Bandung – Inovasi pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam pengembangan desain batik menjadi salah satu sorotan dalam Sunda Karsa Festival – Karya Kreatif Jawa Barat (KKJB) 2026. Mengusung tema “Memelihara Ekosistem Ekonomi Budaya Digital dan Keseimbangan Ekologi Menuju Jawa Barat Istimewa”, forum tersebut menghadirkan berbagai gagasan mengenai transformasi ekonomi kreatif berbasis budaya.

Salah satu materi yang mendapat perhatian dipresentasikan oleh pemilik Batik Komar, Komarudin Kudiya, melalui karya batik bertajuk “Kepak Sayap Burung Rajawali”. Dalam paparannya, Komarudin menunjukkan bagaimana teknologi AI generatif dapat dimanfaatkan sebagai alat eksplorasi visual tanpa menghilangkan peran utama perajin batik sebagai pencipta karya.
Menurut Komarudin, karya “Kepak Sayap Burung Rajawali” lahir dari pertemuan antara imajinasi, teknologi digital, dan warisan keterampilan membatik yang telah diwariskan lintas generasi. AI generatif dimanfaatkan pada tahap awal untuk menghasilkan berbagai alternatif sketsa berupa bentuk sayap burung rajawali yang gagah, ritme gerak yang dinamis, hingga simbol keberanian yang menjadi karakter utama desain.
“Teknologi hadir sebagai pemantik ide. AI membuka kemungkinan visual yang lebih luas sehingga membantu menemukan komposisi baru bagi desain batik tulis yang tetap berkarakter Indonesia,” ujar Komarudin dalam presentasinya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa kecanggihan teknologi tidak dapat menggantikan nilai utama batik tulis, yaitu pengalaman empiris atau tacit experience yang dimiliki para perajin.
Komarudin menjelaskan bahwa pengalaman tersebut tersimpan dalam kepekaan tangan, ketelitian mata, penguasaan canting, pengendalian malam panas, hingga kesabaran saat membentuk setiap tarikan garis di atas kain. Proses inilah yang mengubah sketsa digital menjadi karya batik tulis bernilai seni dan ekonomi tinggi.
Menurutnya, AI hanya menghasilkan kemungkinan bentuk, sedangkan kualitas artistik batik tetap ditentukan oleh keterampilan manusia.
“Ruh batik asli hidup melalui tangan perajin. Teknologi membuka jalan, tetapi jiwa pembatiklah yang menyempurnakan keindahannya,” katanya.
Ia menilai pendekatan tersebut menjadi contoh bagaimana transformasi digital dapat berjalan berdampingan dengan pelestarian budaya. Teknologi bukan diposisikan sebagai pengganti tradisi, melainkan sebagai instrumen yang memperkaya proses kreatif dan memperluas ruang inovasi.

Karya “Kepak Sayap Burung Rajawali” juga menggambarkan filosofi keberanian, kebebasan, serta semangat untuk terus terbang tinggi menghadapi perubahan zaman. Nilai tersebut dinilai sejalan dengan upaya membangun ekosistem ekonomi budaya digital yang tetap berpijak pada identitas lokal.
Melalui forum Sunda Karsa Festival – Karya Kreatif Jawa Barat 2026, Komarudin berharap para pelaku industri batik semakin terbuka memanfaatkan perkembangan teknologi secara bijaksana. Menurutnya, kolaborasi antara AI dan keterampilan tradisional dapat menghasilkan karya-karya baru yang inovatif sekaligus memperkuat daya saing batik Indonesia di pasar global.
Presentasi tersebut sekaligus menjadi pesan bahwa masa depan batik tidak terletak pada pertentangan antara teknologi dan tradisi, melainkan pada kemampuan keduanya untuk saling melengkapi. Ketika inovasi digital dipadukan dengan pengalaman, kepekaan, dan nilai budaya yang dimiliki para perajin, batik Indonesia akan tetap memiliki identitas yang kuat sekaligus relevan di era ekonomi kreatif berbasis digital.

