntu: “Aku ada karena kalian ada.” Sementara perwakilan pemuda Palestina, Jana Abusalha, menegaskan, “Budaya adalah bahasa lintas generasi. Setiap lagu, tarian, atau festival di tengah krisis adalah cara damai kami untuk mengatakan: kami ada di sini, dan kami akan terus ada.”
Ketua Dewan Pembina Museum dan Cagar Budaya, Hashim S. Djojohadikusumo, menekankan perlunya strategi berani dalam sektor budaya. “Indonesia telah menjadi persimpangan peradaban dunia selama ribuan tahun. Namun yang kita butuhkan adalah menjadikan budaya sebagai penggerak utama ekonomi dan diplomasi,” ujarnya.
Dalam forum ini, Desa Panglipuran dipilih sebagai simbol harmoni budaya dan alam. Delegasi mengikuti lokakarya keris, musik angklung, hingga pembuatan batik. Sejumlah kerja sama budaya juga ditandatangani dengan Libya, Suriah, Yordania, Inggris, Rwanda, dan Uzbekistan.
UNESCO, melalui pernyataan resmi yang dikutip Kemendikbud, menyebut Indonesia sebagai “negara adidaya budaya.” Label tersebut menjadi pengakuan global atas posisi Indonesia dalam diplomasi budaya. CHANDI 2025 menegaskan bahwa diplomasi tidak lagi sebatas meja perundingan atau perdagangan. Budaya kini menjadi instrumen strategis dalam mengendalikan narasi global, dan Indonesia tampil di garis depan sebagai bangsa yang menawarkan harmoni dan perdamaian melalui warisan leluhurnya.

