
25 Penerima beasiswa Australia Award didapuk untuk mengikuti kursus singkat di bidang fashion dan tekstil yang digelar oleh School of Fashion Queensland University of Technology (QUT). Para penerima beasiswa tersebut berasal dari 25 pelaku industri fashion asal Indonesia yang turut dalam program #fashiondiplomacy.
Program ini ditujukan untuk menggagas serta menjalin hubungan erat antara Indonesia dan Australia di bidang mode dan fashion. “Indonesia memiliki kekayaan di bidang tekstil dan kerajinan tangan yang tidak terlalu banyak ditemukan di Australia,” ujar Carla Van Lunn, dosen dari School of Fashion QUT. Carla menilai ada persamaan mendasar antara fashion di Indonesia dan Australia.
“Menurut saya, cuaca di Australia, terutama di negara bagian Queensland lebih hangat dibandingkan di Eropa. Juga kota-kota besar yang berada di garis pantai sehingga banyak menggunakan bahan katun dan bercorak, sama dengan cuaca tropis di Indonesia,” tambahnya.
Program ini juga sekaligus ditujukan untuk pengamatan pangsa pasar di Australia agar desainer Indonesia dapat mempelajari karakteristik serta gaya hidup busana Australia. “Kebanyakan orang di Australia menyukai potongan yang sederhana, modern, dengan corak yang tidak terlalu ramai, juga lebih memperlihatkan lekuk atau bagian tubuh, lain dengan di Indonesia yang lebih tertutup dan santun,” jelas Carla.
Norma Moi, salah satu perancang busana yang turut dalam kegiatan ini terilhami dengan peluang busana santun ala muslim dapat menembus pasar Australia.
“Hingga saat ini kita sudah mempelajari soal market research, menganalisis seperti apa pangsa pasar di Australia, kami juga mendapat kuliah mengenai bisnis fashion,” kata Norma kepada Australia Plus.
Menurutnya, Indonesia menjadi gudang bagi busana santun atau Muslim, tetapi sayangnya masih sedikit lambat untuk bisa masuk ke pasaran internasional. “Untuk bisa masuk ke pasar internasional masih terbatas, padahal industri busana Muslim di Indonesia sangat booming,” jelasnya. “Setiap negara memiliki regulasi yang berbeda dan pengawasan kualitas yang juga ketat.”
“Di dalam negeri pun kami masih terbentur dengan manufaktur, tidak banyak yang bersedia memproduksi dalam jumlah sedikit, kebanyakan hanya mau untuk partai besar. Sementara desainer masih termasuk bisnis rumahan dengan produksi yang sedikit. Sedikit manufaktur yang bersedia dan kualitasnya pun tidak terlalu bagus,” tambah Norma.
Peserta lainnya adalah Lenny Agustin, desainer yang dikenal dengan desainnya yang banyak menggunakan unsur tradisional.
“Kesulitan desainer fashion di Indonesia itu adalah masih bersifat one man show,” kata Lenny. “Mulai dari yang mendesain, menjual, memasarkan, hingga pengelolaan ini yang harus diperbaiki karena tugas seorang desainer harus lebih fokus pada ide dan kreativitas.”
Menurutnya juga tidak semua produk-produk fashion dan aksesoris yang unik dan tradisional dari Indonesia bisa diterima di pasaran internasional. “Kita memang memiliki bahan dan kerajinan yang kaya, tetapi harus disesuaikan dengan pasar dan selera di Australia dan negara-negara lainnya.”
Diharapkan melalui program ini, desainer asal Indonesia dan Australia bisa berkolaborasi dari segi desain dan bahan. Setelah sepekan berada di Brisbane, para peserta kemudian akan ke Sydney untuk menghadiri Australia Fashion Week.
Sumber: Australiaplus.com

