Bekasi bukan hanya tentang kota industri—di balik deru mesin dan bangunan modern, ada geliat budaya yang perlahan bangkit, salah satunya melalui karya batik. Sosok sentral di balik kebangkitan batik Bekasi adalah Sri Sunarni, perajin batik yang telah merintis dari nol hingga mengangkat nama daerahnya ke kancah nasional.

Dari Solo ke Bekasi, dari Modiste ke Batik
Sri Sunarni lahir di Solo, 14 November 1962—kota yang identik dengan batik tulis klasik. Meski berasal dari keluarga dengan latar belakang membatik, ia tidak serta-merta menekuni bidang ini. Awalnya, Sri berkecimpung sebagai modiste (penjahit busana), namun kecintaan terhadap budaya lokal menuntunnya untuk lebih dari sekadar menjahit.
Pada tahun 2009, saat aktif dalam kegiatan Posdaya di Universitas Gadjah Mada (UGM), ia memperkenalkan rancangan batik khas Bekasi. Saat itu batik Bekasi belum resmi diakui, namun momen tersebut menjadi titik balik baginya. “Waktu itu baru sebatas ide, tapi dari situ saya yakin Bekasi layak punya identitas batik sendiri,” kenangnya.
Perjalanan Membangun Batik Bekasi
Perjuangan Sri tidak mudah. Bersama komunitas lokal dan dukungan dari pemerintah kota, pada tahun 2013, batik Bekasi akhirnya diakui secara resmi dan dipatenkan oleh Balai Batik Yogyakarta. Motif-motif batik khas Bekasi—seperti Golok Kembar, Gedung Juang, Tari Topeng, hingga Tugu Agus Salim—lahir dari proses panjang riset sejarah dan budaya lokal.
Brand Batik Sri sendiri resmi berdiri sejak tahun 2015, dan telah memperoleh hak kekayaan intelektual (HAKI). Dalam proses kreatifnya, Ibu Sri juga melibatkan para sejarawan, seniman lokal, hingga anak-anak muda untuk menjaga orisinalitas motif.
Filosofi dan Ciri Khas Batik Bekasi

Motif batik Bekasi tidak asal dibuat. “Setiap gambar punya cerita,” jelas Sri. Misalnya, motif pohon asem diambil dari kekhasan lingkungan Mustika Jaya; atau Rawalumbu dan Rawakalong, yang masing-masing merepresentasikan identitas wilayah di kota Bekasi.
Secara warna, batik Bekasi cenderung tajam, dengan dominasi merah bata dan hijau lumut, sebagai cerminan kekuatan dan kesuburan daerah. Namun kini, Batik Sri juga mengembangkan pewarna alami (ecoprint) yang lebih ramah lingkungan dan digunakan dalam pelatihan anak-anak disabilitas.
Dari Pelatihan hingga Produksi Massal
Selain memproduksi batik tulis dan cap, Ibu Sri aktif mengadakan pelatihan bagi masyarakat, terutama anak-anak muda dan disabilitas. Ia percaya, batik bukan sekadar warisan budaya, tetapi juga alat pemberdayaan ekonomi.
“Banyak anak-anak yang saya latih sekarang sudah bisa mandiri, bahkan membuka usaha sendiri,” tutur Sri. Batik Sri kini juga melayani pesanan seragam sekolah hingga produksi kain skala besar—dengan tetap menjaga kualitas dan proses tradisional.
Dukungan Pemerintah dan Tantangan Pasca Pandemi
Pemerintah Kota Bekasi memiliki andil besar dalam memajukan batik daerah. Salah satu bentuk dukungannya adalah surat edaran untuk ASN agar mengenakan batik lokal setiap pekan. Kebijakan ini memberi ruang pemasaran yang stabil bagi pelaku UMKM seperti Ibu Sri.
Namun bukan berarti perjalanan mulus. Masa pandemi menjadi tantangan besar. Produksi sempat menurun drastis, namun Batik Sri tetap bertahan berkat pesanan masker dan dukungan program pemerintah.
Masa Depan Batik Bekasi
Sri melihat tantangan ke depan bukan lagi pada motif atau bahan, tapi pada SDM pembatik yang makin sedikit. “Anak-anak muda harus lebih dilibatkan. Kalau tidak, batik bisa kehilangan pelanjut,” ujarnya. Karena itu, ia terus aktif mengajar dan membuka workshop di rumahnya di Mustika Jaya.
Batik Sebagai Warisan dan Jalan Hidup
Sri Sunarni bukan hanya pembatik. Ia adalah guru, mentor, dan ibu bagi banyak generasi perajin muda. Dengan ketekunan dan cinta terhadap budaya lokal, ia membuktikan bahwa batik bukan hanya milik Solo atau Pekalongan, tetapi bisa tumbuh subur di mana pun, termasuk di kota Bekasi.
“Kalau kita bisa membuka lapangan kerja sendiri, kenapa harus bergantung pada orang lain?”
— Sri Sunarni

