Bandung – Sindikasi Media Network (SMN) melakukan kunjungan ke Workshop Rumah Batik Komar di kawasan Cigadung, Kota Bandung, Jawa Barat, sebagai bagian dari upaya memperluas wawasan mengenai perkembangan industri batik nasional sekaligus memperkuat jejaring pemberitaan budaya dan ekonomi kreatif.
Kunjungan tersebut disambut langsung oleh pendiri Rumah Batik Komar, Dr. H. Komarudin Kudiya, yang memaparkan perjalanan lembaga yang didirikannya sejak 1998. Menurut Komarudin, Rumah Batik Komar dibangun tidak hanya sebagai sentra produksi batik, tetapi juga sebagai pusat pendidikan, penelitian, inovasi, dokumentasi, dan pelestarian batik Indonesia.
Dalam sesi workshop, Komarudin menyoroti masih rendahnya pemahaman masyarakat terhadap batik. Ia mengatakan banyak orang hanya melihat keindahan motif, tanpa memahami proses, filosofi, dan teknik pembuatannya. Ia juga mengingatkan bahwa kain bermotif batik hasil printing tidak dapat disamakan dengan batik yang dibuat melalui proses perintangan warna menggunakan malam panas.
“Orang sering melihat batik hanya dari tampilannya. Padahal batik memiliki proses, ekspresi, dan nilai budaya yang tidak dimiliki kain bermotif batik hasil cetak,” ujarnya.
Komarudin menegaskan Indonesia tidak perlu khawatir terhadap berbagai klaim budaya dari negara lain selama mampu menjaga kualitas, inovasi, dan regenerasi pembatik. Menurutnya, penguasaan pengetahuan dan teknologi batik justru menjadi modal utama untuk memperkuat daya saing batik Indonesia di tingkat global.
Dalam kunjungan tersebut, peserta juga diperkenalkan pada berbagai inovasi teknologi yang dikembangkan Rumah Batik Komar. Salah satunya adalah Batik Pendulum, alat yang memanfaatkan gerakan ayunan untuk mengalirkan malam panas sehingga menghasilkan pola dan garis yang khas. Selain itu, Rumah Batik Komar juga mengembangkan berbagai perangkat pencantingan, meja kerja, hingga peralatan pendukung proses produksi yang bertujuan meningkatkan efisiensi tanpa menghilangkan sentuhan tangan pembatik.
Komarudin menegaskan teknologi seharusnya menjadi alat bantu, bukan pengganti keterampilan manusia. Selama proses pembatikan masih menggunakan lilin panas sebagai perintang warna dan dikerjakan melalui teknik membatik, inovasi tersebut tetap berada dalam koridor pelestarian batik.
Selain menyaksikan proses produksi batik tulis dan batik cap, rombongan SMN juga melihat koleksi lebih dari 10.000 desain batik, sekitar 4.000 canting cap tembaga, serta berbagai buku hasil penelitian batik yang telah diterbitkan Komarudin. Rumah Batik Komar juga telah mengantongi empat paten industri yang berkaitan dengan pengembangan alat bantu membatik.
Melalui program Eduwisata Batik, Rumah Batik Komar selama ini membuka kesempatan bagi pelajar, mahasiswa, akademisi, pelaku UMKM, hingga masyarakat umum untuk belajar sejarah, filosofi, teknik membatik, serta pengembangan usaha batik. Program pelatihan tersebut telah dilaksanakan di berbagai daerah, mulai dari Aceh hingga Papua, sebagai bagian dari upaya memperluas regenerasi pembatik Indonesia.
Kunjungan Sindikasi Media Network diharapkan menjadi langkah awal kolaborasi dalam memperkuat publikasi mengenai batik Indonesia. Melalui pemberitaan yang edukatif, media diharapkan dapat meningkatkan literasi masyarakat tentang perbedaan batik autentik dan tekstil bermotif batik sekaligus mendorong pelestarian warisan budaya Indonesia melalui inovasi, dokumentasi, dan edukasi berkelanjutan.

