Jakarta – Ekonomi kreatif dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi motor pembangunan sekaligus instrumen diplomasi antarnegara di kawasan Selatan-Selatan. Pandangan ini disampaikan Direktur Pengembangan Sistem Pemasaran dan Hubungan Antar Lembaga Kementerian Ekonomi Kreatif, Radi Manggala, dalam forum Exploring the Global South: Epistemologies, Development Pathways, and Research Network, Kamis (7/8).
Radi menegaskan, sifat inklusif dan hambatan masuk yang rendah menjadikan sektor kreatif dapat diakses oleh semua kalangan tanpa memandang latar belakang. “Semua orang — tanpa memandang asal, jenis kelamin, atau agama — dapat berpartisipasi dalam ekonomi kreatif, selama mereka kreatif dan inovatif,” ujarnya.
Menurutnya, karakter sektor ini yang berkembang stabil dan dapat dijalankan di berbagai tempat menjadikannya berkelanjutan serta tangguh menghadapi disrupsi global, seperti yang terbukti saat pandemi COVID-19.
Mengutip data UNCTAD, Radi menyebut sejumlah capaian negara di Selatan Global. Pada 2022, ekonomi kreatif menyumbang 7,3 persen terhadap PDB Filipina dan mempekerjakan tujuh juta orang. Di Nigeria, industri kreatif mempekerjakan 3,2 juta orang pada 2019. Sementara di Indonesia, sektor ini berkontribusi sekitar US$82 miliar terhadap PDB pada 2021 dan menyerap 24 juta tenaga kerja pada 2022.
Radi menilai, populasi muda yang besar, melek teknologi, dan pasar yang terus tumbuh menjadi alasan kuat untuk mengintegrasikan ekonomi kreatif dalam strategi pembangunan Selatan-Selatan. “Kita perlu mengintegrasikan ekonomi kreatif ke dalam kerja sama dan diplomasi negara-negara Selatan. Peluangnya ada di sana,” katanya.
Ia menambahkan, inovasi digital dalam ekosistem terbuka dan inklusif memungkinkan talenta kreatif bergerak lintas negara, memperkuat jejaring global. Gagasan ini telah diakui dalam Resolusi Majelis Umum PBB pada 2021 dan 2023, serta forum internasional seperti G20, APEC, OECD, MIKTA, dan ASEAN.
Indonesia sendiri, lanjut Radi, telah memelopori Konferensi Dunia Ekonomi Kreatif (World Conference on Creative Economy/WCCE) sejak 2018 sebagai ajang promosi, perayaan, dan lokalisasi ekonomi kreatif di tingkat nasional maupun global.
“WCCE merupakan platform utama bagi Indonesia untuk merayakan, mempromosikan, dan melokalisasi ekonomi kreatif,” pungkasnya.

