
Batik merupakan warisan yang ingin hidup bersama kita di saat ini. Terlahir dari tangan-tangan terampil pembatiknya, kekinian mengubah manfaat batik. Dari semula kain menjadi batik fashion.
Berdasarkan sejarahnya, kain batik telah digunakan untuk kebutuhan manusia Indonesia dari lahir hingga kematian. Untuk keseharian, kain batik awalnya digunakan sebagai sinjang atau jarik. Maka motif kain batik selalu dibuat meyeluruh dalam satu-kesatuan ide dan tema. Seiring perkembangan zaman, kain batik tidak lagi menjadi bahan jadi tetapi juga bahan baku untuk fashion.
Seorang desainer fashion asal Kota Surakarta, Djongko Rahardjo, sempat menjelaskan bahwa pemotongan kain batik untuk busana akan menghilangkan makna motif yang terkandung di dalamnya. Maka memperlakukan kain batik ke dalam busana semestinya berhati-hati dan tidak ceroboh.
Batik Pohon yang berada di wilayah Kemang Jakarta Selatan pun punya cara memperlakukan kain batik untuk fashion sejak awal pembuatannya. Kain batik untuk fashion digambar berdasarkan pola busana yang dikehendaki sehingga tidak mengurangi dari esensi makna motif itu sendiri. Namun beda motif berfilosofi yang datang dari budaya Jawa (Solo dan Jogja), di wilayah pesisiran Jawa, motif pada kain batik umumnya dibuat naturalis dan nyaris tanpa simbol-simbol bermakna.

Misalkan saja pada batik Jawa Solo dan Jogja, untuk menggambar burung, digunakan bagian dari fisik burung tersebut misalkan hanya bagian kepala, ekor, atau sayap. Penggunaan per bagian itu sudah melambangkan makna tertentu. Di kain batik pesisiran, gambar burung bisa disajikan utuh tanpa analogi-analogi. Namun ada unsur agama yang berpengaruh dalam pembuatan gambar mahluk hidup hingga akhirnya gambar dibuat dalam bentuk stilasi.
Contoh stilasi yang terjadi pada motif batik dilakukan oleh Komarudin Kudiya, pemilik Batik Komar di Cigadung, Bandung, Jawa Barat. Terjadinya di motif Pegajahan yang asli asal Cirebon. Gambar hewan gajah disamarkan dalam bentuk stilasi, berpadu dengan motif wadasan (batu karang) khas Cirebon.
Soal motif batik yang simbolik mungkin bisa dijelaskan via motif truntum atau tumaruntum. Motif ini dibuat oleh Kanjeng Ratu Kencana, istri dari Sunan Pakubuwana III. Ketika suasana hatinya sedang gundah akan diduakan oleh suaminya karena belum memberikan anak, dirinya terinspirasi bintang-bintang yang menemani kesepiannya. Bunga tanjung yang punya bentuk dan wangi khas pun dipadukan dengan gemerlap bintang dan akhirnya melahirkan motif truntum. Kain batik buatannya diserahkan pada suaminya dan rasa cintanya bertambah hingga akhirnya mengurungkan niat menikah lagi dan memilih hidup bersama istrinya apapun adanya.
Motif batik yang lahir dari Solo dan Jogja terkait dengan makna yang terkandung di dalamnya. Seperti motif parang barong yang hanya boleh dikenakan raja. Minat batik pada era tersebut melahirkan motif keraton kombinasi yang dapat dinikmati oleh masyarakat luar keraton. Peran saudagar yang memproduksi batik keraton untuk konsumsi umum disebut juga dengan batik sudagaran.

Untuk menghargai kerajinan batik, terutama batik tulis dan cap dengan motif batik Jawa Solo dan Jogja, maka ada hal-hal yang perlu kamu perhatikan jika ingin membuat busana berbahan kain batik tersebut sebagai material fashion, yakni:
- Motif batik harus secara proporsional diperhatikan dalam desain busana agar tidak merusak maknanya serta tetap menghasilkan estetika yang diharapkan.
- Harga batik tulis dan cap bervariatif, tergantung dari motif, warna, dan asal perajinnya. Harga yang ditentukan karena motif karena berpengaruh dari detail dan lama proses pengerjaan. Semakin detail dan lama pembuatannya maka akan semakin mahal. Harga batik tulis paling murah di skala perajin mulai dari Rp 150 ribu hingga jutaan rupiah. Umumnya, kain batik tulis yang digunakan untuk fashion berkisar antara Rp 150 ribu – Rp 1,5 jutaan. Di atas harga tersebut, umumnya dijadikan sinjang atau jarik yang sayang jika dipotong-potong.
- Untuk lelaki, gunakan material kain batik dengan motif besar atau motif jarang. Ini ditujukan untuk performance busana lelaki yang tidak terlalu mencolok atau tidak menjadi menarik.
- Untuk wanita, material kain batik dengan motif besar atau kecil sah-sah saja dikenakan. Motif yang penuh akan mendukung keindahan penampilan wanita, ditunjang dengan warna yang memikat.
- Batik Solo dan Jogja punya kekhasan warna coklat sogan. Warna ini merepresentasikan sikap formil seseorang yang mengenakannya. Warna coklat sogan merupakan warna netral bagi pengguna berkulit hitam, sawo matang, kuning langsat, maupun putih. Warna coklat sogan pula merupakan warna yang direkomendasikan bagi pengguna bertubuh subur.
- Untuk warna kain batik tersedia berbagai macam warna. Untuk usia muda, bebas menggunakan ragam warna yang tersedia. Warna khas batik sendiri adalah coklat, biru, merah, dan hijau karena pada masanya teknik pewarnaannya masih menggunakan pewarna alami. Seiring berjalannya waktu, ragam warna kain batik bervariasi karena menggunakan pewarna kimia.
- Carilah penjahit berpengalaman dalam menangani busana berbahan kain batik. Kain batik tulis dibuat sekali oleh perajinnya hingga pemiliknya akan merasa diistimewakan karena tiada duanya. Buka-buka referensi busana batik yang pernah dibuat untuk dijadikan contoh atau modifikasi.
- Jika telah memiliki busana batik tulis atau cap, jangan pernah mencucinya dengan sabun cuci. Ikuti petunjuk perawatan dan pencuciannya atau tanya kepada penjualnya bagaimana semestinya memperlakukan batik. Busana batik tulis maupun cap umumnya direndam dalam larutan lerak dan diangin-anginkan kala penjemuran karena tidak boleh terkena matahari langsung.
- Busana batik sering juga dijadikan conversation starter. Misalkan kamu pergi ke luar negeri mengenakan batik dan orang asing mengenali batik sebagai budaya khas Indonesia, kamu adalah duta batik Indonesia. Maka perbanyak pengetahuan tentang ragam motif batik dan asal-muasalnya. Dengan demikian, kamu dapat mempromosikan tradisi dan budaya Indonesia.
Selamat berbatik ria. Jadilah orang yang bangga dengan busana khas Indonesia satu ini.
Batiklopedia.com

