Dalam lanskap budaya yang terus berubah, batik menghadapi tantangan baru: bagaimana tetap relevan di mata generasi muda, khususnya Gen Z yang hidup di dunia digital, visual, dan serba cepat. Tantangan inilah yang menjadi tema utama Webinar “Batik, Tradisi Menjawab Tren” yang diselenggarakan oleh Asosiasi Pecinta dan Penggiat Batik Indonesia (APPBI).
Acara yang menghadirkan Putri Urfanny Nadhiroh, S.Ds., M.A., seorang desainer muda dan Creative Director Batik Komar sekaligus Founder Shibotik, menjadi ruang dialog lintas generasi antara pelaku batik tradisional dan desainer muda Indonesia. Webinar ini membuka perspektif baru tentang bagaimana tradisi bisa berjalan berdampingan dengan tren dan teknologi.
Generasi Z dan Tantangan Pelestarian Batik
Putri Urfanny membuka paparannya dengan pertanyaan reflektif: “Bagaimana batik, sebagai tradisi luhur yang diwariskan turun-temurun, bisa menjawab tantangan zaman modern?”
Menurutnya, Generasi Z—mereka yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012—adalah kelompok yang sangat unik. Mereka tumbuh di tengah era digital, berpikir visual, mencintai orisinalitas, dan aktif menciptakan tren di media sosial seperti TikTok dan Instagram. Gen Z bukan hanya konsumen, tetapi juga kreator yang ingin terlibat dalam proses.
“Batik memiliki semua yang mereka cari,” ujar Putri. “Ia otentik, punya cerita, punya makna, dan hasil karya tangan manusia. Tinggal bagaimana kita mengemasnya agar sejalan dengan bahasa visual mereka.”
Batik sebagai Tradisi yang Hidup
Dalam presentasinya, Putri menegaskan bahwa batik bukan sekadar kain bergambar, melainkan hasil olah rasa, cipta, dan karsa yang merekam nilai-nilai kehidupan. Motif klasik seperti Parang melambangkan kekuatan, Truntum menggambarkan cinta yang abadi, sedangkan Ringsing bermakna penyembuhan.
Namun, di era saat ini, batik juga harus beradaptasi tanpa kehilangan jati diri. Putri mencontohkan eksplorasi teknik baru yang ia kembangkan melalui “Shibotik”, yaitu perpaduan antara teknik shibori Jepang dan batik Indonesia. Bahkan, ia membuka kemungkinan penggunaan desain berbasis AI untuk menciptakan pola batik yang tetap dikerjakan dengan teknik manual.
“Tradisi yang hidup bukan tradisi yang membeku,” tegasnya. “Batik tumbuh karena mampu menyesuaikan diri dengan perubahan zaman.”
Gaya Gen Z dan Peluang Inovasi
Karakter Gen Z yang ekspresif dan bebas menjadikan mereka pasar potensial bagi inovasi batik. Batik kini bisa tampil dalam bentuk yang lebih kasual dan stylish—dari hoodie, bucket hat, outer oversize, hingga tote bag. Bahkan, batik dapat hadir dalam bentuk digital seperti NFT atau filter Instagram.
Dari sisi warna, eksplorasi menjadi kunci. Warna pastel yang lembut, neon yang mencolok, atau earth tone yang minimalis bisa disandingkan dengan motif klasik untuk menciptakan tampilan modern tanpa kehilangan ruh tradisionalnya.
“Gen Z itu tidak anti tradisi,” ujar Putri, “mereka hanya ingin tradisi hadir dalam gaya hidup mereka.”
Kolaborasi dan Co-Creation: Jalan Menyentuh Generasi Baru
Bagi Putri, salah satu strategi agar batik kembali dekat dengan anak muda adalah kolaborasi lintas bidang. Ia mendorong keterlibatan mahasiswa, konten kreator, desainer muda, dan influencer dalam proses kreatif batik. Workshop desain batik digital dan lomba ilustrasi motif menjadi sarana efektif untuk menarik partisipasi mereka.
Kolaborasi ini bukan hanya memperluas pasar, tetapi juga membuka jalan regenerasi pengrajin. “Kita tidak hanya melestarikan kain batiknya, tapi juga pengrajinnya,” tegas Putri. Melalui pendekatan ini, batik tak lagi dipandang sebagai sesuatu yang kuno, tetapi sebagai kanvas ekspresi masa kini.
Edukasi yang Relevan dan Visual
Salah satu tantangan terbesar adalah edukasi tentang batik. Di era konten singkat, edukasi tradisional seperti seminar atau buku tidak cukup. Putri menekankan pentingnya edukasi yang ringan, visual, dan dekat dengan keseharian anak muda.
Ia mencontohkan video pendek tentang proses membatik, reels Instagram yang menjelaskan filosofi motif, hingga AR filter yang memungkinkan pengguna “mencoba” batik secara virtual.
“Cerita adalah kunci,” ujar Putri. “Semakin jujur dan detail narasi di balik kain, semakin kuat keterikatan emosional yang muncul.”
Batik sebagai Medium Ekspresi Sosial
Batik kini tak hanya menjadi busana, tetapi juga media ekspresi sosial. Putri mencontohkan fenomena “Pink Brave dan Green Hero” yang sempat viral di media sosial, di mana warna menjadi simbol perlawanan dan solidaritas. Ia memanfaatkan momentum tersebut dengan menciptakan desain bermotif Ringsing berwarna hijau, yang melambangkan penyembuhan dan keberanian.
“Batik bisa bicara tentang banyak hal—tentang cinta, kritik sosial, bahkan harapan,” katanya. “Dan Gen Z adalah generasi yang berani mengekspresikannya.”
Menemukan Titik Temu Lintas Generasi
Diskusi webinar menjadi ajang refleksi bersama antara pengrajin senior dan desainer muda. Seorang peserta menanyakan apakah batik modern masih perlu memiliki filosofi seperti batik klasik. Putri menjawab bahwa filosofi tetap penting, namun dapat muncul dari pengalaman pribadi desainer.
Ia mencontohkan motif “Ibu dan Anak” yang ia buat setelah menjadi seorang ibu, sebagai bentuk refleksi kehidupan modern. Filosofi tak lagi harus berasal dari legenda atau mitologi, tetapi bisa lahir dari keseharian manusia masa kini.
Diskusi juga menyoroti tantangan pengrajin senior yang enggan beralih ke desain baru. Solusinya, menurut Putri, adalah regenerasi pengrajin muda yang berpikiran terbuka, dengan bimbingan para maestro agar nilai-nilai klasik tetap terjaga.
Batik Printing vs Batik Asli: Mendidik, Bukan Menyalahkan
Isu batik printing turut dibahas dalam sesi tanya jawab. Putri menegaskan bahwa printing tidak perlu dimusuhi, asalkan ada edukasi tentang perbedaan nilai dan prosesnya.
“Anak muda mungkin baru bisa beli batik printing. Tapi kalau mereka tahu proses batik tulis itu seperti apa, mereka akan menghargainya lebih dalam,” ujarnya. Pendekatan edukatif ini penting agar apresiasi terhadap batik asli tumbuh secara alami, bukan karena paksaan.
Apa yang Membuat Gen Z Tertarik Membeli Batik
Menurut Putri, faktor visual, warna, dan fungsi praktis menjadi penentu utama. Produk batik dengan harga Rp150.000–Rp300.000 seperti topi, tote bag, atau aksesori kecil paling diminati karena mudah digunakan dan tampak stylish.
“Gen Z itu mindful buyer,” katanya. “Mereka beli kalau tahu barangnya fungsional, keren, dan punya makna.”
Selain itu, fenomena FOMO (fear of missing out) juga mendorong tren positif: ketika batik tampil keren di media sosial, anak muda justru bangga ikut memakainya.
Pelestarian Melalui Inovasi
Di akhir sesi, moderator menegaskan kembali bahwa pelestarian batik tidak berarti menolak modernitas, tetapi justru memastikan nilai-nilai budaya tetap hidup di dunia yang terus berubah.
Generasi senior diharapkan lebih aktif menggunakan media digital untuk promosi dan edukasi, sementara generasi muda diajak memahami nilai di balik setiap motif dan proses. Keduanya harus bertemu di tengah — di antara tradisi dan tren, nilai dan gaya hidup, proses dan ekspresi.
Batik untuk Masa Kini dan Masa Depan
Webinar “Batik, Tradisi Menjawab Tren” menegaskan bahwa masa depan batik ada di tangan kolaborasi lintas generasi. Dengan keterbukaan, kreativitas, dan teknologi, batik dapat terus berevolusi tanpa kehilangan jati diri.
Sebagaimana disimpulkan oleh Putri Urfanny:
“Tradisi tidak harus kaku. Ia bisa dinamis, relevan, bahkan trendsetting. Selama ada cinta di setiap goresannya, batik akan selalu hidup.”

