https://tk.tokopedia.com/ZShCCaaWK/
in ,

Jlamprang Dalam Perspektif Sapuan

Direktori UMKM Batik Batiklopedia.com, ruang digital bagi pengrajin batik Indonesia untuk promosi, kolaborasi, dan pelestarian budaya.

Bagi Sapuan, batik Jlamprang bukan sekadar motif indah dari Pekalongan, melainkan jejak panjang pertukaran budaya yang sarat makna. Ia menegaskan bahwa akar historis Jlamprang berhubungan erat dengan kain dobel ikat patola dari Koromandel, India. Karena kain patola sangat mahal dan hanya bisa dimiliki kalangan tertentu, masyarakat pesisir mencoba menirunya melalui medium batik. Dari proses adaptasi inilah lahir motif Jlamprang, yang kemudian berkembang sebagai identitas batik pesisiran.

Sapuan, Pemilik Batik Sapuan
Sapuan, Pemilik Batik Sapuan

Namun, berbeda dengan batik pedalaman yang sarat filosofi dan aturan pakem kraton, batik Pekalongan lebih banyak dipahami dalam konteks ekonomi. Sapuan mencatat bahwa makna filosofisnya justru kurang diperhatikan. Ia bahkan pernah mendengar bahwa dalam ritual-ritual pesisir—misalnya larung laut yang berkaitan dengan mitos Dewi Lanjar—motif Jlamprang digunakan, meski jenis motif spesifiknya belum dapat dipastikan. Hal ini menandakan bahwa sesungguhnya Jlamprang juga memiliki dimensi spiritual, bukan semata urusan dagang.

Temuan penting lain datang dari penelitian tim akademisi Malang pada 2014–2017. Mereka mendapati catatan visual tentang Jlamprang di relief Candi Singasari abad ke-13. Motif itu berbentuk medalion dengan roda cakra, jauh lebih tua dari dugaan awal yang selama ini hanya melacak batik hingga Majapahit abad ke-15. Dalam pembacaan Sapuan, jejak Singasari ini memperkaya pemahaman kita: istilah batik mungkin belum dikenal, tetapi kain berwarna dengan motif geometris sudah digunakan.

Lebih jauh, Sapuan mengaitkan asal-usul kata Jlamprang dengan istilah jelam perong, yang berarti bulu ekor burung merak. Dalam ikonografi Hindu, burung merak ini merupakan wahana Dewi Saraswati, dewi ilmu pengetahuan. Artinya, motif Jlamprang tidak hanya menghadirkan estetika, tetapi juga membawa doa dan harapan: agar pemakainya memperoleh kekuasaan yang berlandaskan ilmu dan kebijaksanaan. Bagi Sapuan, inilah makna terdalam dari Jlamprang—sebuah motif yang lahir dari interaksi lintas budaya, digunakan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat pesisir, dan menyimpan pesan filosofis tentang ilmu serta kebijaksanaan. Ia menutup pandangannya dengan refleksi bahwa penelitian mengenai Jlamprang masih sangat terbuka luas. Akademisi, sejarawan, maupun pecinta batik perlu terus melacak akar sejarah ini, agar Jlamprang tidak hanya dipandang sebagai motif dagang, tetapi juga sebagai warisan nilai yang memperkaya identitas budaya Nusantara.

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Indonesia tegaskan diri sebagai adidaya budaya di Forum CHANDI 2025 Bali, deklarasi global perkuat peran warisan dan diplomasi budaya.

Indonesia Tegaskan Status Adidaya Budaya di Forum CHANDI 2025 Bali

Batik Cianjur motif Beasan memaknai padi sebagai simbol kemakmuran, kerendahan hati, dan kebersamaan, lahir dari budaya agraris Sunda. (Ilustrasi: AI)

Batik Cianjur Motif Beasan: Jejak Padi dalam Lembaran Kain