Bandung — Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menggelar Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2025 sebagai forum kolaborasi riset dan industri untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan pemerataan teknologi.
Salah satu sesi utama menghadirkan jajaran Direktur Utama BUMN strategis dari sektor digital, energi, pertahanan, dan manufaktur. Diskusi yang dipandu Dirjen Riset dan Pengembangan Teknologi Kemdiktisaintek, Fauzan Adziman, menyoroti pentingnya hilirisasi teknologi serta penguatan SDM unggul.
“Kolaborasi riset dan industri bukan pilihan, melainkan keniscayaan jika kita ingin teknologi Indonesia berdaulat dan berdaya saing global,” ujar Fauzan.
Direktur Utama Telkom Indonesia, Dian Siswarini, menekankan integrasi kecerdasan buatan (AI) dalam operasional dan layanan publik. “AI kami gunakan mulai dari prediksi gangguan jaringan, layanan pelanggan, hingga personalisasi produk,” jelasnya.
Dari sektor pertahanan, Direktur Utama PT Pindad, Sigit P. Santosa, memaparkan keberhasilan pengembangan bahan pelindung berbasis limbah sawit dan serat rami hasil kolaborasi dengan akademisi.
Wakil Direktur Utama PT Pertamina, Oki Muraza, menyoroti riset kimia dan teknik dalam mengoptimalkan ladang migas mature, termasuk proyek energi mandiri listrik merah putih. Sementara itu, perwakilan PLN, Daniel Tampubolon, menegaskan fokus pada smart generation, teknologi transmisi, dan peningkatan kapasitas pegawai melalui program magister bersama perguruan tinggi.
Dari industri baja, Direktur Krakatau Steel, Utomo Nugroho, mencontohkan kolaborasi dengan ITB dalam menciptakan plat baja tahan peluru yang mendukung kebutuhan strategis nasional.
Selain inovasi, diskusi juga menyoroti kebutuhan SDM masa depan. Para pimpinan BUMN sepakat bahwa learning agility, growth mindset, dan keterampilan adaptif menjadi kunci menghadapi perubahan cepat dalam teknologi.
Wamen Kemdiktisaintek Stella Christie menutup diskusi dengan penegasan bahwa hilirisasi teknologi hanya bisa berhasil jika riset dasar dari kampus selaras dengan kebutuhan industri. “Kami dorong agar riset perguruan tinggi menjelma menjadi solusi nyata bagi industri dan masyarakat,” katanya.

